Jangan Cuma Berhenti di Publikasi, Riset Akademisi Harus Bisa Diterapkan

Jangan Cuma Berhenti di Publikasi, Riset Akademisi Harus Bisa Diterapkan
Riset terpan - (Dok. istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Riset akademisi seharusnya dapat menjadi langkah awal agar dapat diterapkan baik dalam dunia usaha maupun dalam segala aspek kehidupan manusia, kata dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya YB. Suhartoko. "Riset publikasi dan riset yang dapat diterapkan serta memberi dampak nyata kepada masyarakat bukan sesuatu yang terpisah." Katanya, Selasa (28/4).

Ia mengatakan seruan Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard agar riset beralih dari hanya sekedar berorientasi publikasi ke dampak nyata dinilai justru harus dijalankan secara paralel, bukan dipisahkan.

Suhartoko menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat riset berhenti di publikasi. Pertama, tuntutan kinerja akademisi berbasis publikasi untuk memenuhi laporan kinerja maupun angka kredit guna mencapai jenjang kepangkatan tertinggi seperti guru besar.

"Ke depan riset terapan harus diberikan bobot yang cukup besar sebagai insentif bagi para peneliti dan dosen," tegasnya.

Faktor kedua, secara praktis riset dengan luaran publikasi lebih murah dibanding riset terapan yang membutuhkan laboratorium dan alat riset mahal.

Selain itu kata Suhartoko, dalam riset yang dapat diterapkan di dunia usaha seringkali tidak terjalin hubungan erat antara periset dan dunia usaha terkait luaran yang ingin dicapai. Akibatnya, hasil riset tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

"Oleh karena itu kebijakan yang memberikan insentif riset yang dapat diterapkan harus dilakukan," ujarnya.

Dia pun menilai kalau perubahan paradigma riset seperti yang disampaikan Wamen Bappenas perlu diikuti reformasi insentif dan ekosistem. Tanpa bobot besar untuk riset terapan, kemudahan akses laboratorium, dan kemitraan kuat dengan dunia usaha, riset akan tetap berhenti di jurnal dan sulit memberi dampak nyata ke masyarakat.

Perubahan Paradigma

Sebelumnya, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan perlunya perubahan paradigma dalam pembangunan nasional, dari riset yang berorientasi pada publikasi menjadi riset yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

"Ini bukan sekadar perubahan istilah, tapi ini adalah perubahan cara berpikir, perubahan cara bekerja," ujar Febrian dalam forum Kolaborasi Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Australia-Indonesia (KONEKSI) di Jakarta, Selasa (28/4).

Menurut dia, salah satu tantangan utama selama ini adalah kesenjangan antara dunia riset dan kebijakan. Ia menyebut banyak hasil penelitian yang berhenti sebagai publikasi dan belum bertransformasi menjadi program atau keputusan yang dapat diterapkan di lapangan.

Febrian pun menyampaikan kalau Pemerintah berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan membangun ekosistem yang mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media. Ekosistem tersebut diharapkan mampu memastikan riset benar-benar memberi solusi konkret bagi masyarakat.

Ia menekankan bahwa perencanaan pembangunan harus berbasis bukti dan ditopang sains, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan yang berjalan efektif di lapangan.

Febrian juga mendorong agar pengetahuan tidak bersifat eksklusif atau terpusat di kota-kota besar, melainkan hadir di daerah dan relevan dengan kebutuhan lokal.ers/E-9

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE