Geger! BRIN Temukan Jejak Tsunami Purba 1.800 Tahun di Selatan Jawa, Potensi Megathrust M9?
BRIN ungkap temuan mengejutkan jejak tsunami purba berusia 1.800 tahun di pesisir selatan Jawa yang diyakini dipicu gempa megathrust berkekuatan M9.
JAKARTA, GENVOICE.ID - BRIN menemukan jejak tsunami purba berusia 1.800 tahun di pesisir selatan Jawa yang diduga dipicu gempa megathrust M9.
Ada temuan ilmiah yang bikin kita wajib lebih waspada soal potensi bencana di pesisir selatan Jawa. Tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN baru saja mengungkap lapisan sedimen yang diinterpretasikan sebagai endapan tsunami purba berumur sekitar 1.800 tahun.
Jejak serupa mereka telusuri di beberapa titik berjajar: Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Kulon Progo (DIY), sampai Pacitan (Jawa Timur).
Temuan lintas lokasi dengan umur berdekatan ini mengisyaratkan satu peristiwa tsunami sangat besar yang menyapu panjang garis pantai selatan Jawa di masa lampau.
Peneliti sedimentologi BRIN, Purna Sulastya Putra, menegaskan tsunami dahsyat bukan cuma yang kita ingat dari kejadian Aceh 2004. Menurutnya, data lapangan menunjukkan wilayah ini sudah pernah "disentuh" kejadian serupa jauh sebelum era pencatatan modern.
Paleotsunami sendiri adalah cabang riset yang mengidentifikasi tsunami tua melalui "sidik jari" geologis, misalnya lapisan pasir laut yang nampak di daratan, bercampur fragmen cangkang atau mikrofauna laut, terperangkap di atas lapisan tanah biasa.
Karena lapisan endapan yang umurnya mirip muncul di beberapa lokasi terpencar, peneliti menduga pemicunya gempa megathrust berkekuatan sekitar magnitudo 9 atau lebih di zona subduksi selatan Jawa.
Purna menegaskan, ini bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan pengingat bahwa siklus energi tektonik bisa menghasilkan kejadian berulang di masa depan.
Sisi lain yang disorot: perkembangan infrastruktur modern, mulai Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), jaringan hotel, restoran, hingga destinasi wisata, secara ekonomi memang positif, tapi sekaligus menambah paparan jika tsunami besar kembali terjadi.
Di Kulon Progo, lapisan tsunami purba ditemukan hanya sekitar dua kilometer dari bandara, memperjelas urgensi integrasi data geologi dalam perencanaan ruang.
Tim juga mengidentifikasi adanya lapisan-lapisan tsunami yang lebih muda di beberapa titik (Kulon Progo, Lebak, Pangandaran), menandakan bukan satu kali kejadian. Jadi, bukan "one-off event", melainkan potensi seri peristiwa pada rentang berbeda dalam ribuan tahun.
Purna menekankan perlunya semua pemangku kepentingan, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas wisata, hingga warga lokal, mengambil langkah berbasis sains.
Riset paleotsunami, kata dia, harus diterjemahkan jadi kebijakan nyata: zonasi rawan tsunami, penataan ulang tata ruang pesisir, desain jalur evakuasi vertikal, sampai latihan evakuasi rutin di kawasan wisata pantai yang ramai.
Harapannya, temuan ini tidak berhenti sebagai laporan teknis, tapi jadi pijakan penyusunan regulasi mitigasi yang presisi: dari modeling ketinggian run-up, penempatan sirene, papan rambu, hingga skenario crowd management saat musim liburan.
Dengan kolaborasi lintas sektor, pembangunan bisa tetap maju, namun adaptif, aman, dan berkelanjutan di wilayah rawan bencana.
Temuan tsunami purba ini jadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa memiliki potensi bencana besar yang harus diantisipasi melalui mitigasi berbasis sains dan perencanaan ruang yang matang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!