Di Tengah Krisis London Fashion Week 2025, Kreativitas Desainer Tak Padam

N
Nayla Shabrina
Penulis
Beauty
Di Tengah Krisis London Fashion Week 2025, Kreativitas Desainer Tak Padam
- (Dok. The Fashion Spot).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Di balik gemerlap payet, bulu mata palsu yang dramatis, dan panggung megah, London Fashion Week (LFW) 2025 menghadapi kenyataan pahit, yakni anggaran yang menipis dan sorotan yang kalah saing dibandingkan Paris, Milan, dan New York.

Digelar hanya selama empat hari (setengah dari durasi Paris Fashion Week), dari 20 Februari sampai 24 Februari, LFW berjuang mempertahankan pamornya sebagai ajang mode bergengsi.

Meski dana terbatas, semangat dan kreativitas tetap menyala, seperti yang digaungkan SS Daley, brand yang didukung Harry Styles, mengatakan dirinya membuka show-nya dengan dentang Big Ben dan menampilkan sweater bertuliskan "Stay Faithful to Marianne" sebagai penghormatan untuk ikon mode Inggris, Marianne Faithfull.

Di akhir pertunjukan, bintang tamu Lucy Punch juga jadi rebutan selfie para penonton. Tak kalah unik, Completedworks menghadirkan Debi Mazar sebagai "pemandu acara belanja" yang sarkastis sambil menyeruput martini, menjajakan anting mutiara dengan gaya mermaid realness. Harris Reed pun mencuri perhatian di Tate Modern saat Florence Pugh membuka show dengan monolog tentang "seni berdandan."

iklan gulaku

Tidak dapat dipungkiri bahwa Inggris masih jadi rumah bagi desainer kelas dunia. Terbukti, para kreatifnya banyak dipercaya memimpin rumah mode ternama, seperti Sarah Burton di Givenchy, Peter Copping di Lanvin, dan Louise Trotter di Bottega Veneta.

Namun, meski bakatnya diakui global, data menunjukkan realitas yang kurang manis. Laporan dari Lefty mengungkapkan, Earned Media Value LFW September lalu hanya mencapai $20,9 juta, jauh dibandingkan New York ($132 juta), Milan ($250 juta), dan Paris ($437 juta).

Steven Stokey-Daley, otak kreatif di balik SS Daley, mengaku awalnya berencana tampil di Paris. Namun saat rencana itu batal, ia memutuskan hadir di London.

"Ada sedikit semangat yang lesu, perasaan hampa di LFW saat inu. Data menunjukkan bahwa London tidak mendapat perhatian yang sama (seperti kota mode lainnya), jadi ada perasaan bahwa desainer sedikit mengungsi," kata Daley, dikutip dari The Guardian pada Jumat, (21/2).

Meski demikian, ia tetap bangga membawa nuansa budaya Inggris ke atas panggung, terlihat dari koleksi terbarunya yang terinspirasi jaket klasik Inggris seperti duffle coat dan trench coat.

"Namun, London selalu baik kepada kami, dan kami pikir akan menyenangkan untuk melakukan sesuatu untuk membantu menciptakan kehebohan. Saya mencintai London dan kami sangat peduli dengan budaya Inggris," lanjut Daley.

Beberapa desainer kini memilih untuk tampil setahun sekali demi efisiensi. Conner Ives, misalnya, kembali hadir dengan show bertema musikal All That Jazz di Beaufort Bar, Savoy Hotel. Pergeseran tren yang semakin cair-dari jadwal dua kali setahun ke era "vibes" dan mikrotren-membuktikan bahwa mode tak lagi soal ritme baku, melainkan tentang relevansi dan kreativitas tanpa batas.

Meski tantangan menghadang, satu hal tetap jelas bahwa LFW bukan sekadar pekan mode, melainkan panggung di mana budaya, identitas, dan inovasi bersatu dalam balutan kain dan kreativitas.

  • Tag:
  • Fashion
  • London Fashion Week
  • Desainer

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today
Contraflow Tol Japek Arah Jakarta Dihentikan Gegara Hal Ini
Rivaldi Dani Rahmadi