Hujan Abu Vulkanik Sampai Kapan? Ini Penjelasan BMKG

Hujan Abu Vulkanik Sampai Kapan? Ini Penjelasan BMKG
- (Dok. Suara Pena).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai mencari informasi mengenai perkiraan kapan sebaran abu vulkanik akan berakhir.

Pencarian terkait "perkiraan abu vulkanik sampai kapan" bahkan mengalami peningkatan di Google Trends hingga lebih dari 120 persen. Warganet juga ramai mencari informasi mengenai "abu vulkanik Gunung Krakatau sudah sampai mana".

Menanggapi hal tersebut, Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG Achadi Subarkah Raharjo menjelaskan bahwa lama dan luasnya sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi erupsi serta atmosfer.

Menurut Aat, setidaknya ada tiga faktor utama yang menentukan persebaran abu vulkanik. Faktor tersebut meliputi ketinggian kolom erupsi, arah dan kecepatan angin pada setiap lapisan ketinggian, serta ukuran partikel material yang terlontar ke atmosfer.

Partikel abu berukuran kecil yang mencapai lapisan atmosfer lebih tinggi berpotensi bertahan lebih lama di udara. Jika pada ketinggian tersebut angin bertiup kencang, partikel juga dapat terbawa hingga jarak yang lebih jauh dari sumber erupsi.

"Partikel yang berukuran kecil dan terlontar di udara pada lapisan atas yang lebih tinggi, sangat mungkin bertahan berhari-hari di atmosfer. Persebarannya dapat lebih jauh apabila kecepatan angin pada ketinggian tersebut bertiup kencang," jelas Aat, Senin (7/9/2026).

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Arah Timur

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan BMKG, sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau bergerak ke arah timur. Persebaran tersebut bahkan telah mendekati ruang udara di wilayah Jawa Tengah.

Meski demikian, keberadaan partikel abu yang terbawa di atmosfer tidak serta-merta berarti material tersebut telah jatuh ke permukaan di seluruh wilayah yang dilalui.

Aat mengatakan, hasil pengujian menggunakan paper test di Bandara Kertajati hingga saat ini masih menunjukkan hasil negatif untuk partikel abu vulkanik yang jatuh ke daratan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebaran abu di atmosfer perlu dibedakan dengan abu vulkanik yang benar-benar telah mencapai permukaan tanah.

Erupsi 25 Jam Membuat Konsentrasi Partikel Bertambah

Mengenai kemungkinan hujan abu berlangsung lebih lama, BMKG belum dapat memastikan kapan fenomena tersebut akan sepenuhnya berakhir. Hal itu karena kondisi sangat bergantung pada perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan dinamika atmosfer.

Aat menjelaskan, erupsi yang berlangsung secara menerus selama sekitar 25 jam sebelumnya menyebabkan konsentrasi partikel vulkanik di atmosfer terus bertambah.

BMKG berharap aktivitas erupsi segera berhenti sehingga tidak ada tambahan material vulkanik dalam jumlah besar ke atmosfer. Setelah itu, partikel yang sudah berada di udara diharapkan dapat lebih cepat turun ke permukaan akibat hujan atau terbawa menjauh dari wilayah yang berpotensi terdampak.

"Kita semua berharap erupsi segera berhenti dan persebaran atmosfer segera dipercepat turunnya ke darat oleh adanya hujan atau menjauh dari wilayah yang berdampak pada masyarakat dan sektor lainnya," kata Aat.

Dengan demikian, belum ada kepastian waktu mengenai sampai kapan hujan abu vulkanik akan berlangsung. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait, terutama apabila terjadi perubahan arah angin maupun aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE