Dari Tasya Farasya hingga Ustaz Adi Hidayat, Ini Artis yang Keluhkan Masalah Akun Usai Bahas Karhutla
Keluhan soal dugaan shadow ban mencuat setelah sejumlah figur publik aktif membagikan konten karhutla. Ada yang mengalami penurunan viewers hingga akun sempat tidak bisa digunakan.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sejumlah artis dan influencer Indonesia mengeluhkan dugaan shadow ban setelah aktif menyuarakan isu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah. Keluhan tersebut muncul setelah beberapa figur publik mengaku mengalami penurunan jumlah penonton hingga akun mereka sempat tidak dapat digunakan.
Shadow ban merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika jangkauan atau visibilitas sebuah akun dan konten di media sosial diduga dibatasi oleh platform. Kondisi ini biasanya sulit diketahui secara langsung karena pengguna tidak selalu mendapatkan pemberitahuan bahwa akunnya sedang mengalami pembatasan.
Sejumlah artis mengaku mengalami perubahan jumlah penonton yang cukup drastis setelah mengunggah atau membagikan konten mengenai karhutla. Salah satu yang mengungkapkannya adalah Tasya Farasya melalui unggahan di Threads.
Tasya Farasya Klaim Viewers Turun Drastis
Tasya Farasya membandingkan jumlah penonton Instagram Story miliknya sebelum dan setelah dirinya ikut menyuarakan persoalan karhutla. Ia menyebut jumlah penonton yang biasanya mencapai lebih dari satu juta tiba-tiba turun jauh.
Dalam unggahannya, Tasya memperlihatkan perbandingan jumlah penonton sebelum dan sesudah dirinya membagikan konten mengenai karhutla. Ia menuliskan, "Stories aku biasanya VS story aku saat speak up."
Perubahan tersebut kemudian membuat dugaan mengenai pembatasan jangkauan akun kembali ramai diperbincangkan. Namun, penurunan jumlah penonton dalam sebuah unggahan belum secara otomatis membuktikan bahwa sebuah akun terkena shadow ban.
Andien Juga Mengaku Mengalami Penurunan Viewers
Penyanyi Andien turut menyampaikan pengalaman serupa setelah berkali-kali membagikan ulang informasi mengenai karhutla. Ia menduga aktivitas tersebut membuat jangkauan akun Instagram miliknya mengalami perubahan.
"Kayaknya kena shadow ban di IG karena repost2 karhutla tiada henti. Mau promoin video klip baru tapi viewersnya drop," ujar Andien.
Keluhan tersebut muncul ketika Andien berencana mempromosikan video klip barunya. Penurunan jumlah penonton membuatnya mempertanyakan apakah akun miliknya memang mengalami pembatasan jangkauan.
Akun Ustaz Adi Hidayat Sempat Dibanned
Kondisi berbeda dialami Ustaz Adi Hidayat atau UAH yang mengaku akun miliknya sempat terkena banned sementara. Pendakwah tersebut menyebut pembatasan terjadi ketika dirinya membahas isu karhutla melalui akun media sosialnya.
"Qadarallah... akun perjuangan kita terkena banned sementara karena membahas isu karhutla. Kemarin 2x terbanned dalam kurun waktu subuh dan ashar," tulis UAH.
Akibat pembatasan tersebut, akun UAH tidak dapat digunakan seperti biasa dan ia harus mengajukan banding. Ia kemudian membagikan informasi mengenai kondisi akunnya kepada para pengikut.
Keluhan Tidak Hanya Datang dari Artis
Dugaan pembatasan akun juga disampaikan sejumlah pengguna media sosial lainnya. Keluhan serupa muncul dari pengguna TikTok hingga Facebook yang mengaku mengalami masalah setelah membagikan ulang konten mengenai kebakaran hutan.
Beberapa pengguna mengaku akun mereka tiba-tiba tidak dapat diakses atau mendapatkan peringatan setelah mengunggah ulang informasi mengenai karhutla. Ada pula yang mengeluhkan jumlah pengikut dan jangkauan konten mengalami perubahan setelah aktif membahas isu tersebut.
Situasi tersebut kemudian membuat perbincangan mengenai dugaan shadow ban semakin ramai. Meski begitu, pengalaman pengguna di media sosial tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa platform secara sengaja membatasi konten tertentu karena membahas karhutla.
Jefri Nichol hingga Jerome Polin Ikut Bersuara
Sejumlah figur publik lain juga ikut menyampaikan keresahan terkait dugaan pembatasan konten karhutla. Jefri Nichol bahkan menyinggung Kementerian Komunikasi dan Digital melalui unggahan di media sosial.
"Si paling kalian memang, paling ga guna!" tulis Jefri Nichol.
Hesti Purwadinata juga mempertanyakan dugaan banyaknya akun yang mengalami pembatasan setelah membagikan informasi mengenai karhutla. "Apaan sih jahat banget, yang info karhutla katanya banyak yang kena banned ya. Kok gitu sih. Judol yang dibanned, berita bener malah dishadow ah," tulisnya.
Sementara itu, Jerome Polin mengajak pengguna media sosial untuk tetap menyebarkan informasi mengenai kondisi karhutla. "Kita lawan shadow ban guys! Ayo terus bersuara dan raise awareness sampe semua orang sadar how chaos is the situation right now. Rakyat bantu rakyat!" serunya.
BMKG Catat Sebaran Asap di 27 Provinsi
Di tengah ramainya pembahasan mengenai karhutla, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga memantau sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan citra Satelit Himawari-9 pada Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, terdapat 27 provinsi yang terdeteksi mengalami sebaran asap.
Dalam pemantauan tersebut, DKI Jakarta tidak lagi masuk dalam daftar wilayah yang terdeteksi sebaran asap. Banten menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Jawa yang tercatat mengalami sebaran asap pada waktu tersebut.
Kondisi itu berbeda dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya, Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB. Saat itu, terdapat 31 provinsi yang terdeteksi sebaran asap, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Daftar Wilayah Terdampak Sebaran Asap
Pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB, 31 provinsi yang terdeteksi mengalami sebaran asap meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Sementara itu, pada Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, 27 provinsi yang terdeteksi sebaran asap adalah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
BMKG juga mencatat adanya transboundary haze atau kabut asap lintas negara. Sebaran asap dari Sumatra terdeteksi bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, sedangkan asap dari Kalimantan bergerak menuju Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura.
Pada Sabtu siang, sebaran asap di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Khusus wilayah Banten, sebaran asap bergerak ke arah barat daya hingga barat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!