Virus Nipah Bikin Asia Waspada, Epidemiolog Ungkap Alasan Angka Kematian Bisa Tembus 75 Persen
JAKARTA, GENVOICE.ID - Penyebaran virus Nipah di India mendorong sejumlah negara di Asia meningkatkan kewaspadaan setelah Taiwan dan Thailand dilaporkan telah memperketat skrining kesehatan di pintu kedatangan internasional.
Di Indonesia, Menteri Kesehatan juga menyatakan kesiapan pemerintah untuk mempersiapkan reagen PCR guna mendeteksi virus Nipah apabila ditemukan kasus di dalam negeri.
Virus Nipah diketahui dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi buah atau makanan yang telah terkontaminasi liur maupun urine kelelawar. Hewan tersebut merupakan reservoir alami virus Nipah dan berperan besar dalam rantai penularannya.
Virus ini menjadi sorotan global karena tingkat fatalitasnya yang sangat tinggi, dengan angka kematian dilaporkan bisa mencapai 75 persen. Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa tingginya angka kematian tersebut disebabkan oleh belum tersedianya vaksin maupun obat spesifik untuk virus Nipah.
"Hingga saat ini belum ada 'senjata' berupa vaksin untuk mencegah Nipah, dan juga belum ada obat yang secara spesifik bisa menyembuhkan pasien yang terinfeksi," kata Dicky kepada detikcom, Selasa (27/1/2026).
Menurut Dicky, penanganan pasien Nipah sejauh ini hanya bersifat terapi suportif, yakni berfokus pada pengendalian gejala. Pada kasus berat, pasien bahkan memerlukan perawatan intensif di unit ICU. Meski riset vaksin dan terapi masih terus berjalan, belum ada kandidat yang menunjukkan hasil benar-benar menjanjikan.
Gejala infeksi virus Nipah pada manusia dapat bervariasi. Pada fase awal, pasien umumnya mengalami demam, sakit kepala, serta gejala mirip flu. Seiring perkembangan penyakit, keluhan dapat bertambah menjadi nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
"Pada fase lanjut, bisa muncul gangguan pernapasan seperti pneumonia, hingga gangguan neurologis berat seperti radang otak atau ensefalitis. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, kejang, bahkan koma," jelas Dicky.
Ia menambahkan bahwa kematian sering terjadi hanya dalam hitungan hari setelah gejala berat muncul. Tingkat kematian kasus virus Nipah dilaporkan berada di kisaran 40 hingga 75 persen, yang berarti setidaknya empat dari sepuluh pasien berisiko meninggal dunia.
Meski tidak bersifat eksplosif seperti wabah besar dalam waktu singkat, Dicky menilai ancaman virus Nipah justru terletak pada sifatnya yang stabil dan berulang. Virus ini berpotensi muncul setiap tahun.
"Kestabilan inilah yang justru berbahaya, karena seiring waktu virus bisa meningkatkan kemampuannya, terutama dalam konteks penularan antar-manusia," pungkasnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!