3 Ciri Mertua Menyebalkan yang Bisa Bikin Rumah Tangga Berantakan, Jangan Sampai Kamu Mengalaminya!

Kenali Tanda-Tanda Mertua Toxic yang Sering Bikin Menantu Tertekan

3 Ciri Mertua Menyebalkan yang Bisa Bikin Rumah Tangga Berantakan, Jangan Sampai Kamu Mengalaminya!
Seorang perempuan terlihat kesal saat duduk bersama suaminya dan ibu mertuanya yang tampak menggurui, menggambarkan konflik rumah tangga karena mertua toxic. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Memiliki mertua yang asyik dan suportif pasti jadi impian semua pasangan. Gimana enggak? Punya bapak dan ibu mertua yang bisa jadi tempat cerita, memberi saran tanpa memaksa, dan selalu ada di saat susah itu priceless banget.

Tapi, realitanya nggak selalu semanis itu. Di luar sana, banyak juga cerita mertua yang bikin pusing tujuh keliling karena terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya.

Nah, biar kamu bisa lebih waspada (atau jangan-jangan kamu sudah mengalaminya?), yuk kenali tanda-tanda mertua menyebalkan yang kadang bikin rumah tangga jadi berantakan. Bisa juga nih buat bekal supaya kamu tidak jadi mertua yang "menjengkelkan" nanti.

  1. Dikit-dikit Ikut Campur, Semua Mau Diatur

Menurut psikolog klinis Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi. dari lembaga Jaga Batin Bandung, memberikan saran itu wajar-wajar aja. Tapi jadi toxic kalau sudah nyuruh-nyuruh dan itu harus dituruti.

Misalnya, mertua yang maksa menantu buat makan makanan tertentu selama hamil karena katanya bisa nentuin jenis kelamin bayi. Padahal si menantu nggak suka makanan itu, atau bahkan punya alergi.

Ini bukan cuma soal makanan, lho. Ada juga mertua yang terlalu ngatur cara ngasuh anak atau ngurus rumah tangga, sampai ngebabat abis prinsip yang sudah dibangun pasangan muda.

Kalau semua urusan selalu dikomentari dan diatur, lama-lama bisa ganggu kesehatan mental menantu, apalagi yang lagi hamil dan sensi. Kebayang kan, punya mertua kayak gitu tiap hari?

  1. Hobi Bandingin Menantu, Mulutnya Selalu Nyerocos

Satu lagi yang bikin sakit hati dan bikin hubungan makin renggang, apalagi kalau bukan suka membandingkan!? Entah dibandingin sama menantu lain, sama saudara, atau bahkan sama diri si mertua waktu muda dulu.

Kata Bu Adelia, kejadian ini sering terjadi, terutama ketika menantu lagi hamil. Misalnya, ibu mertua yang bilang, "Dulu Mama hamil nggak pernah ngeluh lho," padahal kondisi setiap kehamilan itu beda-beda.

Ada yang kuat fisiknya tapi gampang stres, ada yang lemah fisik tapi kuat mental. Semua orang unik, dan suka dibandingin tuh rasanya nyesek banget!

Apalagi kalau perbandingan itu bikin menantu merasa nggak cukup baik. Ujung-ujungnya bisa berpengaruh ke mental health dan bikin hubungan antara menantu dan mertua makin jauh.

  1. Masih Suka Ngatur Anak Sendiri, Lupa Kalau Sudah Nikah

Nah, ini dia drama klasik yang sering jadi sumber konflik: mertua (biasanya ibu) masih terus mengatur anaknya yang sudah menikah. Terutama anak laki-laki. Akibatnya? Suami jadi kayak dikendaliin ibunya sendiri, bukan jadi pasangan yang bisa diajak kerja sama.

Kalau istri sudah capek hati tapi suami malah belain ibunya, ya jelas konflik makin besar. Apalagi kalau ibu mertua playing victim dan ngeluh ke anaknya seolah dia yang paling tersakiti. Duh, padahal si istri cuma pengen didengar dan dimengerti.

Yang bikin makin runyam, ini sering kejadian ketika istri lagi hamil, padahal suami harusnya jadi support system utama. Nggak cuma ibunya yang punya cucu, tapi dia juga bakal jadi ayah!

Jadi, Gimana Biar Nggak Jadi Mertua yang Nyebelin?

Kalau kamu suatu hari jadi mertua, atau sekarang sudah punya menantu, cobalah untuk introspeksi. Bertanya pada diri sendiri: apakah aku terlalu ikut campur? Apakah aku suka membandingkan? Apakah aku masih mengatur anakku padahal dia sudah berkeluarga?

Penting banget buat memberi ruang dan kepercayaan ke anak dan menantu untuk belajar sendiri. Nggak semua hal harus dikomentari atau diintervensi. Justru dengan jadi support system yang bijak tanpa menghakimi, hubungan bakal lebih harmonis dan sehat.

Punya mertua menyebalkan memang tidak mudah, tapi memahami ciri-cirinya bisa jadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan keluarga. Yuk, sama-sama belajar jadi mertua yang pengertian dan suportif, demi keharmonisan rumah tangga anak-anak kita nanti!

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE