Bukan Cuma Bikin Berat Badan Naik, Ngemil Larut Malam Juga Dikaitkan dengan 2 Penyakit Liver
Studi menemukan hubungan antara makan malam yang tidak teratur dan risiko sirosis serta MASLD, meski faktor tidur dan jenis camilan masih perlu diteliti lebih jauh.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kebiasaan membuka kulkas atau mencari camilan seperti biskuit dan keripik menjelang tidur ternyata perlu diperhatikan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kebiasaan makan larut malam berkaitan dengan peningkatan risiko dua penyakit hati atau liver, yakni sirosis dan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology tersebut menganalisis data dari 199.155 orang dengan usia median 59 tahun. Para peserta merupakan bagian dari penelitian kesehatan jangka panjang dan secara berkala mengisi kuesioner mengenai pola makan serta gaya hidup setiap dua hingga empat tahun.
Peneliti dari Oregon Health and Science University (OHSU) dan Massachusetts General Hospital menemukan bahwa orang yang terbiasa makan larut malam memiliki risiko sirosis 28 persen lebih tinggi dan risiko MASLD 36 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki waktu makan lebih teratur. Meski demikian, hasil penelitian ini menunjukkan hubungan statistik dan belum membuktikan bahwa kebiasaan makan malam secara langsung menyebabkan kedua penyakit tersebut.
Makan Larut Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Liver
Dalam penelitian tersebut, makan larut malam didefinisikan sebagai kebiasaan mengonsumsi makanan setelah waktu tidur atau di antara waktu makan malam dan tidur. Kebiasaan ini dapat mencakup aktivitas ngemil menjelang tidur, meskipun penelitian tersebut tidak merinci jenis makanan yang dikonsumsi peserta.
Peneliti juga mencatat bahwa sirosis tetap tergolong jarang dalam kelompok yang diteliti. Selama periode pemantauan, ditemukan 315 kasus sirosis dari hampir 200.000 peserta, sehingga peningkatan risiko relatif perlu dipahami bersama angka kejadian sebenarnya.
Masa pemantauan dalam penelitian ini memiliki durasi median 16 tahun. Para peneliti turut memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kesehatan hati, termasuk usia, indeks massa tubuh (IMT), dan aktivitas fisik.
Setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan, hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan risiko penyakit hati tetap signifikan secara statistik. Namun, faktor lain, seperti waktu dan kualitas tidur, belum diperhitungkan dalam analisis sehingga masih ada kemungkinan variabel lain turut memengaruhi hasil penelitian.
Ritme Sirkadian Diduga Berperan dalam Kesehatan Hati
Para peneliti menduga ritme sirkadian atau jam biologis tubuh dapat membantu menjelaskan hubungan antara waktu makan dan kesehatan hati. Ritme ini mengatur berbagai fungsi biologis mengikuti siklus siang dan malam, termasuk sejumlah proses metabolisme.
Ahli hepatologi dari OHSU, Robert Wilechansky, menjelaskan bahwa hati memiliki keterkaitan erat dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, perubahan waktu makan menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diteliti dalam upaya menjaga kesehatan hati.
"Kita tahu bahwa hati sangat selaras dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, kami tertarik meneliti perubahan waktu makan yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan tanpa harus mengubah komposisi makanan yang dikonsumsi," kata Wilechansky.
Peneliti menduga tubuh mungkin memproses makanan secara berbeda ketika dikonsumsi pada malam hari. Jika mekanisme tersebut tidak berjalan seefisien waktu makan pada siang hari, kondisi ini berpotensi berkaitan dengan penumpukan lemak di hati dan perubahan kadar gula darah.
Meski demikian, mekanisme tersebut masih berupa dugaan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut. Studi ini belum secara langsung membuktikan bahwa makan larut malam menyebabkan penumpukan lemak hati atau meningkatkan kadar gula darah pada setiap orang.
Apa Itu MASLD dan Sirosis?
Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) merupakan kondisi ketika terjadi penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Kondisi seperti obesitas dan masalah metabolik lainnya dapat berperan dalam perkembangan penyakit ini.
Pada sebagian orang, MASLD dapat berkembang menjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut pada hati. Jika kerusakan berlanjut hingga tahap berat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis.
Sirosis merupakan kerusakan hati kronis yang ditandai dengan terbentuknya jaringan parut dan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Pada tahap lanjut, kerusakan ini berpotensi menyebabkan kegagalan fungsi hati sehingga pencegahan dan penanganan faktor risikonya menjadi penting.
Meski kedua penyakit tersebut berkaitan dengan kesehatan hati, tidak semua orang dengan MASLD akan mengalami sirosis. Perkembangan penyakit dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi metabolisme, tingkat kerusakan hati, dan faktor kesehatan lainnya.
Penelitian Lanjutan Masih Dibutuhkan
Para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut menambah bukti mengenai kemungkinan hubungan antara pola makan malam dan gangguan metabolisme. Mereka juga menyebut asupan kalori yang tinggi pada malam hari berpotensi berkaitan dengan obesitas dan gangguan metabolisme melalui perubahan sensitivitas insulin serta penggunaan energi tubuh.
"Temuan kami menambah bukti ilmiah yang terus berkembang mengenai hubungan antara pola makan pada malam hari dan dampak buruk terhadap metabolisme serta kesehatan hati," tulis para peneliti dalam publikasi mereka.
Penelitian selanjutnya perlu mengidentifikasi jenis makanan yang dikonsumsi saat larut malam. Dalam studi ini, peneliti mencatat waktu makan camilan, tetapi tidak mengumpulkan informasi terperinci mengenai jenis camilan yang dikonsumsi peserta.
Para peneliti juga menyarankan pengukuran yang lebih langsung terhadap kondisi hati, termasuk melalui pencitraan dan pemeriksaan penanda tingkat keparahan penyakit. Tim OHSU yang melibatkan Wilechansky saat ini tengah merekrut peserta untuk menjalani uji klinis yang lebih mendalam.
"Dampak konsumsi makanan pada malam hari terhadap penyakit hati perlu diteliti lebih lanjut pada populasi yang beragam, dengan melibatkan pencitraan hati dan penanda tingkat keparahan penyakit hati," tulis para peneliti.
Ahli fisiologi tidur dan ritme sirkadian dari OHSU, Andrew McHill, juga menekankan pentingnya memperhatikan waktu melakukan aktivitas sehari-hari.
"Kita berulang kali melihat bahwa waktu seseorang melakukan aktivitas, baik tidur, makan, maupun berolahraga, benar-benar berpengaruh," kata McHill.
Sambil menunggu hasil penelitian lanjutan, menjaga jadwal makan yang teratur dapat menjadi salah satu langkah untuk mendukung kesehatan metabolisme. Namun, temuan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa setiap orang yang makan pada malam hari akan mengalami penyakit liver, sehingga pola makan tetap perlu dilihat bersama faktor kesehatan lainnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!