Misi Athena di Bulan Gagal Total Akibat Pendaratan Miring
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pesawat luar angkasa swasta Athena, yang mendarat di dekat Kutub Selatan Bulan pada Kamis (22/2), dipastikan tidak dapat menyelesaikan misinya akibat posisi pendaratan yang miring.
Dilansir dari BBC International, perusahaan Intuitive Machines, yang mengembangkan wahana tersebut bekerja sama dengan NASA, mengungkapkan bahwa posisi panel surya yang tidak optimal serta suhu ekstrem di lokasi pendaratan membuat Athena kehabisan daya lebih cepat dari yang diharapkan.
Pada awalnya, misi IM-2 yang membawa Athena disambut sebagai terobosan bersejarah. Wahana ini berhasil mencapai Mons Mouton, sebuah gunung datar sekitar 160 km dari Kutub Selatan Bulan, menjadikannya pendaratan paling selatan yang pernah dilakukan manusia.
Namun, setelah konfirmasi pendaratan, muncul kabar mengejutkan, Athena ternyata mendarat dalam posisi miring, seperti halnya pesawat Intuitive Machines sebelumnya yang mengalami kegagalan serupa tahun lalu.
"Dengan posisi matahari, orientasi panel surya, dan suhu ekstrem di kawah, Athena tidak akan bisa mengisi ulang daya," ungkap perusahaan dalam pernyataan resminya.
NASA dan Intuitive Machines berharap misi ini bisa berlangsung selama 10 hari untuk mencari jejak es air, namun kendala teknis membuat sebagian besar instrumen tidak dapat digunakan.
Kondisi pendaratan yang tidak stabil membuat instrumen utama Athena hampir mustahil beroperasi penuh. Beberapa teknologi canggih yang seharusnya diuji, termasuk bor penembus permukaan Bulan, robot penjelajah hopper, dan antena pertama di Bulan, kini tidak bisa diandalkan.
"Jelas bahwa misi ini hanya dapat mencapai sebagian kecil dari tujuan ilmiahnya," kata Dr. Simeon Barber, ilmuwan Bulan dari Open University.
Meskipun begitu, ada kemungkinan bahwa sebagian instrumen sempat diaktifkan sesaat setelah pendaratan, termasuk bor serta spektrometer massa yang mampu mengidentifikasi unsur kimia dalam gas yang dilepaskan dari tanah Bulan. Data yang dikumpulkan, meskipun terbatas, tetap bernilai bagi eksplorasi luar angkasa di masa depan.
Kegagalan Athena menyoroti tantangan berat yang dihadapi misi eksplorasi di Bulan, terutama di wilayah dekat kutub yang memiliki kondisi pencahayaan sulit dan hambatan komunikasi radio.
Kontras dengan kegagalan IM-2, perusahaan luar angkasa swasta lainnya, Firefly Aerospace, berhasil mendaratkan pesawatnya di lokasi berbeda di Bulan pada Minggu sebelumnya.
NASA tetap berkomitmen untuk mengeksplorasi Bulan sebagai bagian dari program Artemis, yang menargetkan pengiriman empat astronaut ke sana pada tahun 2027. Misi ini menjadi batu loncatan menuju tujuan jangka panjang: membawa manusia ke Mars.
Namun, pendekatan NASA dalam bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menekan biaya eksplorasi juga berarti menerima risiko kegagalan yang lebih tinggi.
"Dalam menghadapi kemunduran, dibutuhkan keteguhan dan visi jangka panjang," ujar Dr. Barber. Ia memperingatkan bahwa reaksi berlebihan terhadap kegagalan bisa menyebabkan lebih banyak hambatan dan keterlambatan dalam eksplorasi luar angkasa.
Meskipun Athena gagal mencapai tujuannya, misi ini tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang umat manusia dalam memahami dan menjelajahi Bulan.
0 Comments





- Penelitian Ungkap Kaitan Antara Peradangan Otak, Virus Herpes, dan Risiko Demensia
- Chappell Roan Siap Rilis Single "The Giver" dengan Sentuhan Country yang Segar
- Viral Video Warga Hadang Kereta Api di Batubara, Ini Penyebabnya
- Marcus Rashford Kembali ke Skuad Timnas Inggris di Era Thomas Tuchel
- Inzaghi Hadapi Krisis Cedera Jelang Duel Melawan Feyenoord di Liga Champions
- Fans Tiongkok Cemas Setelah Indonesia Kalahkan Bahrain, Laga di Jakarta Jadi Penentuan
- Dominic Fike Kembali di Euphoria Musim 3, HBO Hadirkan Wajah Baru
- Penerbit Besar Ternama Gugat Negara Bagian Idaho atas UU Larangan Buku
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!