Sepak Bola Tidak Bisa Dipisahkan dengan Politik: Sejarah Rivalitas Argentina vs Inggris

Sepak Bola Tidak Bisa Dipisahkan dengan Politik: Sejarah Rivalitas Argentina vs Inggris
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Laga Argentina kontra Inggris selalu memiliki makna yang lebih besar dari sekadar pertandingan sepak bola. Di balik persaingan di lapangan, terdapat sejarah panjang yang dipenuhi konflik politik dan militer, membuat setiap pertemuan kedua negara sarat dengan emosi dan simbolisme.

Atmosfer itu kembali terlihat saat Argentina dan Inggris bertemu pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat. Bahkan sebelum laga dimulai, suporter kedua tim saling melontarkan sorakan ketika lagu kebangsaan dikumandangkan, mencerminkan rivalitas yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Akar perseteruan kedua negara berasal dari Perang Falkland atau Perang Malvinas yang pecah pada 1982. Konflik bermula ketika junta militer Argentina mengirim pasukan untuk merebut Kepulauan Falkland, wilayah di Samudra Atlantik Selatan yang diklaim sebagai bagian dari Argentina dengan nama Las Malvinas. Di sisi lain, Inggris mempertahankan wilayah tersebut sebagai teritori seberang lautnya.

Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Margaret Thatcher kemudian mengerahkan armada militer untuk merebut kembali kepulauan itu. Perang berlangsung selama 74 hari sebelum Argentina akhirnya menyerah pada Juni 1982. Konflik tersebut menewaskan sekitar 655 personel militer Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil di Kepulauan Falkland. Hingga kini, kedua negara masih mempertahankan klaim masing-masing atas wilayah tersebut.

Luka akibat perang kemudian terbawa ke dunia sepak bola. Empat tahun setelah konflik berakhir, Argentina dan Inggris bertemu pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertandingan itu dikenang sebagai salah satu laga paling ikonik sepanjang sejarah berkat dua gol Diego Maradona.

Gol pertama lahir melalui insiden kontroversial yang kemudian dikenal sebagai "Tangan Tuhan", sementara gol kedua tercipta setelah Maradona melewati hampir seluruh pemain Inggris sebelum mencetak gol yang dijuluki "Gol Abad Ini". Bagi banyak warga Argentina, kemenangan 2-1 saat itu dianggap sebagai pelampiasan simbolis atas kekalahan mereka dalam Perang Falkland.

Sejak momen tersebut, setiap duel Argentina melawan Inggris hampir selalu dikaitkan dengan sejarah konflik kedua negara. Persaingan yang awalnya dipicu perang berubah menjadi salah satu rivalitas paling emosional dalam dunia sepak bola.

Nuansa itu kembali muncul pada semifinal Piala Dunia 2026. Setelah Argentina menang 2-1 dan memastikan tiket ke final, sejumlah pemain merayakan kemenangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina".

Aksi tersebut langsung menjadi sorotan karena menyentuh isu politik yang hingga kini masih dipersengketakan. FIFA sendiri memiliki regulasi yang melarang penggunaan pertandingan sepak bola sebagai media penyampaian pesan politik, sehingga tindakan para pemain Argentina berpotensi mendapat perhatian dari federasi sepak bola dunia tersebut.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE