Mengintip Buku Kuno Dirantai di Perpustakaan Katedral Wells
Perpustakaan berantai (Chained Library) di Katedral Wells yang dibangun di atas East Cloister telah berdiri sejak 1450-an, jadi saksi bisu perjalanan sejarah dan pengetahuan manusia selama berabad-abad.
Mengutip dari website resmi Wells Cathedral, kini perpustakaan tersebut menjadi salah satu dari empat perpustakaan abad pertengahan terbesar di Inggris dengan koleksi buku langka dan berharga yang disimpan dengan cara tak biasa, yakni dirantai.
"Buku-buku pada masa itu dibuat dengan tangan menggunakan tinta berkualitas tinggi dan daun emas. Proses pembuatannya bisa memakan waktu yang lama, menjadikannya sumber daya yang sangat bernilai," ujar seorang ahli dari Wells Cathedral, Jolene Stevens, dikutip dari BBC, Selasa, (7/1).
Awalnya, buku-buku ini disimpan di dalam peti besar yang terkunci, namun metode tersebut dianggap tidak praktis, terutama bagi mereka yang ingin membaca buku tanpa harus memindahkan seluruh peti.
"Dari situ, konsep perpustakaan berkembang, termasuk pembuatan rak buku besar, atau 'book presses' seperti yang kita kenal sekarang," jelas Stevens.
Perpustakaan berantai menyimpan sekitar 2.800 volume buku yang dikumpulkan sejak abad ke-16 hingga ke-18, mencakup berbagai bidang seperti teologi, ilmu pengetahuan, kedokteran, sejarah, bahasa, dan minat intelektual dari para kanon Katedral Wells.
Beberapa koleksi berharga dalam perpustakaan itu diantaranya buku cetak tertua berjudul Pliny Natulais Historiae (1472), atlas dunia lengkap pertama karya Abraham Ortelius (1606), dan karya Aristoteles yang diterbitkan di Venesia pada 1487 -lengkap dengan tanda tangan dan catatannya.
"Buku ini diterbitkan hanya beberapa tahun setelah mesin cetak mulai berkembang, namun kualitasnya luar biasa. Tidak ada kesalahan yang ditemukan dalam cetakan ini, dan ilustrasi di dalamnya masih sangat memukau," tambah Stevens.
Selain menjadi tempat pembelajaran, perpustakaan ini juga menjadi lokasi favorit untuk mengambil foto, berkat keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang tak ternilai meski telah berdiri selama ratusan tahun.
"Kami senang bahwa perpustakaan ini tetap menjadi tempat penelitian dan pelestarian warisan sejarah," pungkas Stevens.
0 Comments





- Gara-Gara Challenge TikTok, Bocah 7 Tahun Koma dengan Luka Bakar Parah!
- Jadi Salah Satu Film Horor Terlaris Dunia, ‘Nosferatu’ Bakal Tayang di Indonesia Februari 2025
- Hari Ini Pagar Laut Tangerang Dibongkar, KKP Siapkan 400 Personel
- Akhirnya Comeback! BLACKPINK Umumkan World Tour 2025
- Kulit Sensitif atau Sensitisasi? Kenali Penyebab Kulit Sering Bermasalah!
- Buat Fans Heboh di Medsos, Jisoo BLACKPINK Umumkan Comeback Solo
- Keren! Cincin AI Canggih Ini Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat ke Teks
- Rumah Sakit di Inggris Pakai AI Buat Deteksi Kanker Paru dalam Hitungan Detik
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!