Startup Bernama AI Julius Kantongi Pendanaan Awal Jutaan Dolar, Fokus Jadi 'Analis Data Virtual'

Startup Bernama AI Julius Kantongi Pendanaan Awal Jutaan Dolar, Fokus Jadi 'Analis Data Virtual'
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Startup teknologi Julius AI, yang mengklaim dirinya sebagai analis data berbasis kecerdasan buatan, resmi mengumumkan perolehan pendanaan seed round sebesar Dolar AS 10 juta. Putaran ini dipimpin oleh Bessemer Venture Partners dan diikuti oleh investor papan atas seperti Horizon VC, 8VC, Y Combinator, serta akselerator AI Grant.

Tidak hanya itu, sejumlah tokoh terkenal di industri teknologi juga ikut serta sebagai investor malaikat, termasuk CEO Perplexity Aravind Srinivas, CEO Vercel Guillermo Rauch, dan co-founder Twilio Jeff Lawson.

Startup ini didirikan oleh Rahul Sonwalkar, yang meluncurkan Julius setelah lulus dari program akselerator Y Combinator pada tahun 2022. Awalnya, Sonwalkar mengembangkan startup logistik, namun memutuskan melakukan pivot dan membangun Julius dengan visi menjadikannya AI yang bekerja layaknya analis data manusia.

Julius AI dirancang untuk menganalisis dan memvisualisasikan kumpulan data besar, sekaligus melakukan pemodelan prediktif hanya dari prompt bahasa alami. Meskipun memiliki fitur yang mirip dengan ChatGPT, Claude dari Anthropic, atau Gemini dari Google, Julius menemukan celah pasar dengan fokusnya yang spesifik pada data science.

"Cara termudah menggunakan Julius adalah dengan bicara langsung padanya," kata Sonwalkar kepada TechCrunch. "Seperti bicara ke analis dalam timmu, AI akan menjalankan kode dan menyajikan analisisnya untukmu."

Beberapa contoh pertanyaan yang bisa dijawab oleh Julius meliputi:

"Bisakah kamu visualisasikan bagaimana korelasi antara pendapatan dan laba bersih di berbagai industri di China dan AS?"

Hingga kini, Julius mengklaim telah memiliki lebih dari dua juta pengguna dan menghasilkan lebih dari 10 juta visualisasi data.

Kemampuan Julius dalam data science juga menarik perhatian akademisi. Salah satunya, Profesor Iavor Bojinov dari Harvard Business School (HBS), yang kemudian meminta Sonwalkar untuk memodifikasi Julius khusus untuk mata kuliah baru di HBS bertajuk "Data Science and AI for Leaders".

Sonwalkar mengakui banyak pihak yang skeptis terhadap keberhasilan Julius di tengah dominasi model AI besar. Namun ia menegaskan, fokus pada satu kasus penggunaan spesifik menjadi kunci keberhasilan mereka.

"Orang-orang bilang kami tidak akan berhasil," kenangnya. "Tapi kami menemukan bahwa fokus pada satu use case itu sangat penting."

Sonwalkar bukan sosok baru dalam dunia teknologi. Namanya sempat mencuat saat melakukan prank viral di kantor pusat Twitter (sekarang X) setelah akuisisi oleh Elon Musk. Ia muncul sebagai salah satu dari dua orang yang berpura-pura sebagai pegawai yang di-PHK, mengenalkan diri sebagai "Rahul Ligma"-lelucon yang sempat mengelabui banyak media.

Namun kini, Sonwalkar memilih dikenang bukan karena lelucon, melainkan karena visinya membangun Julius AI.

"Saya rasa sekarang orang lebih mengenal saya karena Julius, bukan karena prank itu lagi," katanya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE