Profil Karen Brooks: Eks Diplomat AS yang Disebut Dekat dengan Prabowo dan Sorotan Proyek Way Kambas

Mengenal Sosok Karen Brooks: Eks Diplomat AS yang Fasih Berbahasa Jawa

Profil Karen Brooks: Eks Diplomat AS yang Disebut Dekat dengan Prabowo dan Sorotan Proyek Way Kambas
Karen Brooks. - (Dok. Instagram).

JAKARTA, GENVOICE.ID -Nama Karen Brooks mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah sosoknya disebut-sebut dalam laporan investigasi terbaru memiliki kedekatan dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

Mantan diplomat senior Amerika Serikat ini menjadi perbincangan hangat menyusul mencuatnya rencana proyek wisata eksklusif dan perdagangan karbon di Taman Nasional Way Kambas yang bernilai triliunan rupiah.

Banyak masyarakat yang kini penasaran mengenai biodata, agama, hingga rekam jejak karier Karen Brooks yang dikenal mahir berbahasa Jawa dan memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara.

Lantas, siapa sebenarnya sosok pengusaha Amerika yang dikabarkan memiliki lobi kuat di pemerintahan Indonesia ini? Simak profil lengkap dan jejak karier Karen Brooks yang kini tengah menjadi sorotan media nasional!

Latar Belakang dan Pendidikan

Karen Brooks lahir dan besar di kawasan Eastern Long Island, Amerika Serikat. Ia memiliki latar belakang akademis yang sangat kuat, dengan gelar sarjana dari Princeton University dan gelar master dari Cornell University.

Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan linguistik yang luar biasa, ia fasih berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, Jawa, Mandarin, dan Thailand. Kemampuan ini menjadi jembatan bagi Brooks dalam membangun jaringan diplomasi yang luas di Asia Tenggara.

Jejak Karier di Pemerintahan Amerika Serikat

Sebelum terjun ke dunia bisnis, Brooks merupakan diplomat senior dengan rekam jejak mentereng di bawah dua kepemimpinan Presiden AS:

Selama karier diplomatiknya, ia dikenal sebagai negosiator ulung. Brooks pernah terlibat dalam misi rahasia terkait pencegahan terorisme dengan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, serta berperan dalam proses perdamaian Aceh tahun 2003 dan bantuan kemanusiaan pasca-tsunami 2004.

Transisi ke Sektor Swasta dan Investasi

Setelah keluar dari pemerintahan, Brooks mendirikan perusahaan konsultan bisnis. Saat ini, ia memegang jabatan strategis sebagai:

  1. Senior Advisor di TPG Capital, sebuah perusahaan ekuitas swasta global.

  2. Adjunct Senior Fellow untuk Asia di Council on Foreign Relations (CFR), New York.

  3. Terlibat dalam The Rise Fund, kendaraan investasi dampak sosial yang juga melibatkan tokoh dunia seperti Bono (vokalis U2).

Kontroversi Proyek di Taman Nasional Way Kambas

Nama Brooks kembali mencuat di tahun 2026 karena dilaporkan memiliki akses khusus ke Presiden Prabowo, bahkan disebut pernah menginap di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang. Fokus utamanya saat ini adalah pengembangan di Taman Nasional Way Kambas yang meliputi dua skema:

  • Wisata Eksklusif: Rencana pembangunan resort mewah dengan target wisatawan mancanegara berbiaya tinggi (sekitar 14.000 dolar AS per paket) serta pembangunan infrastruktur seperti landasan helikopter di dalam kawasan taman nasional.

  • Perdagangan Karbon: Melalui rehabilitasi hutan, proyek ini diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar dari penjualan kredit karbon di pasar internasional, dengan estimasi nilai mencapai Rp2,4 triliun.

Proyek ini memicu diskusi publik karena adanya perubahan aturan zonasi dan penerbitan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 (perubahan atas Perpres 98/2021).

Aturan baru ini diduga membuka celah komersialisasi dan perdagangan karbon di area konservasi yang sebelumnya dilarang, demi mengakomodasi rencana investasi tersebut.

Kehidupan Pribadi dan Filantropi

Karen Brooks saat ini menetap di Aspen, Colorado. Selain urusan bisnis, ia dikenal aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Setelah ibunya wafat akibat kanker otak, ia giat menggalang dana untuk riset kanker melalui kegiatan pendakian gunung.

Hobinya meliputi berkuda, ski, yoga, dan bermain piano, yang sering ia bagikan melalui media sosial pribadinya.

Sosok Karen Brooks bukan sekadar pengusaha biasa, melainkan figur dengan rekam jejak diplomasi yang sangat panjang di Asia Tenggara.

Munculnya nama Brooks dalam laporan media terkait proyek di Taman Nasional Way Kambas menunjukkan betapa besarnya pengaruh jaringan internasional dalam kebijakan strategis Indonesia, terutama di sektor konservasi dan ekonomi hijau.

Meski isu kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto dan perubahan regulasi perdagangan karbon memicu perdebatan, publik kini menantikan transparansi lebih lanjut dari pemerintah mengenai dampak nyata bagi kelestarian alam Lampung.

Apakah proyek ini benar-benar akan membawa keuntungan ekologis bagi Indonesia, atau justru menjadi babak baru komersialisasi kawasan lindung?

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE