Miris, Tiga SD di Kudus Hanya Punya Satu Murid: Disdikpora Pertimbangkan Regrouping

Miris, Tiga SD di Kudus Hanya Punya Satu Murid: Disdikpora Pertimbangkan Regrouping
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena sepi murid masih terjadi di beberapa sekolah dasar di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus mencatat, sedikitnya ada tiga SD yang jumlah siswanya sangat minim, bahkan masing-masing hanya memiliki satu murid baru pada tahun ajaran ini. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan serius untuk dilakukan penggabungan atau regrouping sekolah.

Dilansir dari Antara, ketiga sekolah yang masuk dalam sorotan adalah SD 5 Jurang di Kecamatan Gebog, SD 1 Wates di Kecamatan Undaan, dan SD 2 Gamong di Kecamatan Kaliwungu.

"Kami masih mendata penerimaan siswa baru tingkat SD, namun sebagian sekolah belum mengirimkan laporan. Data ini sangat penting sebagai dasar pemetaan sekolah yang berpotensi diregrouping," ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho.

Salah satu kepala sekolah yang terdampak, Arif Wijayanto dari SD 1 Wates, mengungkapkan bahwa sekolahnya tahun ini hanya menerima satu murid baru-jumlah yang lebih kecil dibanding tahun lalu yang masih ada dua murid. Total siswa aktif dari kelas I hingga VI kini hanya berjumlah 24 orang.

Ia juga mengaku sudah mendapatkan informasi sejak 2023 bahwa SD 1 Wates akan digabungkan dengan SD 3 Wates, mengingat keduanya berada di lokasi yang sama, bahkan satu halaman. Kabar ini justru membuat para guru menjadi pasif dalam mencari siswa baru karena ketidakpastian status sekolah.

"Hingga tahun ini belum ada keputusan resmi. Kami sudah tanyakan ke koordinator wilayah, tapi katanya masih dalam proses," tutur Arif.

Meskipun begitu, sekolah-sekolah yang minim siswa tersebut tetap mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dengan besaran dana disesuaikan jumlah siswa. Untuk tahun ini, per siswa masih mendapatkan Rp900 ribu. Artinya, jika hanya memiliki satu murid, maka dana BOS yang diterima sekolah juga hanya sebesar itu.

Uniknya, dengan hanya satu murid di kelas I, maka proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun dijalani secara seorang diri oleh siswa tersebut-sebuah potret kontras dari dinamika tahun ajaran baru yang biasanya penuh keceriaan dan aktivitas kolektif.

Fenomena menyusutnya jumlah siswa di sekolah-sekolah dasar ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan di daerah, terutama di wilayah pedesaan yang terdampak urbanisasi dan penurunan angka kelahiran. Pemerintah daerah pun kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan sekolah-sekolah kecil demi akses pendidikan merata, atau menggabungkannya demi efisiensi dan efektivitas.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE