Pengusaha Perangkat Lunak Asal Australia Dorong ‘Fair Use’ untuk AI, Berisiko Bagi Industri Kreatif?

Pengusaha Perangkat Lunak Asal Australia Dorong ‘Fair Use’ untuk AI, Berisiko Bagi Industri Kreatif?
- (Dok. News).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Co-CEO Atlassian, Scott Farquhar, baru-baru ini mengusulkan agar Australia mengadopsi sistem "fair use" seperti Amerika Serikat untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, kebijakan tersebut akan memungkinkan AI berlatih dengan menggunakan karya kreatif yang sudah ada, tanpa harus membayar lisensi. Ide ini menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan kreator dan pemerhati hak cipta.

Meski terdengar menarik bagi pelaku industri teknologi, kenyataannya, penerapan "fair use" untuk AI di Amerika Serikat sendiri masih berada di wilayah abu-abu hukum. Sejumlah perusahaan teknologi raksasa tengah menghadapi gugatan hukum terkait penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI mereka. Pengadilan belum memutuskan secara pasti apakah praktik tersebut sah atau melanggar hukum, sehingga menjadikannya contoh yang belum matang untuk diikuti negara lain.

Masalah utama terletak pada dampaknya terhadap pasar karya kreatif. AI memiliki kemampuan menghasilkan konten yang mirip atau meniru gaya khas seorang kreator, yang berpotensi mengurangi nilai komersial karya asli. Hal ini membuat para seniman, penulis, dan musisi khawatir akan kehilangan sumber penghasilan, karena pasar bisa beralih ke karya yang dibuat AI dengan biaya jauh lebih murah.

Dalam hukum hak cipta AS, ada empat faktor yang menentukan "fair use", salah satunya adalah sifat transformatif dari penggunaan karya. Namun, Mahkamah Agung AS menegaskan bahwa dampak terhadap pasar sering kali menjadi faktor terpenting. Jika karya yang dihasilkan AI menyaingi atau mengurangi permintaan terhadap karya asli, maka klaim "fair use" dapat terpukul.

Sebenarnya, terdapat alternatif yang lebih aman dan adil, seperti sistem lisensi sukarela yang mulai diterapkan di AS. Dalam skema ini, perusahaan AI membayar untuk menggunakan karya kreatif sebagai data pelatihan, sehingga tetap mendorong inovasi tanpa mengabaikan hak ekonomi kreator. Model ini juga membuka peluang kolaborasi antara teknologi dan industri kreatif, alih-alih menciptakan ketegangan hukum.

Dengan berbagai ketidakpastian hukum yang masih menyelimuti isu ini di Amerika Serikat, mendorong Australia untuk langsung mengadopsi "fair use" bisa dibilang langkah yang terlalu berisiko. Sebelum mengambil keputusan, pembuat kebijakan sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan perlindungan hak cipta, demi memastikan bahwa inovasi AI tidak mengorbankan masa depan para kreator.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE