Apa Itu Homeless Media? Istilah yang Ramai Usai Disebut Muhammad Qodari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Istilah homeless media mendadak ramai dibicarakan publik setelah disinggung oleh Muhammad Qodari dalam pernyataan resminya sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah pada Rabu (6/5).
Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga X. Banyak warganet mulai mempertanyakan model media digital yang selama ini mereka konsumsi setiap hari.
Secara sederhana, homeless media merujuk pada media yang tidak memiliki "rumah" utama berupa situs web resmi atau portal berita mandiri. Distribusi kontennya sepenuhnya bergantung pada media sosial dan platform digital.
Konsep ini sebenarnya bukan istilah baru. Dalam studi komunikasi digital, homeless media sudah dikenal sejak beberapa tahun lalu untuk menggambarkan entitas media yang aktif memproduksi informasi tanpa bergantung pada website konvensional.
Istilah tersebut disebut pertama kali diperkenalkan oleh Kennedy pada 2017. Model media ini berkembang pesat bersamaan dengan meningkatnya popularitas media baru atau new media.
Berbeda dengan media arus utama, homeless media biasanya hadir dalam format konten singkat, cepat, dan menyesuaikan algoritma platform digital. Kontennya banyak ditemukan dalam bentuk video pendek, carousel Instagram, unggahan X, hingga konten informatif di TikTok dan YouTube.
Karena dekat dengan tren internet dan gaya komunikasi santai, media jenis ini juga dianggap lebih mudah diterima generasi muda, khususnya Generasi Z.
Selain itu, homeless media sering kali memiliki struktur yang lebih fleksibel. Publik terkadang tidak mengetahui secara jelas siapa tim redaksi atau pemilik akun di balik media tersebut. Hal inilah yang membuat model operasionalnya berbeda dibanding media konvensional yang memiliki struktur perusahaan dan sistem editorial formal.
Di sisi lain, kehadiran homeless media juga dianggap menjadi bagian dari demokratisasi informasi di era digital. Siapa pun kini bisa menyebarkan informasi dan membangun audiens tanpa harus memiliki perusahaan media besar.
Dalam sejumlah kajian komunikasi digital, media jenis ini dinilai mampu meningkatkan interaksi publik karena audiens lebih aktif berdiskusi melalui kolom komentar maupun fitur interaktif media sosial.
Kecepatan distribusi juga menjadi keunggulan utama homeless media. Sebuah konten dapat menjangkau jutaan pengguna hanya dalam waktu singkat berkat dukungan algoritma platform digital.
Namun, di balik pertumbuhannya, homeless media juga menghadapi tantangan besar soal kredibilitas informasi. Minimnya proses editorial dan verifikasi membuat model media ini kerap dikritik karena berpotensi menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi atau sekadar mengejar viralitas.
Pakar komunikasi juga menyoroti risiko hoaks, potongan informasi yang menyesatkan, hingga kurangnya transparansi sumber berita dalam beberapa akun media digital.
Meski begitu, tren konsumsi informasi masyarakat yang kini semakin menyukai video singkat dan bahasa ringan membuat homeless media diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!