BBM BP-AKR Mulai Tersedia, Shell Masih Belum Capai Kesepakatan dengan Pertamina
JAKARTA, Genvoice.id - Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU swasta mulai menunjukkan perbaikan. BP-AKR memastikan stok BBM mereka kembali normal di berbagai wilayah. Namun, berbeda dengan Shell Indonesia yang hingga kini masih belum mencapai kesepakatan pasokan dengan Pertamina Patra Niaga, sehingga sejumlah produknya belum kembali tersedia.
BP-AKR menyampaikan bahwa suplai BBM seperti BP 92 dan BP Ultimate Diesel telah kembali terdistribusi ke beberapa wilayah, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Purwakarta.
Berdasarkan laporan DetikFinance, sejumlah SPBU BP-AKR yang sempat mengalami kekosongan kini kembali beroperasi normal. Pihak BP-AKR menyebut mereka terus berkoordinasi dengan pemasok untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan tidak terjadi gangguan layanan.
Berbeda dengan BP-AKR, Shell Indonesia menyatakan belum mencapai titik temu dalam pembahasan kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga.
President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian mengungkapkan bahwa proses negosiasi bisnis-ke-bisnis masih berjalan, terutama terkait aspek komersial pengadaan base fuel.
"Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa saat ini belum mencapai kesepakatan business-to-business (B2B) terkait aspek komersial untuk pasokan base fuel dari Pertamina Patra Niaga. Pembahasan B2B terkait pasokan impor base fuel akan terus berlanjut," ujar Ingrid seperti yang dikutip dari DetikFinance.
Akibatnya, sejumlah SPBU Shell masih belum dapat menyediakan jenis BBM seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+. Kondisi ini membuat konsumen di beberapa wilayah harus mencari alternatif lain sementara distribusi Shell belum pulih.
Sebelumnya, pemerintah menawarkan dukungan pasokan BBM kepada perusahaan swasta, termasuk Shell dan BP-AKR, untuk menjaga stabilitas distribusi.
Dari sisi distribusi, situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas pasokan BBM non-subsidi pada operator swasta sangat bergantung pada kesepakatan dengan pemasok besar seperti Pertamina Patra Niaga.
Pertmina juga disebut membuka peluang alokasi kuota impor yang lebih besar agar operator SPBU non-subsidi dapat menjaga ketersediaan stok di masa mendatang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!