Hati-Hati! Trauma Ternyata Bisa Menular ke Orang Terdekat, Begini Penjelasan Dokter Jiwa

Hati-Hati! Trauma Ternyata Bisa Menular ke Orang Terdekat, Begini Penjelasan Dokter Jiwa
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Tak hanya virus yang bisa menular, trauma pun bisa menjangkiti orang-orang terdekat! Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis kejiwaan lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, dalam peluncuran bukunya yang bertajuk Pulih dari Trauma di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu (13/7).

Dilansir dari Antara, menurut dr. Jiemi, trauma bisa "tertular" melalui paparan cerita traumatis yang terus-menerus, terutama dalam hubungan yang bersifat personal dan emosional. Fenomena ini dikenal dengan istilah secondary trauma atau trauma sekunder.

"Misalnya saya mendengar ibu saya mengalami sesuatu, atau teman dekat saya mengalami peristiwa buruk-kedekatan itu yang memungkinkan terjadinya secondary trauma," jelasnya.

Berbeda dengan trauma primer yang dialami langsung, trauma sekunder terjadi karena seseorang terpapar kisah traumatis orang lain secara berulang, baik melalui percakapan langsung maupun melalui pekerjaan tertentu.

Profesi seperti polisi, psikiater, pekerja sosial, atau jurnalis disebut sangat rentan terhadap trauma sekunder karena sering berhadapan dengan cerita-cerita yang penuh luka dan penderitaan.

"Bukan berarti kita nggak boleh cerita. Kalau trauma bisa menular, artinya pemulihan juga bisa menular. Kekuatan bisa menular. Welas asih juga bisa menular," tegas dr. Jiemi.

Ia menekankan bahwa bukan mendengar ceritanya yang salah, tetapi perlu diimbangi dengan pengulangan narasi yang bersifat positif, seperti afirmasi bahwa ancaman itu sudah berlalu dan tidak ada lagi, guna menetralkan memori buruk yang tertanam.

Bahkan menurutnya, rasa sakit yang mendalam bisa muncul hanya karena mendengar cerita yang diulang terus-menerus, hingga seolah menjadi realita yang dialami sendiri.

Sebagai penutup, dr. Jiemi mengingatkan: jika seseorang merasa tidak mampu menghadapi trauma sendiri-baik yang dialami langsung maupun karena mendengar cerita orang lain, jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional.

"Kalau memang sudah terlalu berat, sebaiknya dikonsultasikan. Kita nggak harus kuat sendiri," pesannya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE