Stimulus Fiskal dan Moneter akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi pada Kuatal IV-2025

Stimulus Fiskal dan Moneter akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi pada Kuatal IV-2025
- (Dok. istimewa).

JAKARTA - Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan selain faktor musiman, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV juga berpotensi mendapat dorongan tambahan dari stimulus fiskal yang digulirkan pemerintah pada bulan Oktober.

"Stimulus ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli dan mempercepat realisasi belanja pemerintah menjelang akhir tahun," katanya, Selasa (28/10), merespon proyeksi yang disampaikam Analis UOB, Kay Hian Suryaputra Wijaksana yang menyebut ekonomi akan menguat pada kuartal IV-2025.

Dari sisi moneter, katanya, Bank Indonesia juga mendukung upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi dengan melonggarkan suku bunga acuan. "Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter ini diharapkan mampu memperkuat momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV," jelas Rendi.

Sementara Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan kunci pertumbuhan juga bergantung pada belanja pemerintah. Jangan sampai Pemerintah daerah (Pemda) terus mengendapkan uang di bank. "Intinya uang harus berputar dan masyarakat mendapatkan manfaatnya, sehingga ada multiplier effect ke perekonomian," kata Esther.

Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda, menilai sebenarnya, siklus dari perekonomian akan menguat di triwulan ke IV tiap tahun karena percepatan konsumsi pemerintah dan proyek-proyek akan dikebut di akhir tahun, sehingga peredaran uang akan lebih cepat.

Selain itu, ada momen libur natal dan tahun baru yang membuat konsumsi rumah tangga lebih tinggi.

Sebelumnya, berdasarkan hasil riset Analis UOB, Kay Hian Suryaputra Wijaksana, Selasa (28/10), mengatakan aktivitas ekonomi akan meningkat seiring percepatan belanja pemerintah, membaiknya stabilitas politik, serta kenaikan kepercayaan bisnis dan konsumen pada kuartal IV-2025. Kondisi tersebut diharapkan akan mendukung akselerasi pertumbuhan kredit secara moderat pada akhir 2025.

"Percepatan realisasi belanja fiskal dan perbaikan sentimen domestik akan mendorong pertumbuhan uang beredar luas (M2) yang lebih stabil, serta memperkuat pondasi ekonomi menjelang akhir tahun," kata Suryaputra.

Pertumbuhan jumlah uang beredar luas meningkat menjadi 8,0 persen year on year (yoy) pada September 2025, atau tumbuh dari 7,6 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Likuiditas dari penempatan dana Pemerintah di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) katanya diharapkan bisa optimal tersalurkan ke sektor riil. Dengan banjirnya likuiditas di perbankan, maka akan mengalir ke pasar obligasi pemerintah, sehingga mendorong permintaan yang tinggi dan menyebabkan penurunan signifikan pada imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) pada September 2025.

Kondisi tersebut juga diperkuat oleh pembelian obligasi oleh Bank Indonesia (BI), yang semakin memperkuat pasar surat berharga domestik.

"Dengan permintaan terhadap obligasi pemerintah yang jauh melampaui pasokan, yield obligasi cenderung menurun," kata Suryaputra.

Dia juga memproyeksikan tekanan inflasi tetap terkendali meskipun likuiditas meningkat. Inflasi diproyeksikan berada di level 2,7 persen pada 2025 atau masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5-3,5 persen. Dengan inflasi stabil dan pertumbuhan ekonomi menguat, ia meyakini BI akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar, guna mendorong ekspansi kredit dan menjaga momentum pemulihan.

Pengamat ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai proyeksi penguatan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 itu sebagai sinyal positif bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia. Menurutnya, momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong strategi pro-growth berbasis potensi dalam negeri, agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada faktor eksternal maupun kebijakan fiskal jangka pendek.

Dia pun menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam sektor produktif, mulai dari industri manufaktur, pertanian modern, hingga UMKM, untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Integrasi teknologi bukan sekadar digitalisasi, tapi bagaimana inovasi digunakan untuk memperkuat daya saing dan efisiensi ekonomi riil. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi dapat tercipta di dalam negeri," kata Aditya di Yogyakarta, Selasa (28/10).

Ia juga mengungkap bahwa Indonesia perlu berhati-hati terhadap ketimpangan pertumbuhan antara sektor keuangan dan sektor riil. Menurutnya, keberhasilan menjaga stabilitas moneter dan likuiditas perbankan harus diikuti dengan penyerapan kredit produktif ke lapangan kerja dan industri penggerak ekonomi lokal.

"Kalau pertumbuhan hanya terjadi di sektor finansial, maka efek penggandanya kecil terhadap masyarakat. Kita perlu memastikan kredit dan investasi benar-benar menyentuh sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja," tambahnya.

Lebih jauh, Aditya mengingatkan bahwa arah kebijakan ekonomi ke depan harus berorientasi pada transformasi struktural jangka panjang agar Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap. Ia menilai, dengan mendorong pertumbuhan berbasis inovasi, kolaborasi teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas basis ekonomi dan memastikan kesejahteraan dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah.

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE