Cuaca Makin Nggak Nentu, Musim Kemarau Tapi Hujan Deras? Ini Penjelasan BMKG

Fenomena Hujan Deras di Musim Kemarau 2025, BMKG Sebut Kemarau Basah Jadi Penyebab Utama

Cuaca Makin Nggak Nentu, Musim Kemarau Tapi Hujan Deras? Ini Penjelasan BMKG
Beberapa orang terlihat menggunakan payung di tengah kota yang sedang dituruni hujan. - (Dok. pexels.com).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Biasanya musim kemarau identik dengan cuaca panas dan langit cerah, kan? Tapi belakangan ini, kenyataan malah bikin geleng-geleng kepala! Hujan deras sampai angin kencang masih terus mengguyur sejumlah daerah di Indonesia, padahal kita sudah masuk puncak musim kemarau lho, Gen!

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem ternyata nggak melulu muncul pas musim hujan aja. Dalam tiga hari terakhir, hujan lebat hingga ekstrem tercatat terjadi di beberapa wilayah seperti Maluku (205 mm/hari!), Kalimantan Barat, Jawa Tengah, bahkan Jabodetabek.

Lho, kok bisa sih hujan deras turun di musim kemarau?

Ternyata, ini semua karena dinamika atmosfer yang lagi on fire. BMKG bilang, ada bibit siklon tropis 90S di Samudra Hindia barat daya Bengkulu yang bikin angin melambat alias terjadi konvergensi. Ini memicu terbentuknya awan-awan hujan di sekitar Pulau Jawa dan pesisir barat Sumatra.

Belum lagi ditambah gelombang atmosfer Low-Frequency dan Mixed Rossby-Gravity yang makin memperkuat potensi hujan. Ditambah lagi suhu muka laut (SST) yang masih hangat bikin atmosfer makin basah.

BMKG juga memperingatkan bahwa ada kemungkinan hujan bakal terus turun di wilayah Indonesia tengah sampai timur dalam sepekan ke depan. Jadi, meski kita sudah pakai baju tipis ala musim panas, jangan lupa sedia payung juga ya!

FYI, fenomena ini disebut sebagai kemarau basah alias musim kemarau tapi masih sering hujan. BMKG memprediksi kondisi ini bakal terus berlangsung sampai Agustus 2025. Nah, nanti ketika masuk September sampai November kita bakal masuk musim pancaroba, baru deh musim hujan mulai datang pada Desember 2025 sampai Februari 2026.

Semua ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari suhu laut yang hangat, angin monsun yang aktif, sampai dampak dari La Nina yang sekarang lagi menuju fase netral.

Menghadapi fenomena cuaca ekstrem di musim kemarau 2025, masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.

Meskipun telah memasuki musim kemarau, hujan lebat dan angin kencang masih berpeluang terjadi karena pengaruh dinamika atmosfer global seperti La Nina, suhu laut hangat, hingga bibit siklon tropis.

Jadi, walaupun kalender mengatakan ini musim kemarau, kenyataannya langit masih sering turun hujan. Tetap waspada, pantau info dari BMKG, dan jangan remehkan potensi cuaca ekstrem ya, Gen!

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE