7 Rekomendasi Film tentang Santri untuk Nobar Hari Santri Nasional 2026
JAKARTA, GENVOICE.ID - Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang kontribusi santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peringatan ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren, nilai pendidikan, persahabatan, hingga perjuangan para tokoh Islam melalui film.
Ada sejumlah film Indonesia yang mengangkat kehidupan santri dan pesantren, baik melalui kisah fiksi maupun cerita sejarah. Beberapa di antaranya juga menyoroti perjuangan tokoh agama dalam memajukan pendidikan dan mempertahankan kemerdekaan.
Berikut tujuh rekomendasi film yang bisa menjadi pilihan untuk acara nonton bareng (nobar) bersama teman, keluarga, atau komunitas pesantren saat Hari Santri Nasional 2026.
1. "Sang Kiai" (2013)
Film garapan Rako Prijanto ini mengangkat kisah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dalam menghadapi penjajahan Jepang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Cerita berpusat pada perjuangan KH Hasyim Asy'ari bersama para santri dan masyarakat di tengah tekanan pemerintah pendudukan Jepang. Film ini juga menggambarkan peran ulama dalam membangkitkan semangat perjuangan rakyat.
"Sang Kiai" cocok ditonton saat Hari Santri karena memperlihatkan hubungan antara pendidikan pesantren, nilai keagamaan, dan perjuangan mempertahankan bangsa.
2. "Negeri 5 Menara" (2012)
Diadaptasi dari novel karya Ahmad Fuadi, film "Negeri 5 Menara" mengikuti perjalanan Alif dan lima sahabatnya selama menempuh pendidikan di Pondok Madani.
Keenam sahabat tersebut memiliki latar belakang dan cita-cita berbeda. Di lingkungan pesantren, mereka belajar tentang kedisiplinan, persahabatan, serta pentingnya mempertahankan impian meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Film ini menampilkan kehidupan santri dari sisi pendidikan dan proses pendewasaan diri. Pesan tentang kerja keras dan keyakinan terhadap cita-cita membuatnya relevan ditonton bersama pelajar maupun komunitas pesantren.
3. "Sang Pencerah" (2010)
"Sang Pencerah" merupakan film biografi garapan Hanung Bramantyo yang menceritakan perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Film ini menggambarkan perjuangan Ahmad Dahlan dalam memperbarui pemahaman keagamaan dan mengembangkan pendidikan Islam di tengah berbagai tantangan sosial pada masanya.
Melalui kisah tersebut, penonton diajak melihat pentingnya pendidikan, pemikiran kritis, dan keberanian dalam memperjuangkan perubahan. Meski tidak secara khusus berfokus pada kehidupan santri, film ini relevan untuk mengenal kiprah ulama dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
4. "Perempuan Berkalung Sorban" (2009)
Film garapan Hanung Bramantyo ini mengisahkan Anissa, seorang perempuan yang tumbuh di lingkungan pesantren dan menghadapi berbagai batasan sosial dalam kehidupan keluarga maupun pendidikannya.
Cerita berfokus pada perjuangan Anissa dalam memperjuangkan hak dan kebebasannya di tengah lingkungan yang memiliki pandangan tertentu mengenai peran perempuan.
"Perempuan Berkalung Sorban" menawarkan sudut pandang berbeda dibandingkan film pesantren pada umumnya. Selain memperlihatkan kehidupan di lingkungan pesantren, film ini mengangkat persoalan relasi keluarga, pendidikan perempuan, dan penafsiran ajaran agama.
Film ini juga dapat menjadi bahan diskusi setelah nobar, terutama mengenai hubungan antara tradisi, pendidikan, dan kesetaraan.
5. "Cahaya Cinta Pesantren" (2016)
"Cahaya Cinta Pesantren" menghadirkan cerita kehidupan Shila, seorang remaja yang menjalani pendidikan di pesantren. Film ini memadukan kisah persahabatan, keluarga, pendidikan, dan romansa dalam keseharian para santri.
Berbagai pengalaman yang dialami Shila memperlihatkan proses adaptasi terhadap lingkungan baru, kedisiplinan, serta dinamika hubungan dengan teman-temannya.
Dengan pendekatan yang lebih ringan, film ini bisa menjadi pilihan bagi penonton yang ingin menikmati cerita kehidupan pesantren tanpa meninggalkan tema pertumbuhan karakter dan nilai kekeluargaan.
6. "Ketika Cinta Bertasbih" (2009)
Film yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy ini mengikuti kehidupan Khairul Azzam, mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Azzam harus membagi waktu antara kuliah, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, membantu keluarganya, dan menghadapi persoalan asmara. Perjalanan tersebut menguji ketekunan serta komitmennya terhadap nilai-nilai agama.
Walaupun tidak berfokus pada kehidupan pesantren, "Ketika Cinta Bertasbih" relevan dengan semangat pendidikan Islam dan perjuangan menuntut ilmu. Film ini bisa menjadi alternatif untuk acara nobar yang ingin mengangkat tema keimanan, tanggung jawab, dan kehidupan mahasiswa Muslim.
7. "Pesantren" (2022)
Bagi penonton yang ingin melihat kehidupan pesantren melalui pendekatan dokumenter, "Pesantren" karya Shalahuddin Siregar bisa menjadi pilihan.
Film ini mengamati kehidupan sehari-hari para santri di sebuah pesantren tradisional di Indonesia. Penonton diperlihatkan kegiatan belajar, interaksi antara santri dan pengajar, serta dinamika kehidupan dalam lingkungan pendidikan berbasis agama.
Berbeda dari film fiksi, dokumenter ini memberikan gambaran yang lebih dekat dengan keseharian di pesantren. Karya tersebut cocok bagi penonton yang ingin memahami kehidupan santri melalui pengalaman dan aktivitas mereka sehari-hari.
Makna Hari Santri Nasional
Hari Santri Nasional ditetapkan pada 22 Oktober untuk mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut mendorong ulama, santri, dan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.
Peringatan Hari Santri kemudian ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Sejak itu, 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang kontribusi santri dan pesantren dalam sejarah perjuangan serta pembangunan bangsa.
Menonton film bertema santri dan pesantren dapat menjadi salah satu cara untuk memperingati hari tersebut. Melalui kisah sejarah, pendidikan, persahabatan, dan kehidupan sehari-hari, penonton dapat mengenal beragam sisi kehidupan pesantren sekaligus memahami nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan santri.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!