Trump Terseret Lagi dalam Kasus Epstein, Nama Disebut Berkali-Kali dalam Dokumen DoJ

Trump Terseret Lagi dalam Kasus Epstein, Nama Disebut Berkali-Kali dalam Dokumen DoJ
- (Dok. ABC News).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Donald Trump kembali menghadapi badai politik setelah namanya dilaporkan muncul berkali-kali dalam dokumen Departemen Kehakiman AS (DoJ) terkait kasus Jeffrey Epstein. Hal ini diungkap oleh Wall Street Journal pada Rabu (24/7), di tengah meningkatnya tekanan dari Kongres AS yang juga memanggil Ghislaine Maxwell untuk memberikan kesaksian.

Menurut laporan tersebut, Trump diberi tahu langsung oleh Jaksa Agung Pam Bondi pada Mei lalu bahwa namanya tercantum dalam sejumlah berkas penyelidikan Epstein. Tak hanya Trump, beberapa tokoh terkenal lainnya juga disebut-sebut dalam dokumen yang jumlahnya disebut mencapai "se-truk penuh." Meski demikian, Departemen Kehakiman menyatakan tidak akan membuka lebih banyak dokumen ke publik.

Pihak Gedung Putih buru-buru menepis laporan tersebut. Juru bicara Trump, Steven Cheung, menyatakan bahwa presiden "mengusir Epstein dari klubnya karena sikapnya yang menjijikkan," dan menyebut laporan Wall Street Journal sebagai "narasi palsu dari media liberal."

Pekan lalu, Trump bahkan menggugat Wall Street Journal dan pemiliknya, Rupert Murdoch, sebesar 10 miliar dolar AS atas dugaan pencemaran nama baik. Gugatan itu terkait laporan yang menyebut adanya surat dengan nada seksual yang disebut-sebut ditandatangani Trump dalam album ulang tahun Epstein tahun 2003. Trump membantah keras hal itu.

Tak berhenti di situ, salah satu reporter Wall Street Journal juga dilarang naik Air Force One dalam perjalanan mendatang ke Skotlandia-sebuah langkah yang dinilai sebagai bentuk pembalasan dari Gedung Putih.

Sementara itu, gelombang kemarahan juga datang dari pendukung Trump sendiri, terutama setelah Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan lebih lanjut terhadap Epstein. Banyak pihak menduga ada "penutupan kasus" yang disengaja, dan nama Trump dalam dokumen justru memperkuat kecurigaan publik soal relasinya dengan jaringan Epstein.

Miliarder Elon Musk pun turut memanaskan suasana lewat cuitannya bulan lalu yang menyebut, "Trump ada di dalam berkas Epstein." Komentar itu langsung memicu spekulasi di dunia maya.

Sementara itu, Kongres AS bergerak cepat. Komite Pengawasan DPR AS telah menyetujui panggilan paksa (subpoena) untuk mendesak DoJ merilis dokumen Epstein. Mereka juga memanggil Ghislaine Maxwell untuk memberikan kesaksian di Lembaga Pemasyarakatan Federal di Tallahassee, Florida, pada 11 Agustus mendatang.

Ketua Komite, James Comer, mengatakan bahwa kesaksian Maxwell diperlukan sebagai bagian dari upaya legislasi untuk memperkuat hukum anti-perdagangan manusia serta mengevaluasi praktik perjanjian non-penuntutan dalam kasus kejahatan seksual.

Meski Epstein ditemukan tewas di selnya pada 2019-dinyatakan bunuh diri-dan Maxwell telah divonis 20 tahun penjara, misteri di balik jaringan dan daftar nama yang terlibat dalam kasus ini terus menjadi perhatian dunia. Kini, dengan nama Trump kembali muncul di tengah sorotan, kasus Epstein kembali menjadi topik panas di tahun pemilu.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE