Setelah Laba Anjlok, Samsung Andalkan AI dan Tesla untuk Bangkit dari Keterpurukan

Setelah Laba Anjlok, Samsung Andalkan AI dan Tesla untuk Bangkit dari Keterpurukan
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Samsung Electronics melaporkan penurunan laba operasional divisi semikonduktor hingga 94 persen pada kuartal kedua 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, menyusul gangguan pengiriman dan pembatasan ekspor dari Amerika Serikat atas penjualan chip canggih ke Tiongkok.

Namun, perusahaan teknologi raksasa asal Korea Selatan ini tetap optimistis akan adanya pemulihan secara bertahap di paruh kedua tahun ini, didorong oleh permintaan yang terus meningkat untuk chip berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis lalu, Samsung mencatat laba operasional sebesar 4,7 triliun won atau sekitar 3,37 miliar dolar AS untuk periode April-Juni. Ini merupakan laba terendah dalam enam kuartal terakhir, dan sesuai dengan proyeksi awal perusahaan yang sebelumnya mengecewakan investor. Pendapatan perusahaan naik tipis sebesar 0,7 persen menjadi 74,6 triliun won, selaras dengan estimasi sebelumnya sebesar 74 triliun won.

Divisi chip Samsung, yang selama ini menjadi motor utama pendapatan perusahaan, hanya mencatat laba sebesar 400 miliar won pada kuartal ini, anjlok dari 6,5 triliun won pada periode yang sama tahun lalu. Ini adalah pertama kalinya dalam enam kuartal terakhir laba divisi chip Samsung jatuh di bawah angka 1 triliun won. Perusahaan menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh penyesuaian nilai inventaris pada chip memori serta biaya satu kali yang timbul akibat dampak pembatasan ekspor Amerika Serikat terhadap penjualan ke Tiongkok.

Meski demikian, Samsung menyatakan bahwa industri semikonduktor diperkirakan akan mulai pulih pada paruh kedua 2025, berkat lonjakan investasi dari penyedia layanan cloud besar yang terus meningkatkan kebutuhan terhadap chip AI. Namun, perusahaan juga mengakui adanya tantangan global yang bisa memperlambat laju pertumbuhan, termasuk ketidakpastian geopolitik dan tekanan dari lingkungan perdagangan yang kian rumit, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 15 persen terhadap barang-barang asal Korea Selatan.

Penurunan performa divisi chip ini memperkuat kekhawatiran investor tentang kemampuan Samsung dalam mengejar ketertinggalan dari para pesaing yang lebih kecil dan lebih gesit dalam mengembangkan chip memori berkecepatan tinggi, terutama yang dipakai oleh perusahaan seperti Nvidia dan digunakan secara luas di pusat data AI.

Namun di tengah tekanan itu, muncul angin segar dari kontrak besar yang diumumkan beberapa hari sebelum laporan keuangan dirilis. Produsen mobil listrik Tesla menyatakan telah menandatangani kesepakatan senilai 16,5 miliar dolar AS untuk memasok chip dari Samsung. Langkah ini diprediksi dapat menjadi penyelamat bagi divisi foundry (pembuatan chip berdasarkan pesanan) Samsung yang tengah berjuang mengimbangi kompetitor seperti TSMC.

Pada saat yang sama, perusahaan teknologi besar lain seperti Meta dan Microsoft juga melaporkan lonjakan permintaan untuk chip AI dan berencana melakukan investasi besar dalam infrastruktur data center mereka. Hal ini memberikan sinyal bahwa pasar chip AI masih sangat terbuka lebar, dan Samsung memiliki peluang besar untuk bangkit jika mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap permintaan yang berkembang pesat ini.

Meskipun performa kuartal kedua menunjukkan pelemahan signifikan, langkah-langkah strategis seperti kesepakatan dengan Tesla serta tren global yang terus mendukung perkembangan AI dapat menjadi titik balik bagi Samsung di tengah ketatnya persaingan global di sektor semikonduktor.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE