Apa Itu Hilal Ramadan? Fenomena Langit yang Bikin Deg-degan Tiap Ramadhan Ini Ternyata Ada Penjelasannya

Apa Itu Hilal Ramadan? Fenomena Langit yang Bikin Deg-degan Tiap Ramadhan Ini Ternyata Ada Penjelasannya
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID -  Bulan Ramadan sebentar lagi datang, dan seperti tradisi tahunan, satu istilah kembali naik panggung: hilal. Di media sosial, kata ini mendadak sering muncul. Ada yang serius membahas, ada yang sekadar ikut-ikutan, ada juga yang diam-diam bertanya, “Hilal itu sebenarnya apa, sih?”

Secara sederhana, hilal adalah bulan sabit muda yang terlihat pertama kali setelah ijtimak atau fase bulan baru. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit. Tapi jangan bayangkan bentuk sabit tebal seperti di ilustrasi kalender. Hilal itu super tipis, halus, nyaris seperti goresan pensil yang ragu-ragu.

Menurut Cecep Nurwendaya, yang dikenal sebagai anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia dan juga aktif di Planetarium Jakarta, fase bulan yang bisa diamati dari Bumi terdiri dari beberapa tahap: bulan baru, bulan sabit, kuartil pertama, bulan besar (purnama), hingga bulan tua. Nah, hilal ini muncul di fase awal bulan sabit, saat usia bulan masih sangat muda.

Karena usianya baru hitungan jam, cahaya hilal belum “percaya diri”. Ia harus bersaing dengan cahaya senja yang masih terang. Itulah sebabnya hilal sering digambarkan sebagai fenomena yang dramatis: ditunggu ramai-ramai, tapi belum tentu muncul jelas.

Meski sekilas mirip, hilal berbeda dengan bulan tua. Bulan tua muncul menjelang akhir bulan Hijriah, biasanya terlihat di waktu subuh. Sementara hilal muncul setelah matahari terbenam. Posisi dan waktunya berbeda, walau sama-sama tipis. Jadi kalau lihat sabit di pagi hari, jangan buru-buru teriak, “Ramadan datang!”

Agar bisa disebut hilal, bulan sabit tipis itu harus terlihat setelah matahari terbenam. Ada juga kriteria ketinggian yang disepakati. Salah satunya, hilal idealnya berada lebih dari sekitar 3 derajat di atas ufuk. Di bawah itu, cahayanya kalah oleh mega senja. Bahasa mudahnya: hilalnya ada, tapi tenggelam dalam glow-up langit sore.

Lalu kapan hilal biasanya terlihat? Jawabannya singkat dan agak kejam: sebentar sekali. Rentangnya sekitar 15 menit sampai satu jam setelah matahari terbenam. Setelah itu, hilal ikut “pamitan” tenggelam. Makanya, pemantauan hilal bukan aktivitas santai sambil rebahan.

Pengamatannya pun tidak bisa asal menatap langit. Dibutuhkan lokasi yang minim polusi cahaya, horizon yang bersih, serta alat bantu seperti teleskop. Melihat hilal dengan mata telanjang memang mungkin, tapi peluangnya tipis—setipis hilalnya sendiri.

Karena kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, pengamatan hilal biasanya dilakukan pada hari ke-29 bulan berjalan. Jika hilal terlihat, bulan baru dimulai keesokan harinya. Jika tidak, bulan digenapkan menjadi 30 hari. Di sinilah hisab dan rukyat bekerja sama, bukan saling adu argumen seperti di kolom komentar.

Pada akhirnya, hilal bukan sekadar fenomena astronomi. Ia adalah penanda transisi, momen yang selalu ditunggu umat Islam. Kadang terlihat, kadang malu-malu. Tapi satu hal pasti: setiap menjelang Ramadan, hilal selalu sukses bikin orang mendadak jadi pengamat langit dadakan.

 
 
M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE