Penembakan Massal di Sekolah Kanada: Remaja 18 Tahun Tewaskan 8 Orang di Tumbler Ridge

Kronologi Berdarah di Tumbler Ridge: Ibu dan Adik Jadi Korban Pertama

Penembakan Massal di Sekolah Kanada: Remaja 18 Tahun Tewaskan 8 Orang di Tumbler Ridge
Penembakan massal di sekolah Kanada. - (Dok. reuters.com).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia internasional diguncang oleh salah satu tragedi penembakan paling mematikan di Kanada yang terjadi di Tumbler Ridge Secondary School, British Columbia.

Pelaku yang diidentifikasi sebagai Jesse Van Rootselaar (18) dilaporkan menewaskan delapan orang, termasuk enam anak-anak dan ibunya sendiri, sebelum akhirnya tewas di lokasi kejadian.

Polisi mengungkapkan bahwa pelaku memiliki riwayatmasalah kesehatan mental dan sebelumnya pernah mengalami penyitaan senjata api di rumahnya.

Simak kronologi lengkap dan fakta terbaru mengenai motif di balik penembakan tragis di Tumbler Ridge berikut ini.

Kronologi Kejadian

Pada Selasa siang, 10 Februari 2026, pelaku yang diidentifikasi sebagai Jesse Van Rootselaar (18 tahun) memulai aksinya di rumah pribadinya. Ia menembak mati ibunya, Jennifer Strang (39), dan adik tiri laki-lakinya yang berusia 11 tahun.

Setelah itu, pelaku menuju ke Tumbler Ridge Secondary School. Di sana, ia melepaskan tembakan di area perpustakaan sekolah yang menewaskan enam orang:

Polisi menerima laporan penembakan sekitar pukul 13:20 waktu setempat dan tiba di lokasi dalam dua menit. Pelaku ditemukan tewas di tempat kejadian, sehingga total korban jiwa menjadi sembilan orang.

Dua orang lainnya mengalami luka berat dan harus dievakuasi menggunakan helikopter ke rumah sakit.

Profil Pelaku dan Isu Kesehatan Mental

Pihak berwenang mengungkapkan beberapa fakta mengenai sosok Jesse Van Rootselaar:

  • Identitas Gender: Pelaku lahir sebagai laki-laki namun telah menjalani transisi menjadi perempuan selama enam tahun terakhir. Polisi mengidentifikasi pelaku sesuai identitas gender pilihannya.

  • Riwayat Mental: Polisi telah mengunjungi rumah pelaku berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir terkait laporan masalah kesehatan mental. Jesse bahkan pernah dibawa untuk menjalani pemeriksaan psikologis dan tindak lanjut medis.

  • Kepemilikan Senjata: Polisi pernah menyita senjata api dari rumah pelaku sebelumnya. Meskipun Jesse memiliki lisensi senjata yang sudah kedaluwarsa pada 2024, senjata yang digunakan dalam penembakan (senapan panjang dan pistol modifikasi) tidak terdaftar atas namanya.

  • Status Sekolah: Jesse bukan siswa aktif di sekolah tersebut karena sudah putus sekolah sekitar empat tahun yang lalu. Hingga saat ini, polisi belum menemukan motif pasti maupun indikasi adanya perundungan (bullying) terhadap pelaku.

Dampak pada Komunitas

Tumbler Ridge adalah kota terpencil dengan populasi hanya sekitar 2.400 jiwa. Wali Kota Darryl Krakowka menyebutkan bahwa karena kedekatan antarwarga, setiap korban bukan sekadar penduduk, melainkan sudah dianggap seperti keluarga.

Raja Charles III juga menyampaikan belasungkawa mendalam, menyatakan bahwa di kota sekecil itu, setiap nama anak yang menjadi korban pasti dikenal oleh seluruh tetangga.

Saat ini, warga Tumbler Ridge mulai meletakkan bunga dan mainan di depan sekolah sebagai bentuk penghormatan bagi para korban, sementara penyelidikan kepolisian masih terus berlanjut.

Tragedi di Tumbler Ridge ini meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi masyarakat Kanada, terutama bagi komunitas kecil yang saling mengenal satu sama lain.

Kini, fokus utama pihak berwenang selain melanjutkan penyelidikan adalah memberikan dukungan psikologis bagi para penyintas dan keluarga korban.

Semoga peristiwa memilukan di Tumbler Ridge Secondary School ini menjadi momentum penting untuk evaluasi kebijakan kesehatan mental dan pengawasan senjata api demi mencegah kejadian serupa di masa depan.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE