Mbappe Minta Maaf ke Publik China Usai Sebut Mao Zedong Diktator

Mbappe Minta Maaf ke Publik China Usai Sebut Mao Zedong Diktator
- (Dok. Forbes).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Penyerang Real Madrid, Kylian Mbappe, menyampaikan permintaan maaf setelah komentarnya mengenai pemimpin pendiri Republik Rakyat China, Mao Zedong, menuai kontroversi di media sosial. Pernyataannya yang menyebut Mao sebagai diktator berdampak pada hubungan komersialnya dengan sejumlah perusahaan China hingga penangguhan siaran Liga Spanyol di televisi pemerintah negara tersebut.

Kontroversi bermula dari sebuah video yang beredar di internet. Dalam rekaman yang diduga diambil sebelum Mbappe tampil di acara bincang-bincang daring Prancis, The Bridge, ia membicarakan meme internet favorit yang menampilkan dirinya.

Gambar tersebut memperlihatkan wajah Mbappe yang ditempelkan pada tubuh seseorang yang kemudian ia sebut sebagai seorang diktator China. Gambar itu diduga merujuk pada Mao Zedong, tokoh yang mendirikan Republik Rakyat China pada 1949 dan memimpin negara tersebut hingga meninggal dunia pada 1976.

Pernyataan tersebut memicu reaksi karena kritik terbuka dan penyebutan Mao sebagai diktator masih menjadi isu sensitif di China. Sebelumnya, Mbappe juga kerap muncul dalam meme yang menggambarkannya sebagai pemimpin otoriter, menyusul anggapan mengenai pengaruh besarnya terhadap rekan setim dan keputusan klub.

Mbappe Akui Komentarnya Tidak Tepat

Menanggapi polemik tersebut, Mbappe menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa komentarnya tidak dipertimbangkan dengan baik. Ia juga menyadari ucapannya telah melukai perasaan masyarakat China dan komunitas China di berbagai negara.

"Komentar saya tidak dipertimbangkan dengan baik, dan sekarang saya memahami bahwa hal itu menyakiti banyak orang di China dan komunitas China di seluruh dunia," ujar Mbappe dalam pernyataannya.

Ia menegaskan tidak bermaksud menyinggung siapa pun dan menyampaikan rasa hormat terhadap masyarakat serta sejarah China.

"Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersinggung oleh perkataan saya. Ini sama sekali bukan maksud saya. Saya sangat menghormati masyarakat China dan sejarah mereka, dan saya sungguh menyesal," lanjutnya.

Tiga Perusahaan China Putus Kerja Sama Sponsor

Dampak kontroversi tersebut turut merambah hubungan bisnis Mbappe. Tiga perusahaan asal China, yakni produsen minuman Dongpeng, perusahaan produk susu Mengniu, dan produsen keju Milkground, mengumumkan penghentian kerja sama sponsor dengan penyerang tim nasional Prancis itu.

Dalam pernyataan yang memiliki kesamaan isi, ketiga perusahaan menyatakan menentang perkataan maupun tindakan yang melukai perasaan nasional masyarakat China.

Selain itu, China Media Group, lembaga yang menaungi stasiun televisi pemerintah CCTV, menghentikan sementara siaran pertandingan Liga Spanyol. Iklan yang menampilkan Mbappe juga ditarik dari saluran tersebut.

Pihak Liga Spanyol turut menyampaikan permintaan maaf atas kontroversi yang muncul. Mereka menegaskan bahwa komentar Mbappe disampaikan dalam kapasitas pribadi dan tidak mewakili sikap maupun pandangan kompetisi tersebut.

CCTV kemudian menyatakan akan mempertimbangkan permintaan maaf Mbappe, sembari tetap memperhatikan tindakannya pada masa mendatang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, juga menanggapi polemik tersebut. Ia menyatakan bahwa perkataan dan tindakan yang melukai perasaan masyarakat China secara alami akan mendapat penolakan bersama dari berbagai kalangan di negara itu.

Mao Zedong Masih Menjadi Tokoh Sensitif di China

Sensitivitas terhadap pernyataan Mbappe tidak terlepas dari posisi Mao Zedong dalam sejarah dan politik China. Mao tetap dipandang sebagai tokoh penting dalam pendirian negara tersebut, sehingga kritik terhadap warisannya memiliki dimensi politik yang kuat.

Namun, masa kepemimpinannya juga diwarnai sejumlah kebijakan kontroversial. Salah satunya adalah program Lompatan Jauh ke Depan atau Great Leap Forward, yang berkontribusi terhadap bencana kelaparan dengan korban jiwa mencapai puluhan juta orang.

Partai Komunis China mengakui sejumlah kesalahan dalam kepemimpinan Mao, tetapi tetap mempertahankan pandangan bahwa pencapaiannya lebih besar daripada kekurangannya. Sikap tersebut membuat pembahasan kritis mengenai warisan Mao menjadi persoalan sensitif di China.

Kontroversi yang melibatkan Mbappe menunjukkan bagaimana komentar dalam konteks meme internet dapat berkembang menjadi persoalan diplomasi publik dan hubungan komersial, terutama ketika menyangkut tokoh sejarah yang memiliki kedudukan penting bagi suatu negara.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE