Dampak Perang Iran Dan Israel Bagi Indonesia, Kemenkeu Waspadai Harga Minyak Dunia Serta Gangguan Logistik Global

Dampak Perang Iran Dan Israel Bagi Indonesia, Kemenkeu Waspadai Harga Minyak Dunia Serta Gangguan Logistik Global
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Situasi dunia di awal tahun 2026 ini bener-bener lagi nggak baik-baik saja dan berpotensi bikin dompet kita semua kena imbasnya. Ketegangan militer yang melibatkan Iran melawan Israel dan Amerika Serikat ternyata bukan cuma soal adu senjata di Timur Tengah, tapi juga sudah masuk ke ranah perang ekonomi yang sangat serius.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan saat ini lagi dalam mode siaga penuh memantau setiap pergerakan geopolitik yang terjadi, terutama setelah adanya isu penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur urat nadi pengiriman minyak dunia. Hebohnya lagi, gangguan ini diprediksi bisa bikin harga energi melonjak drastis dan mengganggu jalur distribusi barang secara global.

Kemenkeu bener-bener nggak mau kecolongan karena volatilitas pasar keuangan dunia sekarang lagi sangat tinggi dan bisa bikin nilai tukar mata uang ikut goyang. Kalau Selat Hormuz sampai bener-bener nggak bisa dilewati, biaya logistik bakal melambung tinggi dan barang-barang ekspor kita bisa jadi makin mahal atau malah susah dikirim.

Kondisi ini jadi perhatian utama karena dampaknya bisa merembet ke segala sektor, mulai dari harga bensin sampai harga barang kebutuhan pokok di pasar. Makanya, pemerintah sekarang lagi fokus banget menyusun strategi biar badai ekonomi global ini nggak sampai merusak stabilitas dalam negeri yang sudah susah payah dijaga, nih Gen.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, memberikan pernyataan resmi terkait kondisi darurat ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat dinamika global yang semakin kompleks dan penuh risiko ini.

"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional," kata Febrio Kacaribu dilansir dari Antara, Senin.

Nasib Ekspor Indonesia Dan Strategi Amankan APBN

Meskipun dunia lagi kacau, ada kabar yang sedikit melegakan soal fondasi ekonomi kita. Sampai Januari 2026, neraca perdagangan Indonesia ternyata masih kuat dan berhasil surplus sebesar 950 juta dolar AS. Prestasi ini bener-bener gila karena kita sudah berhasil surplus selama 69 bulan berturut-turut. Ekspor kita masih tumbuh sekitar 3,39 persen berkat komoditas andalan kayak minyak kelapa sawit, nikel, besi, baja, sampai barang keren kayak otomotif dan elektronik. Di sisi lain, impor kita juga naik 18,21 persen karena banyak pabrik di dalam negeri yang lagi butuh bahan baku buat produksi.

Namun, pemerintah nggak mau terlena. Kemenkeu memastikan kalau duit negara alias APBN bakal dikelola dengan sangat super hati-hati. Defisit anggaran bakal tetap dijaga di bawah angka 3 persen terhadap PDB supaya ekonomi kita nggak gampang ambruk. Febrio juga bilang kalau pemerintah punya cara buat mitigasi risiko, salah satunya dengan mempercepat hilirisasi sumber daya alam dan mencari mitra dagang baru selain negara yang lagi konflik.

"Pemerintah juga terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Febrio menambahkan. Dengan diversifikasi mitra dagang, Indonesia berharap punya tameng yang kuat kalau seandainya pasar di satu wilayah sedang hancur akibat perang. Intinya, pemerintah lagi berusaha keras biar harga-harga di dalam negeri tetap stabil meskipun dunia lagi panas-panasnya.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE