Tradisi Injak Bumi Warnai Lebaran di Jambi, Bayi yang Belajar Jalan Dibawa ke Halaman Masjid

Tradisi Injak Bumi Warnai Lebaran di Jambi, Bayi yang Belajar Jalan Dibawa ke Halaman Masjid
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Suasana mendung menyelimuti langit Kota Jambi pada Sabtu pagi saat jamaah mulai memadati Masjid Jami Ba'alawi di kawasan Kota Jambi Seberang untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Namun bagi masyarakat setempat, Lebaran bukan hanya tentang ibadah dan silaturahmi, melainkan juga momentum menjalankan tradisi turun-temurun bernama Injak Bumi.

Tradisi ini khusus dilakukan bagi keluarga yang memiliki bayi yang sedang dalam tahap belajar berjalan. Setelah salat Id selesai, para orang tua membawa anak mereka ke halaman masjid untuk didoakan oleh para tokoh agama yang telah berkumpul.

Tanpa banyak prosesi formal, bayi diserahkan kepada tokoh agama, lalu didoakan sambil diusap kepalanya. Setelah itu, bayi diturunkan hingga kakinya menyentuh tanah, kemudian dikembalikan ke pelukan orang tua. Prosesi ini diyakini sebagai simbol pengenalan anak terhadap bumi tempat ia hidup, sekaligus memohon perlindungan dan keberkahan.

Usai ritual, orang tua biasanya menaburkan bunga dan uang logam ke udara. Uang tersebut langsung diperebutkan anak-anak yang sudah menunggu di sekitar halaman masjid, menambah suasana meriah di tengah perayaan Lebaran.

Warga Arab Melayu, Abu Umar, mengatakan tradisi injak bumi sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka, ketika kawasan Jambi Seberang mulai dihuni masyarakat lokal dan keturunan Arab.

Menurutnya, ritual tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup seorang anak dalam masyarakat setempat. Ia berharap doa para tokoh agama membuat anaknya tumbuh sehat dan memiliki akidah yang kuat.

Hal senada disampaikan Megawati, salah satu warga yang membawa anaknya mengikuti ritual. Ia mengaku selalu mengikutsertakan anak-anaknya dalam tradisi tersebut karena merasa ada yang kurang jika tidak menjalankannya saat Lebaran.

Tokoh agama setempat, Abdulah Hamid, menjelaskan bahwa injak bumi merupakan warisan leluhur yang memiliki dimensi spiritual. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat tinggal baru sekaligus doa agar terhindar dari gangguan dan marabahaya.

Doa yang dibacakan berisi permohonan perlindungan kepada Allah SWT agar anak dijauhkan dari gangguan setan, iblis, maupun bahaya lain ketika mulai menapaki kehidupan.

Sementara itu, khatib masjid, Majdi Hasan Musa, menilai masyarakat Melayu Jambi memiliki kekayaan adat dan nilai yang harus dijaga. Ia mengingatkan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada perpaduan agama, adat, dan keharmonisan keluarga.

Menurutnya, Lebaran menjadi waktu terbaik untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menjaga adab dalam bertutur serta bersikap, karena nilai-nilai itulah yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Melayu di tepian Sungai Batanghari.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE