Trump Usul Selat Hormuz Dikelola Bersama AS dan Iran, Klaim Ada Kemajuan Negosiasi

Trump Usul Selat Hormuz Dikelola Bersama AS dan Iran, Klaim Ada Kemajuan Negosiasi
- (Dok. Kumparan).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah terjadi kemajuan dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran, termasuk mengusulkan pengelolaan bersama Selat Hormuz-jalur pelayaran penting bagi distribusi energi global.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat berada di West Palm Beach, setelah rangkaian pembicaraan yang disebut berlangsung sepanjang akhir pekan hingga Minggu malam. Ia menyebut telah tercapai "poin-poin kesepakatan penting", meski belum merinci isi pembahasan secara detail.

Dalam kesempatan itu, Trump juga menyampaikan gagasan agar Selat Hormuz tidak lagi berada di bawah kendali tunggal, melainkan dikelola bersama oleh Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, skema tersebut bisa menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan di kawasan.

Trump menambahkan, jika proses negosiasi berjalan lancar, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi mereda. Ia bahkan membuka kemungkinan jalur strategis tersebut dapat kembali beroperasi normal dalam waktu dekat.

Dalam proses diplomasi ini, Trump menyebut keterlibatan sejumlah tokoh, termasuk utusannya Steve Witkoff serta Jared Kushner. Namun, ia tidak mengungkap secara spesifik siapa perwakilan dari pihak Iran yang terlibat, hanya menyebut bahwa pembicaraan dilakukan dengan pejabat tingkat tinggi.

Sejumlah laporan media Amerika Serikat dan Israel sempat menyebut adanya komunikasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Akan tetapi, klaim tersebut dibantah oleh kantor berita Iran, yang menyatakan tidak ada negosiasi seperti yang dilaporkan.

Di sisi lain, Trump juga menyinggung kemungkinan perubahan besar dalam struktur politik Iran. Ia menyebut adanya potensi "perubahan rezim yang sangat serius", meski tetap menggambarkan pihak yang diajak berkomunikasi sebagai sosok yang rasional.

Sebelumnya, melalui pernyataan publik dan media sosial, Trump menyebut pembicaraan antara kedua negara berlangsung "produktif" dalam dua hari terakhir. Ia juga mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran sebagai bagian dari dinamika tersebut.

Namun, pemerintah Iran membantah seluruh klaim tersebut. Teheran menyebut tidak ada pembicaraan yang berlangsung dan menilai pernyataan Trump sebagai strategi politik, termasuk untuk memengaruhi harga energi global serta mengulur waktu terkait agenda militer.

Situasi ini menunjukkan masih adanya perbedaan tajam antara kedua pihak, meski di saat yang sama membuka kemungkinan adanya manuver diplomasi di balik layar terkait stabilitas kawasan dan jalur distribusi energi dunia.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE