Naas! Dipecat Diam-Diam, Ratusan Pekerja AI Google Ternyata Melatih Mesin yang Menggantikan Mereka Sendiri

Naas! Dipecat Diam-Diam, Ratusan Pekerja AI Google Ternyata Melatih Mesin yang Menggantikan Mereka Sendiri
- (Dok. Getty Images).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Lebih dari 200 pekerja kontrak yang bertugas menilai dan menyempurnakan produk AI Google, termasuk chatbot Gemini dan fitur pencarian AI Overviews, telah diberhentikan secara mendadak dalam dua gelombang PHK pada Agustus lalu. Para pekerja yang sebagian besar dipekerjakan oleh perusahaan outsourcing GlobalLogic milik Hitachi ini mengaku keputusan itu dilakukan tanpa peringatan dan di tengah upaya mereka untuk menuntut kondisi kerja dan upah yang lebih layak.

Selama beberapa tahun terakhir, Google mengandalkan jaringan ribuan pekerja kontrak untuk menilai dan menyunting respons AI agar terdengar lebih manusiawi dan cerdas. Namun, menurut pengakuan para pekerja, mereka justru menjadi korban permainan licik industri outsourcing AI yang kian tak manusiawi.

Pekerja seperti Andrew Lauzon, yang baru bergabung pada Maret 2024, mengaku langsung diputus kontraknya melalui email pada 15 Agustus. Saat ia menanyakan alasan, satu-satunya jawaban adalah "ramp-down on the project", tanpa penjelasan lebih lanjut. Padahal ia bertugas menilai output AI dan membuat berbagai prompt untuk melatih chatbot.

Ironisnya, menurut dokumen internal yang diperoleh WIRED, para pekerja ini diduga sedang melatih sistem AI Google agar bisa menilai respons AI secara otomatis, alias melatih teknologi yang nantinya menggantikan peran mereka sendiri.

Kondisi ini semakin diperparah dengan ketimpangan upah antara pekerja GlobalLogic langsung dan pekerja yang dipekerjakan lewat pihak ketiga. Super rater resmi bisa mendapat bayaran hingga $32 per jam, sedangkan pekerja dari agen kontraktor hanya dibayar 18-22 dolar AS untuk pekerjaan yang sama.

Sejumlah pekerja juga mengungkap standar kerja yang makin tidak manusiawi, termasuk penghitungan waktu kerja per tugas yang dibatasi hanya lima menit.

"Pekerjaan ini dulunya menantang secara intelektual, sekarang sudah berubah jadi pekerjaan membabi buta," ungkap salah satu rater bernama Alex, yang masih bekerja di GlobalLogic namun tanpa jaminan atau cuti berbayar.

Di tengah ketidakpuasan yang memuncak, para pekerja membentuk kelompok komunikasi rahasia di WhatsApp bernama Super Secret Secondary Location, tempat mereka mulai membicarakan strategi organisasi dan kemungkinan pembentukan serikat pekerja. Pada Desember 2024, mereka sudah memiliki 18 anggota. Namun, setelah survei internal tentang upah dan kondisi kerja dibagikan secara publik, keanggotaan melonjak jadi 60 hanya dalam dua bulan.

Sayangnya, begitu perusahaan mencium aktivitas ini, pembalasan langsung dimulai. GlobalLogic melarang penggunaan saluran sosial perusahaan selama jam kerja, menghapus thread diskusi terkait upah, dan mengancam para pekerja yang terlibat. Puncaknya terjadi saat Ricardo Levario, salah satu pengorganisir aktif, dipecat hanya empat hari setelah mengajukan laporan pelanggaran ke Hitachi.

Dalam pernyataannya, Google menyatakan bahwa para pekerja tersebut adalah karyawan GlobalLogic atau subkontraktornya, bukan bagian dari Alphabet.

"Kami hanya bermitra, dan mengevaluasi mitra kami berdasarkan Kode Etik Pemasok kami," kata juru bicara Google, Courtenay Mencini. Sementara itu, GlobalLogic menolak memberikan komentar.

Kisah ini bukan kasus tunggal. Di Kenya, pekerja data label AI juga mulai membentuk serikat pekerja demi kesejahteraan, perlindungan mental, dan transparansi upah. Di tingkat global, Aliansi Serikat Pekerja Moderator Konten juga telah dibentuk oleh pekerja dari berbagai negara seperti Turki, Kolombia, dan Kenya, sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi kerja yang menindas.

Namun, banyak dari pekerja yang tersisa masih memilih bungkam.

"Kami takut bicara. Lingkungan kerja jadi sangat represif. Bahkan untuk mengorganisasi diri pun kami takut dipecat," kata Alex.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE