Iran Sebut G7 Munafik, Teheran Ngamuk Dan Tantang Balik Ancaman Sanksi Gegara Protes Besar
BJAKARTA, GENVOICE.ID - Hubungan antara Iran dan negara-negara maju yang tergabung dalam G7 bener-bener lagi berada di titik paling panas nih, Gen. Pemerintah Iran baru saja melontarkan kecaman yang sangat pedas terhadap pernyataan kelompok G7 yang mengancam bakal menjatuhkan sanksi baru ke negara mereka. Perselisihan internasional ini bermula dari sikap G7 yang dinilai terlalu ikut campur dalam urusan dapur Teheran, terutama terkait gelombang protes besar-besaran yang lagi melanda banyak kota di Iran sejak akhir tahun lalu. Pihak Kementerian Luar Negeri Iran nggak tinggal diam dan langsung memberikan respon yang sangat keras dengan menyebut kalau langkah negara-negara besar itu adalah bentuk standar ganda yang nyata.
Situasi di dalam negeri Iran sendiri memang lagi nggak baik-baik saja, di mana ribuan orang turun ke jalan karena frustrasi sama kondisi ekonomi yang makin sulit. Namun, bagi pemerintah Iran, dukungan yang diberikan negara luar terhadap para pengunjuk rasa dianggap bukan sebagai bentuk kepedulian, melainkan taktik politik buat menggoyang kedaulatan negara mereka. Ketegangan ini makin diperparah dengan masuknya nama Donald Trump yang kembali membawa narasi ancaman militer jika situasi di Iran terus memanas. Gen pastinya perlu tahu kalau urusan sanksi ini bukan cuma soal ekonomi, tapi sudah jadi ajang adu harga diri antara kekuatan Barat dan otoritas di Teheran yang nggak mau didekte sedikit pun oleh pihak asing, Gen.
Melalui pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kalau apa yang dilakukan G7 adalah tindakan yang nggak tahu malu. Mereka menilai sikap tersebut palsu dan penuh dengan kepura-puraan.
"Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan negara-negara G7 yang merupakan bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri Republik Islam Iran," tegas pihak Kemlu Iran dalam keterangan resminya.
Gelombang protes yang jadi pemicu keributan ini sebenarnya sudah mulai meletus sejak akhir Desember 2025 lalu. Banyak warga Iran yang merasa tercekik karena inflasi yang gila-gilaan dan nilai tukar mata uang rial yang terus merosot tajam. Suasana makin pecah dan membara sejak 8 Januari setelah adanya seruan dari Reza Pahlavi, yang merupakan putra dari mantan Shah Iran. Pemerintah setempat pun merespon aksi ini dengan cara yang cukup ekstrem, termasuk mematikan akses internet di beberapa wilayah buat meredam koordinasi massa.
Nggak cuma lewat kata-kata, bentrokan fisik di lapangan juga nggak terhindarkan. Di berbagai kota, aksi demo ini berubah jadi kerusuhan berdarah yang memakan korban, baik dari pihak kepolisian maupun dari kalangan pengunjuk rasa itu sendiri. Kondisi yang kacau ini ternyata memancing perhatian Presiden AS, Donald Trump. Dengan gayanya yang frontal, Trump menyatakan kalau dia siap mendukung serangan baru ke Iran kalau negara itu nggak mau menghentikan program nuklir dan rudal mereka.
Bahkan, Trump nggak ragu buat menebar ancaman bakal melakukan aksi militer kalau sampai ada pengunjuk rasa yang tewas di tangan aparat pemerintah Iran. Trump menegaskan kalau Amerika bakal selalu berdiri di belakang rakyat Iran kalau dibutuhkan. Tentu saja, pernyataan-pernyataan ini bikin Teheran makin geram karena merasa kedaulatan mereka terus-menerus diancam oleh kekuatan luar, Gen.
Menurut Gen, apakah sanksi dari negara-negara G7 ini bakal beneran bisa meredam konflik di Iran, atau justru malah bikin rakyatnya makin sengsara karena ekonomi yang makin dijepit?
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!