JAKARTA, GENVOICE.ID - Tragedi kebakaran feri KM Barcelona 5 di perairan Sulawesi Utara pada Minggu (21/7) menewaskan tiga orang dan menyebabkan lebih dari 500 penumpang harus menyelamatkan diri dengan melompat ke laut. Salah satu kisah paling menyentuh dari insiden ini datang dari seorang bayi berusia dua bulan yang berhasil selamat meskipun paru-parunya sempat dipenuhi air laut.
Feri tersebut tengah berlayar dari Pelabuhan Melonguane di Kepulauan Talaud menuju Kota Manado ketika api mendadak muncul dari bagian atas kapal. Kobaran api cepat membesar, membuat ratusan penumpang panik dan melompat ke laut untuk menghindari maut. Video dan foto yang tersebar di media sosial memperlihatkan detik-detik mencekam ketika asap hitam dan api mengepung kapal, sementara penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan mengenakan jaket pelampung.
Tim penyelamat gabungan dari penjaga pantai, Basarnas, dan sejumlah kapal dan perahu karet dikerahkan untuk mengevakuasi para korban. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat ada 568 orang yang berhasil diselamatkan. Meski sempat dilaporkan lima orang meninggal dunia, angka tersebut direvisi menjadi tiga setelah dua korban yang sebelumnya dikira tewas ternyata berhasil diselamatkan, termasuk bayi dua bulan yang kini tengah mendapat perawatan medis intensif.
Proses pencarian masih terus dilakukan karena data penumpang belum bisa dipastikan. Kepala Basarnas Manado, George Leo Mercy Randang, menyebutkan bahwa posko darurat tetap dibuka 24 jam untuk menampung laporan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
Seorang penumpang selamat, Johan Rumewo, menceritakan detik-detik dramatis saat dirinya menyadari adanya kebakaran. "Saya terbangun dalam kepulan asap. Semua orang panik. Saya buru-buru mengambil jaket pelampung dan melompat ke laut. Hampir satu jam saya mengapung sebelum akhirnya diselamatkan," ujarnya.
Manifes kapal mencatat hanya 280 penumpang dan 15 awak di atas kapal. Namun, dugaan kuat menyebutkan bahwa jumlah orang yang berada di kapal jauh lebih banyak dari data resmi tersebut. Kondisi ini menambah sorotan terhadap lemahnya sistem pengawasan dan akurasi pendataan penumpang dalam pelayaran Indonesia.
Kebakaran ini menjadi insiden laut terbaru yang menambah daftar panjang kecelakaan kapal di Indonesia. Beberapa pekan sebelumnya, sebuah feri tenggelam di perairan Bali akibat cuaca buruk dan menewaskan sedikitnya 19 orang. Pemerintah didesak untuk segera membenahi sistem keselamatan transportasi laut agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!