Krisjiana Jalani Vasektomi, Benarkah Pria Bisa Impoten? Ini 9 Mitos yang Masih Dipercaya

Krisjiana Baharudin memilih vasektomi setelah sepakat dengan Siti Badriah untuk tidak menambah anak. Namun, kontrasepsi pria ini masih dibayangi berbagai mitos soal kejantanan dan fungsi seksual.

Krisjiana Jalani Vasektomi, Benarkah Pria Bisa Impoten? Ini 9 Mitos yang Masih Dipercaya
Siti Badriah bersama keluarganya. - (Dok. instagram.com/krisjianabah).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Keputusan Krisjiana Baharudin, suami penyanyi Siti Badriah, menjalani vasektomi membuat metode kontrasepsi khusus pria kembali menjadi perbincangan. Krisjiana mengumumkan keputusan tersebut melalui media sosial pada Kamis (17/9/2026) setelah berdiskusi dengan Siti mengenai rencana untuk tidak menambah momongan.

Krisjiana menyebut pilihannya berkaitan dengan perjuangan yang telah dilalui Siti selama menjalani dua kali kehamilan dan membesarkan anak. Ia juga menilai kontrasepsi dalam rumah tangga tidak semestinya selalu dibebankan kepada perempuan karena pria memiliki pilihan untuk ikut mengambil tanggung jawab tersebut.

Vasektomi merupakan metode kontrasepsi untuk pria yang dilakukan dengan memotong atau menutup vas deferens. Saluran tersebut berfungsi membawa sperma dari testis sehingga setelah prosedur berhasil, sperma tidak lagi bercampur dengan air mani dalam jumlah yang dapat menyebabkan kehamilan.

Meski merupakan salah satu metode kontrasepsi yang telah digunakan, vasektomi masih sering diselimuti berbagai anggapan. Mulai dari kekhawatiran soal impotensi, gairah seksual, kemampuan ejakulasi hingga dampaknya terhadap kesehatan pria.

Padahal, sejumlah anggapan tersebut tidak sesuai dengan cara kerja vasektomi. Berikut sembilan mitos tentang vasektomi yang masih banyak dipercaya, sebagaimana dilansir dari Mayo Clinic pada Jumat (18/9/2026).

1. Vasektomi Bisa Membuat Pria Impoten

Salah satu kekhawatiran terbesar pria terhadap vasektomi adalah anggapan bahwa prosedur tersebut dapat menyebabkan impotensi. Padahal, vasektomi dilakukan pada vas deferens dan tidak memotong saraf maupun pembuluh darah yang berperan dalam proses ereksi.

Setelah melewati masa pemulihan, pria tetap dapat mengalami ereksi dan melakukan hubungan seksual. Dengan demikian, vasektomi tidak secara otomatis menghilangkan fungsi seksual pria.

2. Vasektomi Membuat Gairah Seksual Menurun

Mitos lainnya menyebut vasektomi dapat menurunkan kadar testosteron yang kemudian membuat gairah seksual ikut berkurang. Anggapan ini tidak sesuai dengan mekanisme prosedur karena vasektomi tidak menghentikan fungsi testis dalam memproduksi testosteron.

Testis tetap menghasilkan hormon testosteron setelah tindakan dilakukan. Karena itu, vasektomi tidak dirancang untuk mengurangi libido atau menghilangkan gairah seksual pria.

3. Pria Tidak Bisa Ejakulasi Setelah Vasektomi

Ada pula anggapan bahwa pria yang menjalani vasektomi tidak akan bisa ejakulasi lagi. Faktanya, kemampuan untuk mengalami orgasme dan mengeluarkan air mani tetap ada setelah prosedur.

Hal yang berubah adalah keberadaan sperma dalam air mani. Jika vasektomi telah berhasil, air mani tidak lagi mengandung sperma dalam jumlah yang dapat menyebabkan kehamilan.

4. Vasektomi Langsung Efektif Setelah Operasi

Vasektomi juga bukan metode yang langsung memberikan perlindungan maksimal sesaat setelah tindakan dilakukan. Sisa sperma masih dapat berada di saluran reproduksi untuk beberapa waktu setelah operasi.

Karena itu, pasangan tetap perlu menggunakan alat kontrasepsi lain sampai pemeriksaan air mani memastikan bahwa vasektomi sudah efektif. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan tidak terdapat sperma dalam jumlah yang berpotensi menyebabkan kehamilan.

5. Vasektomi Membuat Air Mani Berkurang Banyak

Sebagian orang mengira vasektomi akan membuat jumlah air mani yang keluar saat ejakulasi berkurang secara drastis. Anggapan tersebut muncul karena sperma memang tidak lagi keluar melalui saluran reproduksi seperti sebelumnya.

Namun, sperma hanya menjadi sebagian kecil dari keseluruhan cairan semen. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari kelenjar lain sehingga perubahan volumenya setelah vasektomi umumnya tidak terlalu mencolok.

6. Vasektomi Membuat Testis Tidak Berfungsi

Mitos berikutnya berkaitan dengan anggapan bahwa vasektomi membuat testis berhenti bekerja. Faktanya, testis tetap memproduksi sperma dan hormon testosteron meskipun vas deferens telah dipotong atau ditutup.

Sperma yang tidak dapat melewati vas deferens kemudian akan diserap kembali oleh tubuh. Artinya, vasektomi tidak membuat fungsi testis berhenti.

7. Vasektomi Menyebabkan Kanker Prostat

Vasektomi dan kanker prostat pernah menjadi topik penelitian sehingga muncul kekhawatiran mengenai hubungan keduanya. Namun, belum terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa vasektomi secara langsung menyebabkan kanker prostat.

Oleh sebab itu, anggapan bahwa setiap pria yang menjalani vasektomi pasti memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat tidak dapat dianggap sebagai fakta medis. Kekhawatiran mengenai risiko kesehatan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan berdasarkan kondisi masing-masing.

8. Vasektomi Selalu Menimbulkan Sakit Parah

Rasa sakit setelah vasektomi juga kerap menjadi kekhawatiran bagi calon pasien. Setelah tindakan, seseorang memang dapat mengalami nyeri ringan, rasa tidak nyaman, pembengkakan atau sensasi tertarik di area tindakan.

Namun, bukan berarti setiap pasien akan mengalami rasa sakit yang parah. Proses pemulihan dapat berbeda pada setiap orang sehingga penting mengikuti instruksi dokter dan berkonsultasi jika muncul keluhan yang tidak biasa.

9. Vasektomi Bisa Dikembalikan Kapan Saja

Vasektomi pada dasarnya perlu dipertimbangkan sebagai metode kontrasepsi permanen. Meskipun tersedia prosedur untuk menyambungkan kembali vas deferens, tindakan tersebut tidak memberikan jaminan bahwa kesuburan pria akan kembali seperti sebelumnya.

Karena itu, pasangan perlu benar-benar mempertimbangkan keputusan tersebut sebelum menjalani prosedur. Terlebih jika masih terdapat kemungkinan ingin memiliki anak lagi di kemudian hari, konsultasi dengan dokter menjadi bagian penting sebelum menentukan pilihan.

Vasektomi Tidak Menghilangkan Fungsi Seksual

Secara umum, tujuan vasektomi adalah mencegah kehamilan, bukan mengubah fungsi seksual pria. Prosedur ini juga tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual sehingga perlindungan tambahan tetap diperlukan apabila seseorang memiliki risiko penularan.

Pilihan kontrasepsi idealnya dibicarakan bersama oleh pasangan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan serta rencana keluarga. Vasektomi juga merupakan tindakan medis yang harus dilakukan melalui konsultasi dan pemeriksaan tenaga kesehatan.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE