JAKARTA, GENVOICE.ID - Google dilaporkan menandatangani perjanjian untuk berinvestasi dalam proyek pembangkit listrik tenaga gas di Illinois, Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Broadwing Energy Center.
Dilansir dari Antara, pembangkit ini akan menjadi sumber energi utama bagi pusat data Google dan rencananya dilengkapi dengan teknologi penangkapan serta penyimpanan karbon (CCS) yang diklaim mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Teknologi CCS dirancang untuk menyaring karbondioksida dari cerobong asap dan menyimpannya jauh di bawah tanah agar tidak terlepas ke atmosfer. Secara teori, metode ini diharapkan bisa membantu memperlambat pemanasan global dan mencegah dampak ekstrem perubahan iklim, seperti naiknya permukaan laut dan kerusakan terumbu karang.
Meski terdengar menjanjikan, banyak pihak masih meragukan efektivitas CCS, terutama soal kelayakan teknis dan biaya yang sangat tinggi.
Kritik lain datang dari kalangan pemerhati lingkungan yang menilai teknologi ini justru berpotensi memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil, alih-alih mempercepat transisi ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Google sendiri menyatakan telah sepakat untuk membeli sebagian besar daya dari pembangkit berkapasitas 400 megawatt tersebut setelah mulai beroperasi pada 2030.
"Tujuan kami adalah membantu menghadirkan solusi CCS baru yang menjanjikan ke pasar sambil belajar dan berinovasi dengan cepat," tulis Google dalam pernyataannya.
Namun, rekam jejak CCS di Amerika Serikat tidak terlalu menggembirakan. Laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) pada 2021 mencatat bahwa dari total sekitar 684 juta dolar AS yang diinvestasikan untuk proyek CCS di enam pembangkit batu bara, hanya satu yang berhasil beroperasi. Sebagian besar proyek lainnya gagal karena masalah biaya dan kelayakan ekonomi.
Selain itu, listrik dari pembangkit yang menggunakan teknologi penangkap karbon disebut bisa 1,5 hingga dua kali lebih mahal dibandingkan listrik dari tenaga surya, angin, atau pembangkit tradisional tanpa CCS. Proyek-proyek sebelumnya bahkan sempat berhenti beroperasi karena anjloknya harga minyak selama pandemi COVID-19, yang membuat CCS tidak lagi menguntungkan secara finansial.
Berbeda dari proyek terdahulu, Broadwing Energy Center akan menyimpan karbondioksida satu mil di bawah tanah di dekat lokasi pembangkit, bukan menjualnya untuk proyek peningkatan perolehan minyak. Google mengklaim teknologi ini mampu menangkap hingga 90 persen emisi karbon yang dihasilkan, angka yang lebih tinggi dibanding proyek CCS lain di dunia.
Meski begitu, keputusan ini tetap menimbulkan pertanyaan karena pembangkit listrik tersebut menggunakan gas alam, yang sebagian besar terdiri dari metana, gas rumah kaca yang lebih kuat dibanding karbondioksida.
Kebocoran metana dari pipa dan sumur gas masih menjadi masalah besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan penangkapan karbon di pembangkit. Selain itu, fasilitas tenaga gas juga menghasilkan polutan udara lain yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi.
Langkah Google ini memperlihatkan dilema besar di era transisi energi, antara menjaga kebutuhan energi pusat data yang terus meningkat dan upaya mengurangi emisi karbon secara berkelanjutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!