Bayern Munich Ngamuk usai Tersingkir dari Liga Champions, Wasit Disebut Bikin Keputusan Aneh
JAKARTA, GENVOICE.ID - Bayern Munich meluapkan kekecewaan besar setelah gagal melaju ke final Liga Champions 2025/2026 usai disingkirkan Paris Saint-Germain. Klub raksasa Jerman itu menilai sejumlah keputusan wasit João Pinheiro menjadi faktor penting dalam hasil semifinal yang berakhir dengan agregat 6-5 untuk PSG.
Atmosfer panas sudah terasa sejak leg kedua berlangsung. Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 tersebut diwarnai protes berkali-kali dari pemain Bayern kepada perangkat pertandingan. Setelah laga usai, kritik tajam pun bermunculan dari kubu Die Roten.
Pelatih Bayern, Vincent Kompany, menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik kepemimpinan wasit. Menurutnya, terlalu banyak keputusan yang merugikan timnya sepanjang dua leg semifinal.
"Kami memang harus melihat keputusan wasit dalam dua pertandingan ini. Itu bukan satu-satunya alasan, tetapi jelas berpengaruh," ujar Kompany usai pertandingan.
Mantan bek Manchester City tersebut secara khusus menyoroti insiden handball João Neves di kotak penalti PSG yang tidak dianggap pelanggaran. Dalam pandangannya, keputusan itu sulit diterima.
Kompany menilai tangan Neves berada dalam posisi aktif ketika bola mengenainya. Meski VAR dan wasit menganggap situasi tersebut bukan penalti karena bola datang dari rekan setim sendiri, ia menyebut keputusan itu tidak masuk akal.
"Itu benar-benar omong kosong," kata Kompany dengan nada kesal. "Pertandingan seperti ini ditentukan oleh detail kecil dan satu gol saja."
Kemarahan Bayern tidak berhenti di situ. Mereka juga memprotes keputusan wasit yang tidak memberikan kartu kuning kedua kepada Nuno Mendes. Bek PSG tersebut sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning ketika terjadi insiden handball lain yang membuat pemain Bayern meminta pengusiran.
Namun, wasit justru meniup peluit setelah mendapat masukan dari ofisial keempat yang menganggap Konrad Laimer lebih dulu melakukan handball. Rekaman tayangan ulang kemudian memicu perdebatan karena banyak pihak menilai Laimer tidak menyentuh bola dengan tangan.
Laimer sendiri mengaku bingung mengapa wasit keempat ikut campur dalam keputusan penting tersebut. Pernyataannya bahkan didukung legenda Bayern, Michael Ballack.
Ballack menyebut situasi itu sangat aneh karena jarang terjadi seorang wasit keempat mengambil peran besar dalam keputusan di lapangan. Ia juga menyinggung kemungkinan perangkat pertandingan enggan memberikan kartu kuning kedua kepada Mendes.
"Saya tidak bermaksud menyindir, tetapi situasinya terasa sangat aneh," ujar Ballack.
Direktur olahraga Bayern, Max Eberl, ikut mempertanyakan interpretasi aturan handball yang digunakan dalam pertandingan itu. Menurutnya, keputusan-keputusan tersebut sulit dipahami jika melihat tayangan ulang.
Sementara itu, CEO Bayern Jan-Christian Dreesen juga menyoroti pengalaman João Pinheiro yang dianggap belum cukup untuk memimpin pertandingan semifinal Liga Champions dengan tensi tinggi.
Ia menyebut fakta bahwa sang wasit baru memiliki belasan pertandingan Liga Champions menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan untuk laga sebesar semifinal kompetisi elite Eropa.
Di tengah kontroversi tersebut, PSG tetap berhasil mengamankan tiket final dan menjaga peluang meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!