Resmi Dilantik, Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama dalam Sejarah Jepang

Resmi Dilantik, Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama dalam Sejarah Jepang
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. - (Dok. AFP).

JAKARTA, Genvoice.id - Jepang mencatat sejarah baru di dunia politik. Sanae Takaichi, politikus konservatif dari Partai Liberal Demokrat (LDP), resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang pada Selasa (21/10/2025). Ia menjadi perempuan pertama yang menempati jabatan tertinggi pemerintahan Jepang sejak negara itu berdiri.

Takaichi terpilih melalui pemungutan suara di parlemen setelah koalisi LDP dan Japan Innovation Party (Ishin) meraih dukungan mayoritas. Ia menggantikan Shigeru Ishiba yang mengundurkan diri sehari sebelumnya. Dalam pemilihan di majelis rendah, Takaichi meraih 237 suara, unggul atas kandidat oposisi.

Upacara pelantikan berlangsung di Istana Kekaisaran Tokyo dan dipimpin langsung oleh Kaisar Naruhito. Dalam pidato perdananya, Takaichi menyebut terpilihnya dirinya sebagai tanggung jawab besar untuk membawa Jepang menuju masa depan yang stabil dan kuat.

"Ini bukan hanya kemenangan bagi saya, tetapi juga untuk seluruh warga Jepang yang menginginkan negara ini lebih tangguh, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi perubahan global," ujar Takaichi.

Ia sudah lama dikenal sebagai figur kuat di dalam LDP. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri serta Menteri Ekonomi dan Teknologi. Takaichi juga dikenal dekat dengan mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang menjadi mentor politiknya.

Sebagai pemimpin baru, Takaichi membawa agenda yang ambisius. Ia menegaskan akan fokus memperkuat perekonomian Jepang yang tengah tertekan oleh inflasi dan melemahnya nilai yen. Selain itu, ia juga berjanji memperkokoh aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat serta meninjau ulang konstitusi pasifis Jepang agar militer bisa lebih berperan aktif dalam menjaga keamanan nasional.

Namun, posisi Takaichi juga menuai kritik. Sejumlah pihak menilai pandangan politiknya terlalu konservatif. Ia diketahui menolak wacana perubahan sistem nama keluarga bagi pasangan menikah dan menentang suksesi perempuan dalam keluarga Kekaisaran Jepang.

Meski begitu, dukungan terhadap Takaichi tetap kuat. Banyak yang melihatnya sebagai simbol kebangkitan perempuan di dunia politik Jepang yang selama ini didominasi laki-laki.

F
Fahri Ramadhan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE