Kronologi Tenggelamnya KM Nurul Salsa dan Perkembangan Terbaru Operasi Pencarian Korban

Kronologi Tenggelamnya KM Nurul Salsa dan Perkembangan Terbaru Operasi Pencarian Korban
- (Dok. Wisata).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu kecelakaan laut yang menyita perhatian publik. Kapal yang melayani rute Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng itu dilaporkan mengalami gangguan mesin sebelum akhirnya karam di tengah cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Sejak insiden terjadi, operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Basarnas Makassar mengerahkan personel bersama TNI AL, TNI AU, Polairud, BPBD, Syahbandar, pemerintah daerah, nelayan, hingga relawan untuk mencari korban yang masih belum ditemukan.

KLM Nurul Salsa berangkat dari Pelabuhan Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 05.00 WITA. Pelayaran berlangsung normal hingga sekitar pukul 09.30 WITA ketika kapal berada di perairan barat Pulau Polassi.

Menurut informasi awal, mesin utama kapal mengalami gangguan sehingga kapal kehilangan kemampuan bermanuver. Pada saat bersamaan, kondisi cuaca memburuk disertai gelombang tinggi yang membuat situasi semakin sulit dikendalikan hingga akhirnya kapal tenggelam di Laut Flores.

Lokasi kejadian berada cukup jauh dari Pelabuhan Benteng, sehingga proses evakuasi membutuhkan dukungan berbagai armada laut dan udara. Tim penyelamat menggunakan kapal SAR, kapal perang TNI AL, kapal patroli, hingga perahu nelayan untuk menjangkau area pencarian yang luas.

Data korban terus mengalami perubahan seiring berlangsungnya proses identifikasi. Berdasarkan pembaruan terbaru, jumlah penumpang yang telah terdata mencapai 70 orang. Sebanyak 59 penumpang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, sementara sejumlah korban dinyatakan meninggal dunia dan sisanya masih dalam pencarian. Basarnas menegaskan jumlah tersebut masih dapat berubah sesuai hasil verifikasi di lapangan.

Operasi SAR dilakukan secara bertahap dengan memperluas area penyisiran berdasarkan analisis arus laut, arah angin, serta kondisi cuaca. Pada hari pertama, fokus pencarian diarahkan untuk menyelamatkan korban yang masih terapung di sekitar lokasi tenggelam. Beberapa penumpang berhasil dievakuasi oleh kapal nelayan sebelum dipindahkan ke kapal SAR untuk mendapatkan pertolongan medis.

Memasuki hari kedua, wilayah pencarian diperluas menggunakan KN SAR Kamajaya, KRI Marlin-877, kapal patroli, dan armada lainnya. Tim gabungan menyisir jalur yang diperkirakan menjadi arah hanyut korban berdasarkan pergerakan arus laut.

Pada hari ketiga, operasi diperkuat dengan dukungan pesawat Boeing B737-200 milik TNI AU dari Lanud Sultan Hasanuddin. Pemantauan udara dilakukan untuk membantu mengidentifikasi sektor pencarian baru yang sulit dijangkau armada laut.

Hingga hari keempat dan kelima, penyisiran terus diperluas ke wilayah perairan yang lebih jauh, termasuk kawasan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), karena diduga sebagian korban terbawa arus.

Salah satu perkembangan yang paling menyita perhatian adalah ditemukannya lima penumpang dalam keadaan selamat setelah bertahan hampir empat hari di tengah laut. Mereka berhasil mempertahankan hidup dengan berpegangan pada rumpon atau alat bantu penangkapan ikan milik nelayan, serta memanfaatkan jaket pelampung hingga akhirnya ditemukan kapal yang melintas di sekitar perairan Sangeang, Nusa Tenggara Barat.

Meski begitu, operasi pencarian masih menghadapi berbagai kendala. Gelombang tinggi, perubahan arah angin, luasnya wilayah pencarian, serta keterbatasan komunikasi di beberapa titik menjadi tantangan yang harus dihadapi tim SAR. Karena itu, strategi penyisiran terus disesuaikan berdasarkan evaluasi kondisi di lapangan.

Selain melakukan pencarian korban, aparat berwenang juga mulai menyelidiki penyebab pasti tenggelamnya kapal. Sejumlah faktor yang masih didalami antara lain gangguan pada mesin utama, dugaan pompa pembuangan air yang tidak bekerja optimal, masuknya air ke lambung kapal, kondisi cuaca ekstrem, hingga kesesuaian jumlah penumpang dengan manifest. Kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan baru akan ditetapkan setelah proses investigasi selesai.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar turut mendukung penanganan musibah dengan membuka posko informasi, menyalurkan bantuan logistik, memberikan layanan kesehatan, serta mendampingi keluarga korban selama proses pencarian berlangsung.

Basarnas mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi melalui keterangan resmi dari instansi terkait. Data korban maupun hasil operasi pencarian masih dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan, sementara tim SAR terus berupaya menemukan seluruh korban yang belum berhasil dievakuasi.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE