Internet Semakin Murah, Tapi Pengguna Terbanyak Justru dari Kalangan Berpendapatan Rendah, Kenapa?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah derasnya transformasi digital di Indonesia, harga layanan internet dinilai semakin terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat.
Dilansir dari Antara, hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, saat memaparkan hasil Survei Profil Internet Indonesia 2025, Rabu (6/8) di Jakarta Pusat.
"Kalau dibilang harga internet di Indonesia terjangkau atau tidak? Ya menurut saya sudah cukup terjangkau. Apalagi di sisi broadband, harganya hampir terendah. Mau seberapa murah lagi?" kata Arif.
Menurutnya, keberagaman paket dan layanan internet saat ini memungkinkan semua kalangan untuk mengakses jaringan digital dengan lebih mudah, asalkan infrastruktur tersedia. "Semua kalangan hampir mampu menggunakan internet pada saat ini ketika memang jaringannya sudah tersedia," tambahnya.
Survei yang melibatkan 8.700 responden dari seluruh provinsi di Indonesia itu menunjukkan bahwa penetrasi internet terbesar memang masih dimiliki oleh kelompok berpenghasilan tinggi, yakni di atas Rp6 juta per bulan, dengan persentase 91,47 persen.
Namun, menariknya, dari sisi kontribusi terhadap total pengguna internet nasional, kelompok berpendapatan menengah ke bawah justru mendominasi. Misalnya:
-
Masyarakat berpenghasilan Rp1 juta-Rp1,5 juta menyumbang 20,97 persen dari total pengguna internet.
-
Disusul oleh kelompok Rp2,5 juta-Rp3,5 juta (19,04 persen)
-
Dan masyarakat dengan penghasilan di bawah Rp1 juta (17,80 persen).
Sementara itu, kelompok dengan pendapatan di atas Rp6 juta, yang memiliki tingkat penetrasi tertinggi, hanya menyumbang 1,79 persen dari total pengguna internet.
Meskipun harga internet makin murah dan adopsi digital meningkat, Arif menekankan bahwa ketersediaan infrastruktur jaringan masih menjadi tantangan utama, terutama di wilayah terpencil. Tanpa jaringan yang memadai, harga terjangkau sekalipun tidak akan banyak berarti.
Survei ini sendiri dilakukan oleh APJII pada 10 April hingga 16 Juni 2025, dengan metode wawancara terhadap warga negara Indonesia berusia minimal 13 tahun.
Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital Indonesia tidak hanya menyasar kalangan atas, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih rendah. Namun, ke depan, tantangan pemerintah dan penyedia jasa adalah meningkatkan kualitas layanan dan memperluas jangkauan infrastruktur, agar inklusi digital benar-benar merata di seluruh Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!