Unity Kembali Lakukan PHK Massal, Fokus pada Restrukturisasi dan Efisiensi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perusahaan pengembang mesin game Unity kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai departemen, termasuk pengembangan perangkat lunak dan periklanan. Hingga saat ini, Unity belum mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terdampak. Namun, berdasarkan memo internal CEO Unity, Matthew Bromberg, yang bocor ke publik, karyawan yang terdampak akan menerima pemberitahuan hari ini.
Melansir dari Rock Paper Shotgun, Sabtu (15/2), beberapa karyawan Unity telah mengonfirmasi pemutusan kerja mereka melalui LinkedIn, termasuk Peter Roe, seorang seniman teknis senior, dan Coline Turquin, seorang pengembang perangkat lunak senior. Roe menggambarkan PHK ini sebagai tindakan mendadak dan tidak personal, mengingat ia menerima pemberitahuan melalui email tanpa balasan pada pukul 5 pagi dan akan kehilangan akses ke sistem pada akhir hari yang sama.
Selain itu, sebuah postingan di forum resmi Unity menunjukkan bahwa seluruh tim yang mengembangkan Unity Behavior, sebuah alat visual untuk membuat perilaku karakter non-pemain (NPC) atau objek, juga mengalami PHK. Shanee Nishry, pemimpin teknologi tim tersebut, menyatakan bahwa mereka tidak lagi dapat memberikan dukungan terhadap proyek ini dan telah mengajukan permintaan kepada manajemen agar proyek tersebut dibuat open-source, meskipun belum ada kepastian.
Gelombang PHK ini menjadi yang keenam sejak 2022. Unity sebelumnya menghadapi tantangan besar setelah rencana mereka untuk menerapkan biaya per instalasi game berbasis Unity mendapat kritik tajam dari komunitas pengembang. Kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan, namun dampaknya terhadap bisnis Unity masih berlanjut. Pada November 2023, perusahaan memberhentikan 265 karyawan dan menghentikan kerja sama dengan studio efek visual W?t? FX sebagai bagian dari "reset" perusahaan. Kemudian, pada Januari 2024, Unity kembali melakukan PHK terhadap 1.800 karyawan, atau sekitar 25% dari total tenaga kerja mereka pada saat itu, dalam upaya meningkatkan profitabilitas.
Dalam memo internalnya, Bromberg mengakui bahwa restrukturisasi sebelumnya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Namun, ia optimistis bahwa tahun 2025 akan menjadi momen perubahan bagi Unity. Bromberg menyoroti bahwa tim produk dan teknik Unity terlalu tersebar di banyak proyek, yang menyebabkan kompleksitas dan menghambat kinerja. Oleh karena itu, perusahaan berencana untuk menyederhanakan fokus mereka dan mempercepat pengambilan keputusan.
Sebagai bagian dari strategi baru, Unity akan memastikan bahwa perangkat lunak mereka dapat berjalan secara optimal di berbagai perangkat, bukan hanya pada level grafis tertinggi. Perusahaan juga akan meningkatkan stabilitas dan mengurangi "utang teknis" dengan lebih fokus pada optimalisasi teknologi yang sudah ada, alih-alih terus mengembangkan fitur baru. Selain itu, Unity ingin memberikan fleksibilitas lebih besar kepada pengembang agar mereka dapat menyesuaikan teknologi Unity sesuai kebutuhan mereka.
Selain upaya tersebut, Unity akan berinvestasi dalam layanan live dan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif, serta meningkatkan akses pengembang ke data pemain. Reorganisasi juga akan dilakukan di berbagai kantor Unity, termasuk di Montreal, Tel Aviv, Kopenhagen, Seoul, Tokyo, dan San Francisco.
Hingga saat ini, belum ada informasi pasti mengenai jumlah karyawan yang terdampak dalam gelombang PHK terbaru ini. Namun, dengan terus berlanjutnya restrukturisasi di Unity, nasib banyak karyawan masih menjadi perhatian.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!