Langit Ditutup 40 Hari, China Bikin Dunia Penerbangan dan Militer Bertanya-Tanya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah China kembali menjadi sorotan setelah menetapkan zona larangan terbang di wilayah lepas pantainya dalam durasi yang tidak biasa. Selama 40 hari berturut-turut, Beijing mencadangkan sebagian ruang udara tanpa penjelasan resmi, memicu spekulasi di kalangan pengamat internasional.
Kebijakan tersebut diumumkan melalui Notice to Air Missions (NOTAM), yakni sistem peringatan bagi otoritas penerbangan terkait potensi bahaya atau pembatasan ruang udara. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, aturan ini berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026.
Durasi penutupan ini dinilai tidak lazim. Umumnya, pembatasan ruang udara untuk latihan militer hanya berlangsung beberapa hari. Namun kali ini, durasi panjang yang mencapai lebih dari satu bulan memunculkan tanda tanya besar terkait tujuan sebenarnya.
Ray Powell dari Stanford University menilai langkah tersebut mencerminkan kesiapan operasional yang berkelanjutan, bukan sekadar latihan biasa. Ia menyoroti kombinasi status ruang udara dari permukaan hingga ketinggian tak terbatas dengan durasi panjang yang jarang terjadi.
Wilayah yang dicadangkan pun tergolong luas. Data dari Federal Aviation Administration menunjukkan area tersebut bahkan melebihi ukuran pulau utama Taiwan. Zona itu mencakup kawasan lepas pantai di utara dan selatan Shanghai, membentang dari Laut Kuning hingga Laut China Timur yang berbatasan dengan Jepang.
Christopher Sharman dari US Naval War College menilai kawasan tersebut berpotensi digunakan untuk simulasi konflik. Menurutnya, ruang udara luas memungkinkan latihan manuver tempur yang kompleks, termasuk skenario perang udara.
Langkah ini muncul di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin memanas. Aktivitas militer China di sekitar Taiwan sebelumnya sempat berlangsung hampir setiap hari, sebelum akhirnya mengalami jeda. Di sisi lain, perhatian Amerika Serikat tengah tersedot ke konflik di Timur Tengah.
Seorang pejabat keamanan Taiwan menilai situasi ini dimanfaatkan Beijing untuk meningkatkan tekanan di kawasan Indo-Pasifik. Bahkan, penetapan zona larangan terbang disebut-sebut juga menjadi sinyal terhadap Jepang sebagai sekutu utama AS.
Ketegangan regional memang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Jepang diketahui mulai mengerahkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan China. Sementara itu, delegasi Kongres AS juga melakukan kunjungan ke Taiwan guna mendorong peningkatan anggaran pertahanan.
Meski demikian, tidak semua pihak melihat langkah ini sebagai tanda eskalasi langsung. Ben Lewis dari organisasi PLATracker menyebut China sebenarnya sudah beberapa kali mengeluarkan NOTAM serupa dalam 18 bulan terakhir, meski biasanya hanya berlangsung singkat.
Menurutnya, durasi yang lebih panjang kali ini bisa jadi bertujuan memberikan fleksibilitas jadwal latihan militer musim semi. Selain itu, agenda diplomatik yang akan datang turut menjadi pertimbangan.
Dalam waktu dekat, Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Di saat yang sama, tokoh oposisi Taiwan juga berencana melakukan kunjungan ke Beijing.
Kombinasi antara aktivitas militer dan agenda diplomatik ini membuat situasi semakin kompleks. Untuk saat ini, dunia masih menunggu penjelasan resmi dari pemerintah China terkait alasan di balik penutupan ruang udara yang tidak biasa tersebut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!