Berani! WALHI Bongkar Akar Bencana Aceh: ‘Ini Bukan Musibah Alam, Ini Bencana Ulah Manusia’

Berani! WALHI Bongkar Akar Bencana Aceh: ‘Ini Bukan Musibah Alam, Ini Bencana Ulah Manusia’
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh mengingatkan pemerintah bahwa bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh sejak 18 November 2025 bukan sekadar fenomena alam musiman.

Menurut WALHI, ini adalah bencana ekologis yang lahir dari akumulasi kerusakan lingkungan yang dibiarkan berlangsung bertahun-tahun.

Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, menegaskan bahwa langkah utama yang harus segera dilakukan pemerintah adalah restorasi ekologis dan pemulihan alam. Seruannya datang di tengah situasi Aceh yang masih dalam masa darurat. Hingga kini, data BNPB mencatat 35 orang meninggal dunia, 25 hilang, delapan luka-luka, dan 4.846 keluarga terpaksa mengungsi. Angka ini diperkirakan bisa bertambah karena masih ada wilayah banjir yang belum bisa dijangkau.

Shalihin menilai bencana ini merupakan tanda bahwa alam sudah tidak mampu lagi menahan beban kerusakan yang dipaksakan manusia. Hutan dibabat habis, bukit digali, sungai didangkalkan, dan ruang hidup masyarakat digempur proyek ekstraktif yang difasilitasi kebijakan longgar.

Dirinya menyebut, banjir besar yang terus berulang di Aceh adalah hasil akumulasi dari deforestasi, ekspansi perkebunan sawit, pertambangan legal maupun ilegal, sampai aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang makin marak dalam dua tahun terakhir.

"Inilah bencana ekologis. Bukan sekadar musibah alam. Ini akibat buruknya tata kelola lingkungan dan pemanfaatan SDA. Pemerintah harus berani menghentikan akar bencana," kata Shalihin.

WALHI Aceh mencatat kerusakan terparah terjadi di sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama di DAS Krueng Peusangan, yang kemudian menimbulkan dampak besar ke wilayah hilir seperti Aceh Utara dan Bireuen. Banyak daerah lain juga mengalami kerusakan serupa karena pembukaan lahan besar-besaran, konsesi tambang, pembalakan liar, dan pembangunan jalan baru yang mempercepat deforestasi.

Shalihin menjelaskan bahwa hilangnya penyangga ekologis membuat curah hujan tinggi langsung berubah menjadi limpasan ekstrem. Sungai-sungai dangkal karena sedimentasi berat dari galian C, sehingga air cepat meluap ke permukiman. "Sungai kita sudah tidak berfungsi. Begitu hujan deras datang, air langsung masuk ke rumah warga," ujarnya.

PETI juga menjadi sorotan besar. Dalam pemetaan WALHI, 99 persen lokasi PETI berada di dalam DAS, merusak hulu sungai dan membuat tanah semakin labil. "Longsor jadi mudah terjadi. Sekali hujan besar, banjir tak terbendung," tambahnya.

Karena itu WALHI menegaskan perlunya tindakan cepat dan menyeluruh. Mulai dari restorasi ekologis, pemulihan hutan dan DAS, hingga audit total semua izin yang berpotensi merusak lingkungan. Shalihin juga menekankan pentingnya memberi ruang besar bagi masyarakat mukim dalam tata kelola lingkungan.

Harapannya sederhana: bencana Aceh tidak lagi berulang hanya karena manusia terus merusak benteng alam yang seharusnya melindungi mereka.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE