799 BTS Tumbang Dihajar Banjir Aceh, Layanan Seluler Kocar-Kacir di Puluhan Kecamatan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Banjir besar yang melanda Aceh pada Rabu (26/11) bukan cuma merendam permukiman, tetapi juga membuat ratusan menara telekomunikasi tumbang.
Kementerian Komunikasi dan Digital melaporkan ada 799 site atau sekitar 1,42 persen dari total 34.600 site yang mati di seluruh provinsi. Gangguan ini membuat akses komunikasi di beberapa wilayah ikut tersendat.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian menyebut jaringan yang terganggu mencakup infrastruktur milik Telkomsel, Indosat, hingga XL-Smartfren. Data dari Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) memperlihatkan bagaimana satu per satu site di berbagai kabupaten terpaksa padam akibat banjir. Mulai dari Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Selatan, Banda Aceh, Lhokseumawe, hingga Pidie Jaya, semuanya mencatat gangguan meski dengan persentase berbeda.
Bukan cuma itu, dua operator besar-XL-Smart Telecom Sejahtera dan Indosat-keduanya melaporkan kondisi lebih detail tentang site-site mereka yang tak bisa beroperasi. XL mencatat 208 site mati atau sekitar 9,61 persen dari total 2.165 site mereka di Aceh. Persebarannya terjadi hampir di semua penjuru: dari Tapaktuan hingga Lueng Bata, dari Karang Baru hingga Darul Makmur. Beberapa kecamatan bahkan blank seluruhnya karena semua site mati, termasuk Tapaktuan, Kluet Utara, Samadua, dan Seunagan.
Situasinya tak jauh berbeda di Indosat. Operator ini melaporkan 334 site mereka ikut tumbang akibat banjir, yakni sekitar 9,08 persen dari total 3.677 site di provinsi tersebut. Gangguan terjadi di banyak kecamatan besar, termasuk Kuta Alam, Baiturrahman, Banda Raya, hingga sejumlah wilayah pedalaman seperti Bebesen, Jagong Jeget, dan Timang Gajah. Beberapa titik kecil bahkan padam seratus persen, memperlihatkan betapa serius dampaknya di daerah yang berada tepat di jalur banjir.
Meski jumlah persentasenya terlihat kecil jika dilihat secara keseluruhan, efeknya di lapangan sangat terasa. Warga di banyak kecamatan kesulitan mengakses internet, menghubungi keluarga, hingga menerima informasi penting soal kondisi banjir yang terus bergerak cepat.
Tim teknis operator disebut sudah bergerak, namun perbaikan di tengah bencana tentu membutuhkan waktu. Kondisi lapangan yang masih banjir, akses jalan yang terputus, dan peralatan yang tak bisa langsung dioperasikan membuat pemulihan jaringan harus dilakukan bertahap.
Di tengah upaya pemulihan itu, satu hal yang pasti: banjir Aceh kali ini kembali mengingatkan betapa rentannya infrastruktur digital saat berhadapan dengan bencana alam. Dan tanpa jaringan yang stabil, masyarakat di wilayah terdampak harus bertahan dengan informasi seadanya sambil menunggu layanan kembali normal.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!