Gencatan Senjata Baru Berlaku, Thailand Tuduh Kamboja Langgar Kesepakatan

Gencatan Senjata Baru Berlaku, Thailand Tuduh Kamboja Langgar Kesepakatan
- (Dok. Bangkok Post).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali meningkat hanya beberapa jam setelah gencatan senjata disepakati pada Senin malam (29/7). Pemerintah Thailand menuding Kamboja melanggar kesepakatan tersebut dengan melancarkan serangan ke wilayah mereka.

Juru bicara militer Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, menyatakan bahwa Kamboja melakukan serangan di beberapa titik wilayah Thailand pada malam hari setelah gencatan senjata mulai berlaku pukul 00.00 waktu setempat. Ia menilai tindakan ini sebagai pelanggaran yang disengaja dan berupaya merusak kepercayaan antarnegara.

"Pihak Thailand tidak menggunakan kekuatan militer untuk menyerang, tetapi untuk mencegah pelanggaran wilayah dan menjaga kedaulatan nasional sesuai aturan internasional," ujar Winthai.

Meskipun demikian, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyampaikan melalui Facebook bahwa kondisi di garis depan sudah mereda sejak kesepakatan diberlakukan. Seorang jurnalis AFP yang berada di kota Samraong, sekitar 20 km dari perbatasan, melaporkan bahwa suara ledakan berhenti menjelang tengah malam dan situasi tetap tenang hingga pagi hari.

Gencatan senjata ini merupakan hasil perundingan darurat yang digelar di Malaysia, selaku ketua ASEAN, dan dihadiri perwakilan Amerika Serikat serta China. Kesepakatan ini ditandatangani setelah lima hari bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan yang menewaskan sedikitnya 38 orang dan menyebabkan lebih dari 300.000 warga mengungsi.

Presiden AS Donald Trump turut menekan kedua negara agar menghentikan konflik, bahkan mengancam menunda negosiasi dagang serta menerapkan tarif sebesar 36% mulai 1 Agustus jika kekerasan tidak dihentikan. Setelah gencatan senjata diumumkan, Trump mengklaim keberhasilan tersebut dan menyebut dirinya sebagai "President of PEACE" di media sosial pribadinya.

Walau kesepakatan telah tercapai, Thailand tetap memperingatkan warganya di sekitar perbatasan untuk tidak kembali ke rumah sebelum ada pemberitahuan resmi. Banyak warga menyambut perjanjian ini dengan harapan, tetapi juga skeptisisme karena konflik belum sepenuhnya mereda.

Pertemuan antara komandan militer kedua negara yang dijadwalkan pukul 07.00 pagi waktu setempat harus ditunda hingga pukul 10.00 karena insiden pelanggaran yang dituduhkan Thailand. Komite lintas batas juga direncanakan akan berkumpul di Kamboja pada 4 Agustus guna membahas langkah selanjutnya untuk meredakan ketegangan.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut kesepakatan ini sebagai "langkah awal penting untuk meredakan konflik dan memulihkan perdamaian serta keamanan". Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga menyerukan kedua negara untuk sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan menciptakan suasana yang kondusif untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung lama.

Sementara itu, pemerintah Thailand menuding bahwa pasukan Kamboja, termasuk penembak jitu, telah menempati salah satu kuil yang diperebutkan. AFP melaporkan adanya bentrokan di tujuh titik di daerah pedesaan yang terdiri dari perbukitan, hutan, dan lahan pertanian karet serta padi.

Meskipun gencatan senjata telah diteken, situasi tetap rawan. Kedua negara kini berada di bawah sorotan dunia internasional untuk membuktikan komitmen mereka terhadap perdamaian jangka panjang.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE