Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla, Benarkah Efektif? Ini Hasil Uji Coba di Palembang
BNPB Mencoba Teknologi Dry Ice untuk Mengatasi Asap Karhutla di Sumatra Selatan, tetapi Pengaruh Cuaca dan Kondisi Atmosfer Masih Perlu Diteliti.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Indonesia. Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menguji penggunaan dry ice atau es kering sebagai salah satu upaya mengurai asap pekat yang terperangkap di atmosfer.
Berbeda dari operasi modifikasi cuaca (OMC) konvensional yang umumnya bertujuan memicu hujan, uji coba dry iceini diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang membuat asap sulit bergerak. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan jarak pandang sehingga mendukung penanganan karhutla, termasuk aktivitas penerbangan untuk operasi kebencanaan.
Meski demikian, perubahan kondisi udara setelah penyemaian belum otomatis membuktikan bahwa teknologi tersebut efektif. Pengaruh angin, turbulensi, dan dinamika atmosfer lainnya perlu diperhitungkan untuk memastikan apakah perubahan yang terjadi memang berkaitan dengan penggunaan dry ice.
Mengenal Cara Kerja Dry Ice untuk Mengurai Asap
Dry ice merupakan karbon dioksida (CO2) dalam bentuk padat dengan suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Material ini mengalami sublimasi, yakni perubahan langsung dari bentuk padat menjadi gas tanpa melalui fase cair.
Dalam modifikasi atmosfer, dry ice dapat memicu pembentukan kristal es ketika disemai pada awan yang memiliki tetesan air superdingin. Kristal es tersebut dapat tumbuh dan berpotensi menghasilkan presipitasi apabila kondisi atmosfer mendukung.
Penggunaan dry ice dalam modifikasi cuaca bukan teknologi baru. Pada 1946, Vincent Schaefer dari General Electric menemukan bahwa penyemaian es kering dapat memicu pembekuan tetesan air dalam kondisi sangat dingin, yang kemudian menjadi salah satu tonggak perkembangan ilmu modifikasi cuaca.
Namun, dalam uji coba penanganan asap karhutla di Palembang, perhatian juga diarahkan pada lapisan inversi atmosfer. Lapisan ini merupakan kondisi ketika suhu udara meningkat pada ketinggian tertentu sehingga pergerakan udara secara vertikal terhambat dan asap dapat terperangkap di dekat permukaan.
Penyemaian dry ice diharapkan dapat memengaruhi kondisi atmosfer tersebut sehingga pergerakan asap menjadi lebih dinamis. Meski begitu, mekanisme dan dampaknya tetap membutuhkan pengamatan ilmiah untuk memastikan hasil yang diperoleh.
Hasil Uji Coba Dry Ice di Palembang
BNPB menggelar uji coba penyemaian dry ice di sekitar Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatra Selatan, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Operasi dilakukan melalui dua sorti penerbangan pada ketinggian sekitar 4.500 kaki dengan total penggunaan 1.600 kilogram dry ice.
Berdasarkan pengamatan BNPB pada hari pelaksanaan, jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian meningkat dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter. Perubahan tersebut menjadi indikasi awal adanya perbaikan kondisi atmosfer di wilayah operasi.
Selain jarak pandang, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, menyampaikan adanya penurunan konsentrasi PM2.5 setelah uji coba berlangsung. PM2.5 merupakan partikel halus berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berdampak terhadap kesehatan.
"Kemarin, satu jam setelah operasi dry ice terjadi penurunan tingkat PM2.5 yang terukur di Staklim Musi II mulai pukul 14.00 WIB," ungkap Wandayantolis, Jumat, 16 Oktober 2026.
Meski demikian, Wandayantolis mengingatkan bahwa penurunan PM2.5 tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan penggunaan dry ice. Pengamatan lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan konsentrasi partikel dipengaruhi penyemaian atau faktor lain, termasuk kecepatan angin.
Apa Bedanya dengan OMC Konvensional?
OMC konvensional umumnya dilakukan dengan menyemai bahan seperti natrium klorida (NaCl) atau garam untuk membantu proses pembentukan tetesan air pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Keberhasilan metode tersebut sangat bergantung pada ketersediaan awan dengan karakteristik yang sesuai.
Pada awal September 2026, BNPB menyebut kondisi atmosfer yang kering dan panjangnya periode tanpa hujan menjadi hambatan dalam pelaksanaan OMC di sejumlah wilayah rawan karhutla. Ketersediaan awan dan air juga menjadi faktor yang memengaruhi pelaksanaan operasi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat upaya modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan secara optimal di beberapa daerah.
"Ada beberapa hambatan seperti yang kami sampaikan tadi: masalah hari tanpa hujan yang panjang, keringnya atmosfer, dan juga ketersediaan air, serta asap itu sendiri mengganggu operasi untuk pemadaman," ujar Berton dalam konferensi pers pada 1 September 2026.
Sementara itu, uji coba dry ice untuk mengurai asap diarahkan pada kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap. Metode ini tidak harus menunggu keberadaan awan hujan untuk menjalankan tujuan penguraiannya, meskipun pembentukan kristal es dan awan tetap bergantung pada kondisi atmosfer yang sesuai.
Dengan perbedaan sasaran tersebut, kedua metode tidak dapat dianggap sepenuhnya saling menggantikan. OMC konvensional berfokus pada upaya memicu hujan, sedangkan uji coba dry ice ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang berkaitan dengan penumpukan asap.
Seberapa Efektif Dry Ice Menangani Karhutla?
Peningkatan jarak pandang dan penurunan PM2.5 setelah uji coba menjadi temuan awal yang perlu diteliti lebih lanjut. Untuk membuktikan efektivitas dry ice, peneliti perlu membedakan dampak penyemaian dari perubahan alami atmosfer yang juga dapat memengaruhi konsentrasi asap.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Djoko Gunawan, menilai keberhasilan uji coba tidak cukup diukur hanya dari perubahan jarak pandang setelah operasi. Pengamatan ilmiah diperlukan untuk mengetahui hubungan antara penyemaian, pembentukan awan, dan perubahan konsentrasi partikel di udara.
Djoko menjelaskan bahwa atmosfer ketika terjadi karhutla dapat terdiri atas beberapa lapisan, termasuk lapisan batas atmosfer yang mengandung asap pekat dan PM2.5 serta lapisan inversi yang menghambat pergerakan udara vertikal. Di atas lapisan tersebut, kondisi udara bisa berbeda dan memungkinkan perkembangan awan apabila faktor pendukungnya tersedia.
"Awan potensial berkembang di atas lapisan asap. Apabila dry ice ditaburkan dari pesawat atau drone pada ketinggian tertentu, efek pendinginan lokal dan pembentukan kristal es harus dibedakan dari proses alami yang dipicu aerosol asap," terang Djoko kepada Tirto, Jumat, 16 Oktober 2026.
Untuk mengevaluasi dampaknya, pengamatan dapat dilakukan menggunakan radar cuaca, satelit, dan instrumen pengukur aerosol. Parameter yang diperhatikan antara lain reflektivitas radar, pertumbuhan inti awan, tinggi puncak awan, serta perubahan konsentrasi partikel sebelum dan sesudah penyemaian.
Djoko juga memaparkan penggunaan tracer gas atau gas penanda dalam eksperimen ilmiah untuk melacak massa udara yang terkena penyemaian. Gas penanda seperti SF6 atau perfluorocarbon tracer dapat digunakan dalam rancangan penelitian tertentu, kemudian dideteksi melalui pengukuran atmosfer menggunakan pesawat atau drone.
"Kemudian pesawat sampling drone atmosfer melakukan pengukuran konsentrasi tracer. Keberadaan tracermenunjukkan lokasi massa udara yang benar-benar terkena penyemaian," tutupnya.
Dengan demikian, hasil uji coba di Palembang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa dry ice terbukti efektif mengatasi asap karhutla secara menyeluruh. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengukur dampak teknologi tersebut terhadap kondisi atmosfer dan kualitas udara, sekaligus memastikan manfaatnya bagi penanganan kebakaran.
Hal yang juga perlu diperhatikan, berkurangnya ketebalan asap tidak berarti sumber kebakaran telah padam. Upaya mengurai asap perlu berjalan beriringan dengan pemadaman sumber api, pencegahan kebakaran baru, serta perlindungan masyarakat dari paparan polusi udara.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!