Gereja di Depok Ditolak Warga, GBKP Buka Suara dan Janji Perbaikan Komunikasi

Gereja di Depok Ditolak Warga, GBKP Buka Suara dan Janji Perbaikan Komunikasi
Potret penolakan pembangunan gereja di Depok. - (Dok. X @ch_chotimah2).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Warga Depok tolak gereja, GBKP angkat bicara dan janji perbaiki komunikasi agar tidak salah paham.

Penolakan pembangunan gereja di Depok tengah jadi perbincangan hangat. Sejumlah warga keberatan dengan kehadiran Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di lingkungan mereka.

Isu ini pun viral di media sosial dan menuai berbagai reaksi.

Pihak Gereja GBKP Runggun Studio Alam Depok berjanji akan memperbaiki komunikasi dengan warga sekitar demi kelancaran rencana pembangunan gereja di Jalan Palautan Eres, Kalibaru, Cilodong, Depok.

Komitmen ini muncul usai mediasi yang difasilitasi Kemenag Depok pada Senin (7/7/2025), dihadiri oleh pihak gereja dan perwakilan warga RT 02 dan RT 05.

Ketua Marturia GBKP, Zetsplayrs Tarigan, mengatakan pertemuan ini memang belum menghasilkan kesepakatan teknis, tapi jadi langkah awal untuk membuka dialog agar warga bisa lebih tenang dan paham niat baik pembangunan gereja.

Zetsplayrs juga menegaskan, soal perizinan sudah clear dan sah secara hukum. Tinggal bagaimana sosialisasi ke warga bisa diperbaiki agar hubungan lebih baik.

Kepala Kemenag Depok, Enjat Mujiat, menegaskan bahwa inti masalah bukan soal izin, tapi soal rasa ketidaknyamanan warga yang merasa kurang diajak bicara oleh pihak gereja.

Jika komunikasi bisa diperbaiki, Enjat optimis pembangunan bisa lanjut dalam dua bulan ke depan.

Sebelumnya, warga Kalibaru memang sempat menolak rencana pembangunan gereja ini.

Penolakan memuncak saat peletakan batu pertama pada Sabtu (6/7/2025), disusul protes warga dan spanduk-spanduk penolakan yang dipasang di sekitar lokasi.

Ironisnya, spanduk itu berdiri tepat di samping plang resmi IMB lengkap dengan peringatan hukumnya.

Semoga, ke depannya komunikasi antara pihak gereja dan warga bisa lebih adem, agar rencana pembangunan berjalan lancar tanpa gesekan.

Semua pasti bisa diselesaikan secara baik-baik asal dikomunikasikan dan warga saling mendengarkan.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE