Biaya Hidup Mencekik, Demo Prancis Meledak hingga Toko Brand Mewah Dijarah
Ribuan demonstran menyuarakan keresahan soal ekonomi dan ketimpangan sosial. Di tengah aksi, sejumlah kelompok massa terlibat bentrokan dan merusak toko serta gedung publik.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Demonstrasi yang menentang kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik di Prancis berubah menjadi kerusuhan di sejumlah kota. Aksi yang awalnya berlangsung damai kemudian diwarnai bentrokan, pembakaran, perusakan hingga penjarahan toko, termasuk butik brand mewah.
Ratusan ribu orang turun ke jalan di puluhan kota pada Sabtu (17/10/2026) untuk menyampaikan keresahan terkait kondisi ekonomi dan layanan publik. Namun, di tengah aksi tersebut, sejumlah kelompok massa melakukan tindakan kekerasan dengan menyerang gedung pemerintah, merusak kendaraan, berhadapan dengan polisi serta menjarah toko dan supermarket.
Kerusuhan terjadi di sejumlah wilayah Prancis. Di Limoges, balai kota dibakar, sedangkan di Marseille sekelompok demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke kantor wali kota dan mencoret bangunan dengan grafiti bernuansa anarkis.
Di Lyon, massa membakar kantor pariwisata kota. Sementara di Paris, sejumlah toko dan fasilitas umum mengalami kerusakan setelah kelompok pemuda bertopeng melakukan aksi vandalisme dan penjarahan.
Berawal dari Keluhan Biaya Hidup
Gelombang demonstrasi tersebut disebut bermula dari aksi di sejumlah sekolah menengah di kawasan pinggiran utara Paris sekitar sebulan sebelumnya. Para pelajar memprotes kekurangan guru dan buruknya fasilitas pendidikan sebelum tuntutan mereka berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Isu yang kemudian dibawa ke jalan mencakup tingginya biaya hidup, ketimpangan sosial, pengeluaran pemerintah serta kualitas layanan publik. Aksi tersebut berlangsung sekitar enam bulan sebelum pemilihan presiden Prancis yang dijadwalkan pada 2027.
Para demonstran menggunakan rompi berwarna terang saat memblokir sejumlah jalan. Pemandangan tersebut mengingatkan pada gerakan "Rompi Kuning" atau Yellow Vest yang pernah mewarnai pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Paris mengatakan dirinya ikut turun ke jalan karena biaya hidup semakin berat. Ia juga menyinggung persoalan harga bahan bakar dan kondisi pendidikan.
"Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi, karena harga bahan bakar terlalu mahal, karena siswa sekolah menengah diserang dan dilukai secara brutal di seluruh negeri hanya karena mencoba memprotes dan meminta lebih banyak guru dan kondisi belajar yang layak," kata Lola.
Keluhan serupa disampaikan Regine Monfroid, seorang guru di Strasbourg. Ia mengaku lelah dengan kondisi ketika pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari.
"Kami sudah muak bekerja keras dengan upah yang sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik," ujar Regine kepada AFP.
Tuntutan Meluas ke Isu Politik
Selain persoalan ekonomi dan layanan publik, sejumlah demonstran juga membawa isu politik dalam aksi tersebut. Di Paris, puluhan ribu orang berjalan dalam aksi besar sambil meneriakkan slogan yang menentang polisi dan meminta Macron mundur.
Siswa sekolah menengah berusia 18 tahun, Kamil Alahyan, mengatakan dirinya mengikuti demonstrasi karena sejumlah alasan, termasuk pemilu 2027, kekecewaan terhadap politisi dan ketimpangan kekayaan. Sebagian demonstran bahkan membandingkan aksi tersebut dengan Revolusi Prancis 1789.
"Ini adalah Revolusi, kita sedang merebut Bastille!" teriak sejumlah demonstran di Marseille ketika menerobos masuk ke kantor wali kota.
Di La Rochelle, Prancis bagian barat, massa juga membawa poster bertuliskan "Revolusi atau mati." Slogan-slogan tersebut menunjukkan bahwa tuntutan dalam demonstrasi telah berkembang jauh dari persoalan biaya hidup semata.
Mengapa Demo Berubah Menjadi Rusuh?
Sebagian besar aksi dimulai sekitar tengah hari dan berlangsung dalam skala besar. Namun, di sejumlah lokasi muncul kelompok massa yang melakukan kekerasan dan bentrok dengan aparat keamanan.
Di Paris, polisi menggunakan gas air mata ketika menghadapi demonstran yang melempar benda dan menyalakan kembang api ke arah petugas. Polisi juga mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa.
Sejumlah perusuh mencoba masuk ke department store Galeries Lafayette. Toko Lacoste dan sejumlah butik lainnya dilaporkan dijarah, sementara toko telepon seluler SFR juga menjadi sasaran.
Selain penjarahan, sejumlah kendaraan dan benda lain dibakar sepanjang aksi. Massa yang terlibat bentrokan banyak mengenakan pakaian hitam, hoodie, masker dan kacamata yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari paparan gas air mata.
Kerusuhan juga terjadi di luar Paris. Di Saint-Etienne, seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya setelah ledakan granat pengendali massa.
Cara polisi menangani demonstrasi kemudian menuai kritik. Lembaga pengawas kepolisian Prancis disebut tengah menyelidiki puluhan dugaan kekerasan yang dilakukan aparat selama rangkaian aksi.
Sekitar 1.200 Orang Ditangkap
Pemerintah Prancis menyatakan tidak akan mundur menghadapi kerusuhan yang terjadi. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menuding kelompok sayap kiri ekstrem dan pelaku kriminal berada di balik aksi kekerasan tersebut.
"Kepada mereka yang jelas-jelas ingin menggunakan kekerasan ini sebagai 'pemanasan' sebelum pemilihan presiden, saya katakan dengan tegas kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak seorang pun akan memaksakan agenda politik mereka melalui kekerasan," tulis Lecornu melalui akun X.
Sekitar 1.200 orang telah ditangkap dalam rangkaian demonstrasi tersebut. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut sekitar 550.000 orang mengikuti aksi di seluruh Prancis, sedangkan serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai sekitar 800.000 orang.
Lecornu juga menyebut lebih dari 150 polisi terluka dalam kerusuhan. Sementara itu, Presiden Emmanuel Macron berjanji akan menindak orang-orang yang melakukan serangan dan kekerasan.
"Kita semua akan bersatu melawan para penebar kekacauan, yang hanya berusaha merusak institusi kita dan mencegah mereka yang secara damai menyampaikan tuntutan mereka untuk melakukannya," tulis Macron melalui X.
Protes Menyebar ke Negara Eropa Lain
Gelombang protes terkait biaya hidup juga terjadi di sejumlah negara Eropa lainnya. Belgia, Portugal dan Italia menghadapi aksi demonstrasi pada Sabtu, sementara Albania juga diguncang aksi massa yang membawa persoalan korupsi, lapangan kerja dan kualitas pendidikan.
Di Brussels, Belgia, beberapa ratus orang yang mayoritas merupakan anak muda turun ke jalan. Sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi setelah mahasiswa memprotes kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang dinilai dapat membuat pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau.
Di Portugal, puluhan ribu orang melakukan aksi di Lisbon setelah beberapa hari sebelumnya terjadi kerusuhan. Mereka memprotes tingginya biaya perumahan dan kebutuhan hidup lainnya, dengan harga rumah di negara tersebut disebut telah meningkat dua kali lipat sejak 2017.
Sementara di Italia, aksi menentang tingginya biaya hidup di Milan berubah menjadi kericuhan. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa di sekitar alun-alun katedral, sedangkan aparat di Bologna mengerahkan meriam air dan menangkap tujuh orang setelah demonstrasi berubah menjadi kekerasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!