400 Ribu Buruh Disebut Padati Monas saat May Day, Tapi Aksi Terpisah Muncul di DPR
Teddy Indra Wijaya klaim ratusan ribu massa hadir bersama Prabowo Subianto, sementara sebagian buruh pilih demo di Gedung DPR RI
JAKARTA, GENVOICE.ID - Peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 di Jakarta berlangsung dengan dinamika yang menarik perhatian publik. Kawasan Monumen Nasional (Monas) dipadati massa buruh dari berbagai daerah yang datang untuk merayakan May Day dalam suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengklaim bahwa jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 400 ribu orang. Angka tersebut disebut sebagai representasi antusiasme buruh dari berbagai wilayah di Indonesia yang berkumpul dalam satu titik untuk memperingati hari penting ini.
Dalam pernyataannya, Teddy menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto turut hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran Presiden menjadi salah satu momen penting, sekaligus simbol dukungan pemerintah terhadap para pekerja. Acara di Monas juga dikemas dalam bentuk perayaan, bukan aksi demonstrasi, dengan menghadirkan hiburan musik serta pembagian sembako dari pemerintah.
Teddy juga menegaskan bahwa dalam satu tahun terakhir, kebijakan pemerintah diarahkan untuk kepentingan masyarakat luas, terutama kaum buruh. Ia menyinggung sejumlah langkah yang dianggap sebagai bentuk keberpihakan, seperti penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional hingga pembentukan Satuan Tugas Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK).
Namun, peringatan May Day tahun ini tidak berlangsung dalam satu suara. Selain di Monas, peringatan Hari Buruh juga digelar di depan Gedung DPR RI oleh kelompok buruh lainnya. Sejumlah organisasi memilih tidak bergabung dalam perayaan di Monas dan menggelar aksi unjuk rasa secara terpisah.
Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), yang terdiri dari berbagai organisasi seperti Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) hingga Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), memilih menyuarakan tuntutan mereka melalui aksi demonstrasi. Ketua KASBI, Sunarno, menyebutkan bahwa sekitar 10 ribu orang diperkirakan ikut dalam aksi tersebut.
Menurut Sunarno, aksi di depan DPR dilakukan secara mandiri dan independen, berbeda dengan perayaan di Monas yang dinilai sarat dengan narasi arus utama dan dekat dengan kekuasaan. Perbedaan ini menunjukkan adanya dua pendekatan dalam memperingati Hari Buruh: satu dalam bentuk perayaan bersama pemerintah, dan satu lagi melalui aksi tuntutan di jalan.
Dengan dua titik kegiatan yang berlangsung bersamaan, May Day 2026 di Jakarta mencerminkan beragam cara buruh dalam mengekspresikan aspirasi mereka. Di satu sisi ada perayaan besar dengan klaim ratusan ribu peserta, di sisi lain ada aksi demonstrasi yang tetap menyuarakan tuntutan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Hari Buruh bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga momentum penting bagi para pekerja untuk menunjukkan solidaritas, menyuarakan harapan, dan memperjuangkan hak-hak mereka dengan cara yang berbeda-beda.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!