AI Anthropic Diduga Bobol Sistem Rahasia NSA dalam Hitungan Jam, Ini Penjelasan Sebenarnya
Uji keamanan internal terhadap model AI Mythos 5 memicu larangan mendadak dari pemerintah Amerika Serikat. Namun, benarkah AI tersebut benar-benar meretas sistem rahasia NSA?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia kecerdasan buatan (AI) kembali dihebohkan oleh laporan yang menyebut model AI terbaru milik Anthropic, Mythos 5, mampu menembus hampir seluruh sistem rahasia milik National Security Agency (NSA) Amerika Serikat hanya dalam hitungan jam. Informasi tersebut langsung memicu berbagai spekulasi bahwa AI telah berhasil "meretas" salah satu lembaga intelijen paling kuat di dunia.
Namun, laporan terbaru mengungkap bahwa narasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Insiden yang dimaksud ternyata terjadi dalam sebuah pengujian keamanan (red-team test) yang dilakukan secara resmi dan berada di bawah pengawasan pemerintah Amerika Serikat.
Berawal dari Pernyataan Pejabat Intelijen AS
Laporan tersebut pertama kali mencuat setelah majalah The Economist mengutip pernyataan Senator Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat Amerika Serikat. Warner mengaku menerima penjelasan langsung dari Jenderal Joshua Rudd, Kepala NSA sekaligus Komando Siber Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Rudd menyebut model AI tersebut mampu mengakses hampir seluruh sistem rahasia NSA bukan dalam hitungan minggu, melainkan hanya beberapa jam selama proses evaluasi keamanan berlangsung.
Pernyataan itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memunculkan anggapan bahwa AI Anthropic benar-benar berhasil meretas sistem milik NSA. Padahal, pengujian tersebut merupakan simulasi yang telah mendapat izin resmi dan dijalankan dalam lingkungan yang sangat terkontrol.
Bukan Peretasan Nyata, Melainkan Uji Red-Team
Anthropic kemudian memberikan klarifikasi bahwa Mythos 5 tidak melakukan serangan siber secara mandiri terhadap sistem pemerintah.
Perusahaan menjelaskan pengujian dilakukan menggunakan metode red-team test, yaitu simulasi keamanan yang memang dirancang untuk menguji kemampuan sistem dalam menemukan potensi celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam simulasi tersebut, Mythos 5 dipadukan dengan sejumlah alat pertahanan siber lainnya untuk mengevaluasi kemampuan identifikasi kerentanan pada sistem.
Anthropic menegaskan bahwa kondisi pengujian tersebut sangat spesifik dan tidak mencerminkan kemampuan AI untuk menyerang sistem nyata secara bebas.
Diduga Jadi Alasan Pemerintah AS Melarang Mythos 5
Laporan ini juga dinilai menjelaskan alasan di balik keputusan pemerintah Amerika Serikat yang pada 12 Juni 2026 melarang akses terhadap model AI Fable 5 dan Mythos 5 bagi seluruh warga negara asing, termasuk karyawan Anthropic yang bukan warga negara AS.
Keputusan tersebut menjadi pertama kalinya pemerintah Amerika menerapkan pembatasan ekspor langsung terhadap model AI, bukan hanya perangkat keras yang digunakan untuk menjalankannya.
Sebagai respons, Anthropic memilih menonaktifkan akses kedua model tersebut secara global. Perusahaan menyatakan tidak memungkinkan menerapkan pembatasan hanya berdasarkan kewarganegaraan tanpa menghentikan layanan secara menyeluruh.
Anthropic Sebut Celah yang Ditemukan Sangat Terbatas
Anthropic mengatakan pemerintah sebelumnya hanya memberikan penjelasan secara lisan mengenai adanya dugaan "narrow jailbreak", yaitu kondisi ketika model AI dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kerentanan perangkat lunak dalam situasi tertentu.
Menurut perusahaan, kemampuan tersebut bukanlah bukti bahwa AI mampu melakukan serangan siber secara otomatis. Dalam praktiknya, model hanya diminta menganalisis kode program dan memberikan rekomendasi perbaikan terhadap sejumlah bug yang sebagian besar telah diketahui sebelumnya.
Anthropic juga menyebut perilaku serupa tidak hanya ditemukan pada Mythos 5, tetapi juga dapat terjadi pada model AI lain, termasuk GPT-5.5 milik OpenAI dalam skenario pengujian tertentu.
Anthropic Siapkan Kerja Sama dengan Gedung Putih
Saat ini Anthropic mengaku tengah bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat untuk menyusun kerangka mitigasi risiko penggunaan AI canggih.
Perusahaan berharap akses terhadap model Fable 5 dan Mythos 5 dapat kembali dibuka setelah tersedia mekanisme pengamanan yang disepakati bersama dengan Gedung Putih.
Kasus ini sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan AI generatif kini menjadi perhatian serius pemerintah di berbagai negara. Selain menghadirkan manfaat besar dalam produktivitas dan analisis data, teknologi tersebut juga dinilai memiliki potensi risiko terhadap keamanan siber apabila tidak diawasi secara ketat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!