4 Negara dengan Sistem Pensiun Terbaik, Singapura Jadi Satu-Satunya Wakil Asia

Sistem pensiun terbaik tak hanya soal besarnya dana yang diterima, tetapi juga bagaimana negara menjamin kecukupan, keberlanjutan, dan perlindungan finansial masyarakat di masa tua.

4 Negara dengan Sistem Pensiun Terbaik, Singapura Jadi Satu-Satunya Wakil Asia
Negara yang memiliki sistem pensiun terbaik. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Memiliki tabungan yang cukup bukan satu-satunya faktor untuk menikmati masa pensiun dengan nyaman. Dukungan sistem pensiun yang disiapkan pemerintah juga menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap memiliki perlindungan finansial setelah berhenti bekerja.

Setiap negara memiliki cara berbeda dalam mengatur sistem pensiunnya. Ada yang mengandalkan kontribusi pekerja dan perusahaan, ada pula yang mengombinasikannya dengan program jaminan sosial serta tabungan pribadi.

Kualitas sistem pensiun biasanya tidak hanya dilihat dari besarnya uang yang diterima ketika seseorang berhenti bekerja. Keberlanjutan program, tata kelola, perlindungan peserta, serta kemampuan sistem menghadapi perubahan demografi juga menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Salah satu acuan yang dapat digunakan untuk melihat kualitas sistem tersebut adalah Mercer CFA Institute Global Pension Index 2025. Indeks ini membandingkan sistem pendapatan pensiun di 52 negara berdasarkan tiga aspek utama, yakni kecukupan manfaat, keberlanjutan, dan integritas.

Aspek kecukupan melihat apakah manfaat yang diterima pensiunan mampu menunjang kehidupan mereka. Sementara itu, keberlanjutan berkaitan dengan kemampuan sistem untuk tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang, sedangkan integritas menilai tata kelola dan perlindungan bagi para peserta.

Dari penilaian tersebut, sejumlah negara berhasil menunjukkan performa yang sangat kuat. Berikut empat negara yang dikenal memiliki sistem pensiun terbaik dan menarik untuk diketahui.

1. Belanda

Belanda menjadi salah satu negara dengan sistem pensiun yang dinilai kuat karena menggunakan beberapa sumber pendapatan setelah seseorang memasuki masa pensiun. Masyarakat tidak hanya mengandalkan dana yang dikumpulkan secara pribadi selama masa produktif.

Salah satu fondasinya adalah Algemene Ouderdomswet (AOW) atau skema pensiun negara. Program ini memberikan manfaat kepada masyarakat sehingga pendapatan saat pensiun tidak sepenuhnya bergantung pada tabungan pribadi.

Selain AOW, pekerja juga dapat memperoleh dana pensiun yang berasal dari pekerjaan. Kombinasi antara pensiun negara dan dana pensiun pekerjaan tersebut membantu memberikan sumber penghasilan setelah seseorang tidak lagi aktif bekerja.

Sistem berlapis seperti ini menjadi salah satu alasan Belanda memiliki perlindungan pensiun yang kuat. Masyarakat memiliki beberapa sumber dana yang dapat menopang kebutuhan ketika memasuki usia lanjut.

2. Islandia

Islandia juga memiliki sistem pensiun yang menggabungkan beberapa lapisan perlindungan finansial. Skemanya mencakup jaminan sosial dari pemerintah, dana pensiun melalui pekerjaan, serta tabungan pribadi yang sifatnya sukarela.

Salah satu komponen pentingnya adalah program pensiun pekerjaan yang bersifat wajib. Pekerja dan pekerja mandiri berusia 16 hingga 70 tahun diwajibkan memberikan kontribusi setidaknya 15,5 persen dari penghasilan ke dana pensiun.

Kontribusi tersebut berasal dari dua pihak, yakni pekerja dan pemberi kerja. Pekerja menyumbangkan sekitar 4 persen, sedangkan pemberi kerja memberikan kontribusi sekitar 11,5 persen.

Sistem tersebut diperkuat dengan tingginya partisipasi masyarakat Islandia dalam dunia kerja hingga usia yang relatif lanjut. Tingginya jumlah penduduk usia produktif yang tetap bekerja turut membantu menjaga keberlangsungan dana pensiun.

3. Denmark

Denmark juga termasuk negara yang memiliki sistem pensiun dengan perencanaan jangka panjang. Pemerintah tidak hanya memperhatikan manfaat yang diterima masyarakat, tetapi juga berupaya memastikan sistem tetap mampu berjalan ketika usia harapan hidup meningkat.

Salah satu caranya adalah menyesuaikan usia pensiun dengan perkembangan angka harapan hidup. Usia pensiun negara di Denmark secara bertahap mengalami peningkatan dan direncanakan mencapai 70 tahun pada 2040.

Kebijakan tersebut membuat masyarakat memiliki periode kerja yang lebih panjang sebelum menerima manfaat pensiun. Dengan tetap bekerja lebih lama, periode pembayaran kontribusi juga dapat diperpanjang sehingga membantu menjaga keberlanjutan sistem.

Denmark juga mempunyai ATP Livslang Pension, yaitu program yang memberikan manfaat pensiun seumur hidup. Hampir seluruh pekerja ikut berkontribusi dalam skema tersebut selama masa produktif mereka.

Ketika memasuki masa pensiun, masyarakat dapat memperoleh pendapatan dari beberapa sumber. Mulai dari pensiun negara, dana pensiun pekerjaan, hingga tabungan pribadi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

4. Singapura

Singapura menjadi negara Asia yang berhasil mencuri perhatian dalam penilaian sistem pensiun global. Negara tersebut menjadi negara Asia pertama yang memperoleh Grade A dalam Mercer CFA Institute Global Pension Index 2025.

Salah satu fondasi utama sistem pensiun Singapura adalah Central Provident Fund (CPF). Melalui program tersebut, pekerja dan perusahaan diwajibkan menyisihkan sebagian pendapatan selama masa kerja.

Untuk pekerja berusia 55 tahun ke bawah, total kontribusi CPF sejak Januari 2026 mencapai 37 persen dari upah bulanan. Besaran tersebut terdiri dari kontribusi pekerja sebesar 20 persen dan pemberi kerja sebesar 17 persen.

Menariknya, CPF tidak hanya dirancang untuk kebutuhan masa pensiun. Dana dalam sistem tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan penting lainnya, termasuk perumahan dan kesehatan.

Untuk memberikan penghasilan setelah memasuki usia lanjut, Singapura juga memiliki CPF LIFE. Program tersebut memberikan pembayaran bulanan seumur hidup kepada peserta sehingga membantu mengurangi risiko kehabisan tabungan ketika seseorang hidup lebih lama dari perkiraan.

Apa yang Membuat Sistem Pensiun Mereka Kuat?

Dari keempat negara tersebut, terlihat bahwa sistem pensiun yang kuat tidak hanya bergantung pada jumlah tabungan seseorang. Pemerintah, pekerja, dan pemberi kerja sama-sama memiliki peran dalam memastikan masyarakat memperoleh perlindungan finansial di masa tua.

Sistem yang menggabungkan beberapa sumber pendapatan juga dapat memberikan perlindungan yang lebih luas. Pensiun negara, kontribusi pekerjaan, dan tabungan pribadi menjadi kombinasi yang dapat membantu masyarakat menghadapi kebutuhan setelah berhenti bekerja.

Keberlanjutan juga menjadi faktor penting karena jumlah penduduk lanjut usia terus mengalami perubahan di berbagai negara. Karena itu, sistem pensiun perlu dirancang agar tetap mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Belanda, Islandia, Denmark, dan Singapura menunjukkan bahwa persiapan masa pensiun tidak hanya dilakukan oleh individu. Dukungan kebijakan negara dan kontribusi selama masa produktif turut menentukan seberapa kuat perlindungan finansial masyarakat ketika memasuki usia pensiun.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE