Dua Atlet Porprov Jateng Tutup Usia dalam Empat Hari, Ini Kronologi yang Terjadi
Syabila Putri Raharja dari cabang selam meninggal setelah tenggelam saat bertanding, sedangkan Ayudiah Rivana Tridiandinata mengembuskan napas terakhir setelah menjalani operasi akibat patah jari. Penyebab kematian keduanya masih menjadi perhatian pihak terkait.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar duka menyelimuti penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah (Jateng) XVII 2026 setelah dua atlet meninggal dunia dalam rentang empat hari. Kedua atlet tersebut adalah Syabila Putri Raharja dari cabang olahraga selam yang mewakili Kabupaten Jepara dan Ayudiah Rivana Tridiandinata dari cabang pencak silat yang memperkuat kontingen Kota Semarang.
Syabila meninggal dunia setelah dilaporkan tenggelam ketika mengikuti perlombaan pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sementara itu, Ayudiah yang berusia 19 tahun meninggal pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat cedera patah jari tengah saat bertanding.
Kedua peristiwa tersebut terjadi dalam situasi berbeda, dengan penyebab kematian yang belum sepenuhnya dipastikan oleh pihak terkait. Kejadian ini turut menjadi perhatian terhadap penanganan atlet yang mengalami kondisi darurat selama mengikuti kompetisi olahraga.
Syabila Putri Raharja Tenggelam Saat Mengikuti Lomba Selam
Peristiwa pertama terjadi pada Minggu pagi, 25 Oktober 2026, ketika Syabila mengikuti perlombaan selam dalam ajang Porprov Jateng XVII 2026. Perlombaan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB sebelum Syabila dilaporkan tenggelam sekitar pukul 09.20 WIB.
Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bertugas di lokasi kemudian memberikan pertolongan kepada atlet asal Jepara tersebut. Syabila berhasil dibawa ke darat, tetapi saat dievakuasi kondisinya sudah tidak sadarkan diri dan dilaporkan mengeluarkan busa dari mulut serta hidung.
Tim medis dari Semarang dan Jepara sempat melakukan resusitasi sebelum Syabila dibawa ke Rumah Sakit Keluarga Sehat Semarang. Upaya pertolongan kembali dilakukan oleh dokter di instalasi gawat darurat, tetapi Syabila dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.00 WIB.
Syabila Dimakamkan di Jepara, KONI Minta Penjelasan
Kepergian Syabila menjadi kehilangan besar bagi kontingen Kabupaten Jepara karena ia dikenal sebagai atlet berprestasi. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Jepara, Miftah, menyampaikan bahwa Syabila telah menyumbangkan dua medali emas bagi daerahnya.
"Dedikasi, semangat juang, dan prestasinya akan selalu menjadi bagian dari sejarah olahraga Jepara. Terima kasih, Syabila. Terima kasih, patriot olahraga Jepara. Perjuanganmu akan selalu kami kenang," kata Miftah.
Jenazah Syabila dimakamkan di Jepara pada Minggu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Di tengah suasana duka, KONI Jepara menyatakan belum ingin berspekulasi mengenai penyebab kematian atlet tersebut dan berencana meminta penjelasan resmi mengenai kronologi kejadian kepada Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Pengprov POSSI) Jawa Tengah setelah pembukaan Porprov.
"Kami nanti akan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian hingga meninggalnya atlet," ujar Miftah.
Ayudiah Meninggal Setelah Menjalani Operasi Cedera Jari
Duka kembali menyelimuti kontingen Jawa Tengah ketika Ayudiah Rivana Tridiandinata meninggal dunia pada Rabu pagi, 28 Oktober 2026. Atlet pencak silat berusia 19 tahun yang mewakili Kota Semarang tersebut sebelumnya mengalami patah jari tengah saat bertanding pada Senin, 26 Oktober 2026.
Setelah mengalami cedera, Ayudiah dirujuk ke Rumah Sakit Primaya Semarang yang berada tidak jauh dari arena pertandingan. Ia kemudian menjalani operasi pada Selasa, 27 Oktober 2026, sebelum melanjutkan perawatan di kamar rumah sakit.
"Almarhumah dirawat di rumah sakit setelah mengalami patah jari tengah saat bertanding pada Senin," jelas Ketua KONI Jawa Tengah, Sudjarwanto.
Kematian Ayudiah diketahui pada Rabu pagi ketika petugas rumah sakit hendak membangunkannya. Direktur RS Primaya Semarang, Aditya Nugraha, menyampaikan bahwa pasien ditemukan dalam kondisi tidak sadar, tidak bernapas, dan tidak memiliki denyut jantung sekitar pukul 05.30 WIB.
Rumah Sakit Sebut Prosedur Operasi Telah Dijalankan
Pihak RS Primaya Semarang menjelaskan bahwa prosedur dan tahapan operasi terhadap Ayudiah telah dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku. Direktur rumah sakit juga menyebut operasi yang dilakukan bukan termasuk operasi mayor dan pasien sempat sadar setelah tindakan medis selesai.
"Operasi yang dilakukan bukan operasi mayor," jelas Aditya Nugraha.
Ia menambahkan bahwa Ayudiah langsung sadar setelah operasi dan selanjutnya menjalani perawatan di kamar rumah sakit. Pihak rumah sakit juga menyebut pasien tidak memiliki riwayat alergi obat maupun penyakit bawaan, tetapi tim dokter belum dapat memastikan penyebab kematiannya.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penyebab kematian Ayudiah masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari tim medis. Hubungan antara cedera, tindakan operasi, dan kematian pasien tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan urutan waktu kejadian.
Dua Atlet Meninggal, Penyebab Kematian Masih Menjadi Perhatian
Meninggalnya Syabila dan Ayudiah dalam rentang empat hari menjadi kabar duka bagi dunia olahraga Jawa Tengah, khususnya bagi kontingen Jepara dan Kota Semarang. Kedua atlet tersebut mengalami kejadian berbeda, yakni insiden tenggelam saat perlombaan selam dan kematian setelah menjalani perawatan akibat cedera dalam pertandingan pencak silat.
Dalam kasus Syabila, KONI Jepara berencana meminta klarifikasi mengenai kronologi kejadian kepada organisasi olahraga selam tingkat provinsi. Sementara itu, pihak RS Primaya Semarang menyatakan penyebab kematian Ayudiah belum dapat dipastikan oleh tim dokter.
Kedua peristiwa tersebut masih menyisakan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan berdasarkan pemeriksaan dan informasi resmi dari pihak terkait. Informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematian masing-masing atlet perlu menunggu hasil penelusuran dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!